<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568</id><updated>2012-02-08T08:25:16.703+07:00</updated><category term='ISL'/><category term='APBD'/><category term='LPI'/><category term='Kajian Sosial'/><category term='PSSI'/><category term='Suporter'/><title type='text'>Bangun Suporter</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>30</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-8795893005559949334</id><published>2011-02-02T14:32:00.004+07:00</published><updated>2011-10-17T11:27:17.648+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PSSI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ISL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LPI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='APBD'/><title type='text'>APBD dan Mentalitas Korup</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Liga Primer Indonesia (LPI) nyata bergulir, bahkan sudah tiga pekan berjalan. Kompetisi yang oleh pengurus PSSI dianggap liar dan illegal ini sukses merubah pikiran tiga klub peserta ISL untuk bergabung. Bahkan konon saat ini ada beberapa klub ISL lain yang mengantri untuk ikut bergabung. Kita tentunya penasaran “gula-gula” apakah yang ditawarkan LPI sehingga membuat klub-klub itu pindah jalur ke kompetisi bertagline &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Change the Game&lt;/span&gt; ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tawaran konsep kompetisi yang lebih jujur (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;fair&lt;/span&gt;) tanpa gangguan faktor non-teknis, LPI juga bervisi profesionalisme dan kemandirian sepak bola Indonesia. Dua hal tersebut menunjukkan bahwa ide kompetisi ini adalah menjadi anti-tesis dari kompetisi yang telah ada sebelumnya, Kompetisi yang dikelola oleh otoritas tertinggi sepak bola tanah air. Kompetisi yang seakan krisis kredibilitas dan penuh ketergantungan pada uang rakyat (APBD) untuk pembiayaan klub-klub pesertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merekrut pemain dan pelatih berkualitas nan berharga mahal untuk kemudian menjadikannya satu kesatuan tim yang solid dan berpenampilan bagus namun pada akhirnya hanya untuk “dikalahkan” oleh berbagai faktor non-teknis, telak-telak menampar rasa keadilan. Sebab ongkos untuk semua itu diambilkan dari uang rakyat. Belum lagi adanya indikasi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mark-up&lt;/span&gt; anggaran pada beberapa transfer pemain, makin menguatkan tuntutan penghentian penggunaan APBD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, penggunaan dana APBD oleh klub sepak bola merupakan salah satu polemik yang membelenggu sepak bola nasional. Berbagai aturan kemudian dibuat untuk tujuan melarang penggunaan APBD oleh klub-klub sepakbola. Namun pelarangan itu gagal memberi solusi bahkan yang terjadi kemudian adalah klub makin liar dalam menjarahrayah APBD-nya. Aturan-aturan seperti Permendagri Nomor 13/2006 yang kemudian perubahannya pada Permendagri Nomor 59/2007 dan yang terakhir Permendagri No.59/2010 yang dikeluarkan oleh tiga sosok yang berbeda lebih seperti aturan yang saling menganulir. Semua terkesan reaktif dan dipaksakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari dilarang atau tidaknya APBD, ada hal penting lainnya yang luput dari perhatian kita, yakni soal akuntabilitas dan transparansi keuangan. Dengan akuntabilitas dan transparansi keuangan klub maka bisa didapatkan data rata-rata kebutuhan dana setiap klub per musim. Sekaligus membuka kesempatan bagi klub dengan dana yang beranggaran kecil membuat kejutan prestasi. Akuntabilitas dan transparansi keuangan memungkinkan pihak lain terutama suporternya mengerti kondisi klubnya. Sekaligus bahan untuk menilai kinerja direksi dan manajemen suatu klub. Maka, APBD atau subsidi model LPI adalah sama saja. Yang penting adalah akuntabilitas dan transparansi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-8795893005559949334?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/8795893005559949334/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=8795893005559949334&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/8795893005559949334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/8795893005559949334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2011/02/apbd-dan-mentalitas-korup.html' title='APBD dan Mentalitas Korup'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-5716236553927423663</id><published>2010-12-31T08:09:00.021+07:00</published><updated>2011-10-20T20:03:40.820+07:00</updated><title type='text'>Mata Kenangan Sepak bola Nasional 2010</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-He34nX7QY-8/TqAcAPjUZyI/AAAAAAAAAbE/1RIb3zA4p5Y/s1600/Hendry+Mulyadi+489.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-He34nX7QY-8/TqAcAPjUZyI/AAAAAAAAAbE/1RIb3zA4p5Y/s1600/Hendry+Mulyadi+489.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Man of The Moment Indonesia vs Oman: Hendry Mulyadi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Januari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;6, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;streaker&lt;/span&gt; menyelusup pada pertandingan kualifikasi Piala Asia antara tim Nasional Indonesia vs. Oman di Stadion gelora Bung Karno. Penonton yang bernama Hendry Mulyadi masuk ke lapangan saat pertandingan menjelang akhir, sempat menggiring bola hampir separuh lapangan hingga situasi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;one on one&lt;/span&gt; dengan Kiper Ali Al-Habsi. Pada pertandingan tersebut timnas kalah dengan skor 1-2 sekaligus memastikan kegagalan lolos ke Piala Asia 2011.&lt;br /&gt;15 - 17, Kongres tahunan PSSI di Hotel Grand Hyatt Bandung, hanya menghasilkan keputusan fokus pembinaan pada usia dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Februari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;19, &lt;span id="divAdnetKeyword"&gt;Indonesia secara resmi dinyatakan tidak lolos tahap selanjutnya oleh FIFA pada proses &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bidding&lt;/span&gt; Piala Dunia 2022, &lt;/span&gt;dengan dasar alasan &lt;span id="divAdnetKeyword"&gt;bahwa &lt;/span&gt;&lt;span id="divAdnetKeyword"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span id="divAdnetKeyword"&gt; gagal mengirim sejumlah dokumen jaminan sampai batas waktu yang ditentukan.&lt;/span&gt;&lt;span id="divAdnetKeyword"&gt; Pengumuman itu  disampaikan langsung sekretaris jenderal FIFA Jerome Valcke.&lt;/span&gt; &lt;span id="divAdnetKeyword"&gt; &lt;/span&gt;Kelak yang akan mendapatkan kesempatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 adalah Qatar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Maret&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;30 - 31, Kongres Sepak bola Nasional (KSN) di Hotel Santika Malang. KSN yang dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini diadakan bermula dari keprihatinan dengan prestasi tim sepakbola nasional yang semakin terpuruk. Beberapa unsur yang datang ke hajatan ini KONI, Kemenegpora, KPK, Kejagung dan ICW. Penyelenggaraan menghabiskan dana 3 milyar. Dari sini pula sepak bola mulai dikisruhi dengan persaingan politik. Menghasilkan tujuh butir rekomendasi.&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;PSSI perlu segera melakukan reformasi dan restrukturisasi atas dasar usul, saran dan kritik serta harapan masyarakat, dan mengambil langkah-langkah kongkret sesuai aturan yang berlaku untuk mencapai prestasi yang diharapkan masyarakat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perlu adanya pembangunan dan peningkatan infrastruktur olahraga khususnya sepakbola.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;PSSI perlu meningkatkan komunikasi, koordinasi dan sinkronisasi dengan seluruh s&lt;span style="font-style: italic;"&gt;take holder&lt;/span&gt; terutama KONI dan pemerintah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dilakukan pembinaan sejak usia dini melalui penangan secara khusus melalui pendekatan IPTEK, dengan melibatkan tim yang terdiri dari dokter, psikolog, pemandu bakat, dan pakar olahraga, dan perlu segera disusun kurikulum standar nasional untuk penyelenggaraan Sekolah Sepakbola, PPLP dan PPLM sepakbola&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Metode pembinaan atlet pelajar/muda agar juga memperhatikan pendidikan formalnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemerintah menyediakan anggaran dari APBN dan APBD untuk mendukung dan menunjang target dan pencapaian sasaran untuk menuju prestasi (karena dana APBD masih diperlukan untuk stimulan).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perlu segera disusun dan dilaksanakan program pembinaan prestasi yang fokus kepada pembentukan tim nasional untuk menjadi juara dalam SEA Games 2011.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;April&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;14, Piala Indonesia 2010 dimulai. Sebelumnya, ajang ini bernama Copa Indonesia. Peserta  Piala Indonesia adalah 18 klub Indonesia Super League, 12 klub Divisi  Utama dan dua klub Divisi Satu.&lt;br /&gt;21, Sidang ke-19 Komisi Disiplin PSSI. Menghasilkan 46 keputusan, dengan nilai total denda sebesar Rp1.030.000.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mei &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;4, Alfred Riedl menjadi pelatih tim Nasional menggantikan posisi Benny Dollo.&lt;br /&gt;26, Arema Indonesia memastikan diri sebagai juara liga Indonesia 2009/10 setelah menahan PSPS Pekanbaru di pekan 33. Di akhir kompetisi, tim asuhan Robert Rene Albert mengumpulkan total 73 poin dengan rincian 23 kali kemenangan, 4 seri dan 7 kali kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Juni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Juli&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Agustus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1, Final Piala Indonesia 2010, Sriwijaya FC mengalahkan Arema Indonesia dengan skor 2-1 di Stadion Manahan Solo. Ini sekaligus &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hattrick&lt;/span&gt; juara bagi Sriwijaya FC. Pertandingan babak kedua sempat tertunda sekitar satu jam. Kapolda Jawa Tengah Irjen (Pol) Alex Bambang Riatmodjo meminta wasit Jimmy Napitupulu diganti. Ia menilai wasit tidak adil dalam memimpin pertandingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;September&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;17, Acara silaturahmi antara 20 klub sepakbola nasional bersama Gerakan Reformasi Sepakbola Nasional Indonesia (GRSNI) di Graha Jenggala, Jakarta melahirkan sebuah deklarasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oktober&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;8, Pertandingan persahabatan dengan semifinalis Piala Dunia 2010, Uruguay. Sempat unggul lewat Boaz Solossa namun akhirnya kalah 1 - 7. Teriakan "Nurdin turun" pun kemudian bergema keras di dalam Stadion GBK.&lt;br /&gt;24, Liga Primer Indonesia (LPI) dideklarasikan di Semarang. Ada 17 klub sepakbola profesional yang menyatakan kemauan mereka akan sebuah perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;November&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;3, Sejarah awal naturalisasi pemain sepak bola di Indonesia. Christian Gonzales resmi menjadi Warga Negara Indonesia setelah mendapatkan passport bernomor W149516 yang dikeluarkan Imigrasi Kelas I Jawa Barat.  Maka topskorer Liga Indonesia empat kali ini dapat bermain untuk tim nasional Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Desember&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1, Piala AFF dimulai. Malaysia menjadi lawan pertama dan terakhir timnas Indonesia. Setelah kekalahan besar di awal turnamen, Malaysia bangkit dan menjadi juara baru. Pada penyelenggaraan kali ini, Filipina membuat langkah besar dengan lolos ke semifinal. Ditandai juga dengan munculnya fenomena pemberitaan yang massif dari media elektronik dan cetak pada timnas, politisasi timnas dan kisruh tiket pertandingan. Makin menguatnya tuntutan mundur pada Nurdin yang diinisiasi oleh berbagai elemen suporter dalam berbagai wujud selama turnamen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;@dari berbagai sumber&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-5716236553927423663?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/5716236553927423663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=5716236553927423663&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/5716236553927423663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/5716236553927423663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2010/12/mata-kenangan-sepak-bola-nasional-2010.html' title='Mata Kenangan Sepak bola Nasional 2010'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-He34nX7QY-8/TqAcAPjUZyI/AAAAAAAAAbE/1RIb3zA4p5Y/s72-c/Hendry+Mulyadi+489.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-436560090896496500</id><published>2010-12-27T12:55:00.021+07:00</published><updated>2011-10-20T20:18:21.564+07:00</updated><title type='text'>Nurdin Turun! Revolusi PSSI!</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-46AEk4PPeCU/TqAfRMwJg0I/AAAAAAAAAbk/b-aF5GDy43Q/s1600/tiketminggu+489.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-46AEk4PPeCU/TqAfRMwJg0I/AAAAAAAAAbk/b-aF5GDy43Q/s1600/tiketminggu+489.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Antrian yang berubah chaos&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;Kekalahan selalu memberi efek melemahkan bagi pihak-pihak yang mengalami, salah satu nya adalah saya sebagai suporter. Segala-galanya menjadi tidak normal dan agak tidak terkendali. Salah satunya urusan tidur meski purna pertandingan tim nasional terhitung belum begitu malam masih cukup waktu untuk menghilangkan galau. Sayangnya usaha yang sia-sia, kantuk seperti enggan menghampiri dan biasanya kalau seperti ini sanggup tahan melek hingga siang kembali datang. Namun justru ada hikmah yang hadir dari situasi seperti itu. Tubuh dan pikiran yang masih terjaga meminta penyaluran. Kebetulan ada tulisan yang mangkrak yang awalnya mau dibagi dengan teman suporter. Yak dimulai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jumat sore itu setelah lepas dari kantuk yang biasa menyengat, datang pesan pendek yang dikirimkan oleh teman saya, Ahmad Syakib. Dia mengabarkan bahwa pertemuan dengan Zen Rahmat Sugito yang sedianya akan dilakukan malam itu ditunda dulu. Tentu saja ada sedikit perasaan kecewa karena pada dasarnya saya menginginkan pertemuan dan perkenalan dengan Zen yang oleh Syakib diceritakan mempunyai pengetahuan yang banyak tentang buku, seorang suporter tim nasional Indonesia yang banyak menulis. Beberapa tulisannya sudah saya baca, baik yang ada di blognya atau tersebar di berbagai situs lainnya. Sungguh tulisan-tulisan yang apik, sungguh orang yang ingin saya temui. Namun kemudian muncul perasaan prihatin demi mendapati kabar lanjutan bahwa sebab tertundanya pertemuan ini karena Zen mesti mendampingi temannya, Iqbal Prakara, ke kantor polisi. Menurut informasi Syakib dan Arista Budiyono, Iqbal dianiaya satgas PSSI setelah memprotes sistem penjualan tiket. Ironisnya, selain dianiaya dia juga diteriaki calo oleh para preman Nurdin tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kenyataan yang tak bisa dibantah bahwa sistem penjualan tiket untuk final leg kedua memang kisruh, sangat amburadul. Metode baru yang diterapkan LOC gagal membawa perbaikan. Alih-alih calon pembeli nyaman dan mudah yang kemudian terjadi adalah semakin ribet dan menyiksa. Antrean semakin mengular memanjang, namun animo besar masyarakat ini pada akhirnya lebih banyak berujung pada kekecewaan dan kemarahan. Akibat bebal permanen, PSSI tak menggubris saran Polda Metro Jaya agar penjualan tiket final disebar di beberapa wilayah. Ini dimaksudkan untuk mengurangi potensi kerusuhan dibanding jika penjualan dilakukan di satu titik. Puluhan ribu tiket yang masih berwujud kupon tersebut lenyap begitu cepat sebelum separuh antrean terlayani. Pengumuman panitia juga tidak menjangkau mayoritas pengantri karena ketiadaan pengeras suara. Wajar para pengantri tiket lalu marah dan mulai merusak. Mereka berada dalam situasi kerumunan (crowd) dan dikecewakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meminjam sebuah teori dari Gustave Le Bon, filsuf Prancis, ketika seseorang berada di tengah kerumunan maka nalar dan akal sehatnya akan berada di bawah rata-rata kondisi normal. Ini artinya, ketika berada di tengah kerumunan orang banyak, seseorang mengalami deindividuasi yaitu menyusutnya kesadaran diri yang selanjutnya mengurangi kendali-diri (self-restraint) seseorang sehingga akan sangat mudah untuk dipengaruhi dan terpancing untuk bertindak di luar kemauannya sendiri alias spontan. Dalam kondisi seperti ini, mobilisasi dan komando dari seseorang dalam situasi kerumunan akan sangat mudah diikuti massa. Para anggota dewan yang katanya terhormat saja bisa chaos kalau sedang berkerumun. Nah, apalagi para pengantri tiket ini yang dalam keadaan lelah, lapar dan frustasi. Hal-hal bodoh seperti merobek bendera Merah-putih, dan merusak fasilitas stadion menjadi seakan benar dalam pandangan mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selama beberapa hari kita disuguhi pemandangan kisruh ini. Sedang antrian dari hari ke hari semakin panjang. Yang gagal mendapat tiket kategori sebelumnya akan ikut mengantri lagi, berjuang mendapatkan tiket. Korban pun akhirnya berjatuhan. Ini adalah dampak dari aktivitas mengantri yang berjam-jam lamanya dalam kondisi lapar haus, kehujanan, kepanasan, desak-desakkan dan tawuran. Belum lagi yang datang dari luar kota. Seorang teman bahkan memulai antrian untuk tiket kategori 3 hari minggu sejak hari sabtu sore alias kurang lebih 20 jam mengantri!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak usah heran dengan fenomena seperti ini. Pemikir Inggris yang masyhur bernama Sir Aldous Huxley, pernah meramalkan bahwa yang menindas masyarakat dunia bukan para penguasa lalim melainkan hasrat terhadap hiburan, orang modern terpenjara dan tenggelam dalam hasratnya untuk menghibur diri. Kini, seiring perubahan sosial yang begitu cepat sepak bola adalah sebuah bentuk pertunjukan sebagai wahana untuk melayani hasrat yang terus bertambah tanpa batas tersebut dan untuk memenuhi rasa haus terhadap ritus sosial yaitu ritus kepuasan yang tidak dapat dilakukan sendirian. Sepak bola adalah agama, a neo-religious form of devotion.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak penonton datang ke stadion tidak sekadar untuk menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola semata tetapi datang untuk mengalami event; untuk ambil bagian dalam sebuah kejadian kolektif. Ketika suporter hadir mengikuti jalannya pertandingan tidak hanya untuk melihat bola bergulir dari kaki ke kaki, tetapi mereka melihat wujud kompetisi dan konflik antara dua tim dengan hasrat yang besar akan kemenangan dan kehormatan. Pada dasarnya mereka melihat sebuah perjuangan, sebuah kejadian layaknya drama yang kadang heroik, tragis sekaligus dramatis. Akhir pertandingan tidak hanya berisi derai tawa tetapi juga cucuran air mata dari penonton dan suporternya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekarang, kita sudah dibuat menderita untuk sekadar bisa ambil bagian dalam ritus akbar. Sedang selama ini kita pun sudah dibuat tak leluasa menikmati saat mendapatkan kesempatan itu. Hak-hak kita berekspresi dan memberikan dukungan dalam wujud spanduk dan poster dilarang. Selama penyelenggaraan, sejumlah orang telah direkrut dengan tugas menyapu segala spanduk dan poster milik para penonton apapun isinya. PSSI dan panitia tak hanya gagal memfasilitasi dengan baik sebuah ritus akbar para pemuja sepak bola tetapi juga merusak acaranya. Ini adalah kegagalan yang semakin menyempurnakan kesalahan dan ketidakbecusan PSSI rezim Nurdin. Niccolò Machiavelli pernah berujar bahwa tiada hal yang lebih sulit dilaksanakan, lebih sukar dijamin keberhasilannya, lebih berbahaya untuk ditangani ketimbang memulai tatanan baru. Menurunkan Nurdin dan merevolusi PSSI memang terbukti sebuah jalan terjal tapi bukannya tidak bisa dilalui. Sudah banyak yang merintis dan membuka jalan. Pun sangat banyak yang konsisten meniti jalan ini. Sekarang semua berpulang pada kita, layaknya di sebuah ajang pertandingan, hendak menjadi penonton belaka atau menjadi suporter?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ah sial! Ternyata hari sudah siang, sore malah. Tidur yang panjang dan mimpi pula. Namun Nurdin turun dan revolusi PSSI yakinlah bukan sekadar mimpi. Saya kicaukan kembali mantra dari Napoleon Hill, "You can do it if you believe you can!"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;image courtesy to Naif Al'as (@naivee)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-436560090896496500?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/436560090896496500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=436560090896496500&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/436560090896496500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/436560090896496500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2010/12/nurdin-turun-revolusi-pssi.html' title='Nurdin Turun! Revolusi PSSI!'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-46AEk4PPeCU/TqAfRMwJg0I/AAAAAAAAAbk/b-aF5GDy43Q/s72-c/tiketminggu+489.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-6428342657386882541</id><published>2010-10-20T08:58:00.013+07:00</published><updated>2011-10-20T20:22:43.795+07:00</updated><title type='text'>Milestone</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-ScL2DJ2elgU/TqAgbv7DJ8I/AAAAAAAAAbs/sL20RK0IPlY/s1600/milestone+489.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-ScL2DJ2elgU/TqAgbv7DJ8I/AAAAAAAAAbs/sL20RK0IPlY/s1600/milestone+489.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Milestone, pengunjung ke-1000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Angka di &lt;i&gt;stat counter&lt;/i&gt; menunjukkan susunan angka berderet lima. Sahabat saya, Prasetyo Budi Mulyo, ternyata telah meluangkan waktunya pada hari minggu (17/10/2010) untuk menjadi pengunjung ke-10.000 dan lalu mengabadikannya dalam wujud gambar seperti diatas. Selain capaian 10.000 pengunjung, hal lainnya adalah genap empat tahun usia blog Bangun Suporter ini pada tanggal 16 September 2010. Bagi saya ini adalah &lt;i&gt;milestone&lt;/i&gt;. Meski terkesan dangkal sebab baru sebatas pencapaian usia dan kunjungan bukan sesuatu atau prestasi hebat lainnya. Namun ini tetaplah suatu momentum emas sekaligus kesempatan baik untuk melakukan aktivitas retrospeksi dan introspeksi.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nah, mari sejenak retrospeksi atau menengok ke belakang. Awal dibuatnya blog ini bukanlah lahir dari nalar idealism akan tetapi lebih disebabkan oleh dua hal, yaitu latah oleh tren dan provokasi seorang teman yang sudah menjadi tokoh suporter, Bambang Haryanto. Sesungguhnya, saya masuk golongan orang yang kurang tanggap akan tren yang sedang terjadi di masyarakat. Geliat &lt;i&gt;blogging&lt;/i&gt; sebenarnya sudah jauh sebelum saat saya memulainya. Agenda menyelesaikan studi dan setelahnya lalu asyik masyuk dengan kegiatan wirausaha makin menjauhkan diri dari kehidupan dunia maya. Tetapi aktivitas &lt;i&gt;blogging&lt;/i&gt; yang “menawarkan” pembelajaran dan lecutan semangat dari mas Bambang memang terlalu bagus untuk diabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski latah dan bukan inisiatif sendiri, blog yang nantinya akan dibuat mestilah memiliki manfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Bisa memberikan sumbangsih bagi orang lain meski itu sedikit. Saat memulainya, harapannya adalah blog ini menjadi hilir bagi upaya pencarian yang lebih serius dalam memahami permasalahan yang ada di sepakbola nasional, khususnya perilaku suporter yang marah. Sebagai media untuk bertukar ide dan menelurkan solusi yang sehat. Apa lacur, kenyataan tak seperti harapan. Tak banyak tulisan yang diunggah alias kurang produktif. Dan pada akhirnya belum menjadi media yang ideal untuk berdiskusi apalagi untuk menghasilkan sebuah masukan yang berarti. Blog ini baru sebatas media belajar menulis bagi pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas faktor eksternal yang cukup punya pengaruh besar pada sebagian besar situasi rumpang dari blog. Namun keteguhan hati yang kurang dan fokus yang ala kadarnya tetaplah biang dari sedikit lahirnya karya. Dengan momentum 10.000 pengunjung dan usia empat tahun, menyalakan lagi gairah berkarya dan berpartisipasi pada pembangunan suporter khususnya dan sepakbola nasional umumnya. Ada beberapa ide sederhana yang ingin diwujudkan. Yakni, suporter atau lebih umum lagi penikmat sepakbola perlu disegarkan dengan informasi dan pengetahuan, terutama yang tidak banyak diangkat oleh media kebanyakan. Mengangkat tema-tema sejarah klub, mantan pemain, mantan manajer, tokoh masa lalu dan peristiwa yang berguna menambah informasi, syukur-syukur bisa memberikan hikmah sekaligus penyadaran. Tapi diatas semua itu, semoga selalu terjaga stamina psikologis dan deposito moral sehingga bisa konsekuan dengan rencana-rencananya. Amin&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-6428342657386882541?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/6428342657386882541/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=6428342657386882541&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/6428342657386882541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/6428342657386882541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2010/10/milestone.html' title='Milestone'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-ScL2DJ2elgU/TqAgbv7DJ8I/AAAAAAAAAbs/sL20RK0IPlY/s72-c/milestone+489.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-8525970492923063735</id><published>2010-07-15T15:57:00.010+07:00</published><updated>2011-10-20T20:27:22.526+07:00</updated><title type='text'>Ellis Park</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-rn0wMaHiT3M/TqAhTpwDzLI/AAAAAAAAAb0/D2U9xUya2I8/s1600/ellis-park-stadium+489.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-rn0wMaHiT3M/TqAhTpwDzLI/AAAAAAAAAb0/D2U9xUya2I8/s1600/ellis-park-stadium+489.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ellis Park Stadium, Afrika Selatan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tulisan ini dimuat di Tabloid Bola edisi Senin 19 Juli 2010, kolom Feature hlm 12&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, &lt;/span&gt;dengan judul&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Hikmah Lukisan Afrika Selatan&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika diumpamakan lukisan, Piala Dunia 2010 seperti baru saja memulaskan warna terakhirnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;La Furia Roja&lt;/span&gt; Spanyol dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oranje&lt;/span&gt; Belanda adalah salah satu warna dominan pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;the greatest show on earth&lt;/span&gt; kali ini. Orientasi pada kemenangan dan ikhtiar bermain cantik telah membawa mereka ke stadion Soccer City, Johannesburg. Di Final pertamanya, Spanyol akhirnya menjadi juara baru. Negara pertama dari benua Eropa  yang juara di luar benuanya. Setelah drama lapangan hijau berdurasi 120 menit lebih berlalu, terlihatlah wajah-wajah cerah Iker Casillas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cum suis&lt;/span&gt;. Kegembiraan massif juga meledak di Madrid dan kota-kota lain di seluruh dunia juga di Indonesia, maka sebuah selebrasi global sedang terjadi. Arjun Appadurai dalam bukunya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Modernity at Large: Cultural Dimension of Globalization&lt;/span&gt;, menjelaskan fenomena selebrasi transnasional ini disebut&lt;span style="font-style: italic;"&gt; ideoscapes&lt;/span&gt;. Salah satu dari lima arus global yaitu dimensi interkoneksi yang menembus ruang dan waktu dalam hal etnis, teknologi, keuangan, media, dan ideologi. Pesta pun tak sungkan digelar di Catalonia, wilayah yang getol ingin memisahkan diri dari Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Sedikit ironi terjadi. Spanyol dengan pengaruh kuat Barcelona memainkan sepakbola &lt;span style="font-style: italic;"&gt;total football&lt;/span&gt; untuk mengalahkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;founder total Football&lt;/span&gt; Belanda. Keyakinan para punggawa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;de oranje&lt;/span&gt; bahwa permainan indah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;totaal voetbal&lt;/span&gt; tidak akan pernah membawa mereka menjadi Juara dunia berbuah menjadi kenyataan. Bukan karena mereka memainkannya seperti saat Final 1974 dan 1978 justru karena mereka sengaja memilih untuk menanggalkannya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Totaal voetbal&lt;/span&gt; sebagai salah satu varian sepakbola indah tak lagi dianggap oleh Bert van Marwijk. Menurutnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;totaal voetbal&lt;/span&gt; sudah usang, tidak lagi relevan diterapkan saat ini. Arjen Robben pun dengan tegas mengamininya. Kini, semua terjawab sudah. Permainan indah ala &lt;span style="font-style: italic;"&gt;total football&lt;/span&gt; telah memupus mimpi Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piala Dunia 2010 pun resmi berakhir. Selama sebulan kita sudah disuguhi pertandingan-pertandingan dengan beragam hasil. Apa yang coba direka di atas kertas kerap berbeda dengan yang ada di atas lapangan. Kejutan dan kontroversi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari suatu kompetisi. Tersisihnya para juara dunia seperti Italia, Prancis, Inggris, Brasil dan Argentina serta kembali moncernya kekuatan masa lalu, Uruguay. Keputusan-keputusan yang memunculkan kontroversi dari para pengadil pertandingan semacam yang dibuat oleh Jorge Larrionda dan Roberto Rosetti. Melejitnya bintang-bintang baru seperti Thomas Mueller yang pada Piala Dunia pertamanya ini langsung sukses membawa dua penghargaan pribadi yakni &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Golden Boot&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Best Young Player&lt;/span&gt;, disaat beberapa sosok popular lainnya justru gagal memenuhi gadang-gadang banyak pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dalam kanvas besar Piala Dunia 2010, tak hanya berupa gambaran pelangi kompetisi yang menonjol. Salah satu diantara warna cerah itu diantaranya justru ada jauh di luar Afrika yaitu Paul si Gurita. Aktivitas memilih makanannya telah dijadikan sebagai ritual meramal calon pemenang pertandingan dan disiarkan langsung sebagai acara televisi. Paul sukses memprediksi dengan benar semua pertandingan Jerman termasuk dua kekalahan dari Serbia dan Spanyol. Dan pertandingan perebutan tempat ketiga dan final pun lagi-lagi benar diramalnya. Ada rumah judi yang kemudian mengagumi kemampuannya, tentunya tak sedikit yang tidak suka dengan ramalannya yang dianggap telah menjadi penyebab kekalahan tim kesayangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ada vuvuzela yang telah menjadi piranti bagi budaya baru menonton di stadion, setidaknya di Afrika Selatan. Deru suara dan aneka rupa bentuknya setara penemuan taburan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;confetti&lt;/span&gt;, dan gerakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mexican Wave&lt;/span&gt; oleh penonton. Meski oleh beberapa pihak dianggap mengganggu, amat mungkin di kemudian hari Vuvuzela akan menyebar ke seluruh dunia untuk kemudian eksis sebagai salah satu alat dan aksesori untuk menyuporteri seperti tambur, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;banner&lt;/span&gt; raksasa, bendera, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;scarf&lt;/span&gt;, kembang api dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ada satu warna yang tak bisa kita abaikan yakni bagaimana sebuah event olahraga level dunia digelar. Hingga tuntasnya hajatan, penyelenggara layak dianggap sukses melaksanakan perhelatan pesta bola itu. Selain melaksanakan semua prosesi dari pra hingga pasca pertandingan sesuai dengan standar yang paling baik. Panitia juga berhasil menjawab kekhawatiran sebagian pihak terutama soal potensi kerusuhan. Ada beberapa tesis yang diapungkan perihal besarnya potensi kerusuhan itu akan terjadi. Seperti tingginya tingkat kriminalitas di Afrika Selatan, kemungkinan lanjutan dari aksi pemogokan para pekerja stadion, dan catatan panjang bencana dalam stadion di negara-negara benua Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara benua Afrika memang tercatat banyak sekali menyumbang peristiwa bencana dalam stadion. Dalam sepuluh tahun terakhir, sedikitnya terdapat delapan bencana besar yang mengakibatkan hilangnya nyawa terjadi di Afrika. Frekuensinya yang begitu kerap menjadikan bencana dalam stadion sebagai sesuatu yang sangat biasa di benua Afrika. Di Afrika Selatan sendiri tercatat ada tiga bencana besar yang pernah terjadi. Pada 13 Januari 1991: Orkney di Johannesburg Selatan, sedikitnya 42 orang tewas saat terjadi kekacauan akibat orang-orang yang panik menghindari perkelahian yang pecah di tribun penonton. Selang tujuh tahun kemudian dengan mengambil tempat kejadian di Stadion Ellis Park, terjadi keributan saat derby Johannesburg antara Kaizer Chiefs dengan Orlando Pirates. Pihak keamanan menggunakan peluru karet dan gas air mata saat membubarkan massa yang terus memaksa untuk membeli tiket. Namun yang terburuk adalah bencana 11 April 2001, sekaligus tercatat sebagai bencana terburuk dalam sejarah olahraga Afrika Selatan. Lagi-lagi terjadi saat derbi Johannesburg di Stadion Ellis Park. Tercatat 43 orang tewas dan lebih dari 150 orang terluka karena massa yang terus memaksa masuk ke stadion yang sudah berisi penuh penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan “tradisi” bencana dan kurangnya pembelajaran pada masa lalu membuat masyarakat sepakbola khawatir. Dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Ellis Park Stadium Soccer Disaster Interim Report&lt;/span&gt;, disebutkan diantaranya bahwa organisasi pengamanan di Afrika Selatan sangat kompeten dan berpengalaman dalam melaksanakan system manajemen kerumunan yang aman. Konser, festival dan pertandingan kriket skala internasional telah berlangsung sepanjang waktu dan berlangsung aman. Pada saat terjadi bencana 11 April 2001 yang menjadi penyebab adalah adanya unsur pengabaian. Termasuk pengabaian pada petunjuk pertandingan dari FIFA dan South Africa Football Association (SAFA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan tahun setelah kejadian Ellis Park, Afrika Selatan sukses membayar kepercayaan FIFA. Mereka melakukan retrospeksi dan introspeksi. Belajar pada pengalaman kelam masa lalu dan koreksi diri atas kekalahan dalam proses &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bidding&lt;/span&gt; menjadi tuan rumah Piala Dunia 2006. Sekaligus menyelaraskan pikiran dan hati para stakeholder sepakbola di negara tersebut. Kini, Piala Dunia usai sudah. Pengurus PSSI yang “belajar” menonton Piala Dunia pun sudah pulang. Pelajaran dan hikmah apa yang bisa mereka petik untuk kemudian dipraktikkan demi kemajuan sepakbola negeri ini. Kiranya niat sungguh-sungguh untuk retrospeksi dan introspeksi saja  sudah lebih dari cukup untuk ditiru.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-8525970492923063735?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/8525970492923063735/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=8525970492923063735&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/8525970492923063735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/8525970492923063735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2010/07/ellis-park.html' title='Ellis Park'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-rn0wMaHiT3M/TqAhTpwDzLI/AAAAAAAAAb0/D2U9xUya2I8/s72-c/ellis-park-stadium+489.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-7335983751727205853</id><published>2010-07-07T16:10:00.010+07:00</published><updated>2011-10-20T20:32:39.233+07:00</updated><title type='text'>Persatuan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/TDWXVZIaoiI/AAAAAAAAAWA/lfbwEcneEiY/s1600/alg_soccer_wesley-sneijder.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5491461714427421218" src="http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/TDWXVZIaoiI/AAAAAAAAAWA/lfbwEcneEiY/s1600/alg_soccer_wesley-sneijder.jpg" style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;Meissner/AP&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Beberapa jam yang lalu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;De Oranje&lt;/span&gt; Belanda menjadi tim pertama yang meraih tiket ke final. Keberhasilan melaju ke partai puncak yang akan dihelat di Soccer City Johannesburg bagi Belanda adalah keberhasilan yang ketiga setelah sebelumnya di Piala Dunia 1974 dan 1978. Sedangkan kemenangan 3-2 atas Uruguay menjadikan Belanda sebagai satu-satunya tim yang selalu menang sepanjang turnamen. Dan hebatnya, prestasi nir-kekalahan ini hanya bisa disamai oleh Selandia Baru!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pihak yang menilai keberhasilan Belanda ini buah dari keputusan Bert van Marwijk meninggalkan ide bermain &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mooie voetbal&lt;/span&gt; alias bermain cantik. Meski mafhum bahwa satu-satunya gelar prestisius yang dimiliki Belanda yakni Piala Eropa 1988 diraih dengan memainkan pola &lt;span style="font-style: italic;"&gt;totaalvoetba&lt;/span&gt;l, Marwijk juga melihat kenyataan bahwa sebagai sistem permainan warisan Rinus Michels itu butuh penyesuaian demi mendapatkan hasil baik. Dengan gamblang Marwijk berkata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Total football is a thing of the past”&lt;/span&gt;. Maka diterapkanlah pola yang lebih pragmatis hasil rombakan dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;totaalvoetbal&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak sedikit pihak yang mengajukan opininya bahwa keberhasilan Belanda mencapai semifinal dan kemudian final tidak melulu karena adanya perubahan taktik semata. Sebab pada kenyataannya Belanda masih cukup sanggup memainkan sepak bola dengan baik meski tidak sampai menyamai standar tinggi permainan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;totaalvoetbal&lt;/span&gt; 1974 dan atau 1988. Faktor kunci lain yang dimaksud adalah dikalahkannya musuh sebenarnya yaitu diri sendiri. Musuh-musuh dari dalam ada banyak, salah satunya berupa pertentangan ego antar elemen dalam tim baik pemain, pelatih maupun official lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari masa ke masa, Belanda selalu dikaruniai pemain-pemain dengan kemampuan hebat namun dengan ego dan temperamen yang tinggi pula. Tak ayal konflik-konflik internal nyaris selalu mewarnai perjalanan tim nasional Belanda di setiap turnamen. Contoh perselisihan yang menonjol adalah saat Piala Eropa 1996 di Inggris, Guus Hiddink yang menjadi pelatih Belanda waktu itu, sampai harus memulangkan Edgar Davids. Jauh sebelumnya, bintang terbesar Belanda Johan Cruyyf pun memilih mundur dari skuad Piala Dunia 1978. Maka luruhnya ego antar pemain sehingga bersedia bersatu sebagai sebuah tim dianggap sebagai faktor terpenting keberhasilan Belanda di Afrika Selatan. Robin van Persie dan Wesley Sneijder mengabaikan ketidakcocokan mereka di luar lapangan untuk bermain kompak saat pertandingan. Pemain-pemain lain pun melakukan pengorbanan yang tidak sedikit sebagai bagian tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persatuan menjadi bumbu terpenting dalam sebuah resep kesuksesan suatu tim. Dan sebaliknya, sepakbola itu sendiri adalah alat persatuan, baik mempersatukan antar warga dunia maupun warga bangsa. Keberhasilan Prancis juara dunia di tanah sendiri dengan bermaterikan pemain-pemain multi etnis menjadi contoh konkret sepakbola menginspirasi persatuan suatu negara. Mereka yang beragam etnis mampu berintegrasi sebagai sebuah tim dan menjadi icon persatuan karena kesuksesan yang diraihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinihari nanti, dua calon finalis lainnya akan saling mengadu kekompakan dan persatuan tim. Skuad Jerman yang multi-etnis sejauh ini tampil sangat kompak. Sebanyak sebelas pemain adalah pemain keturunan dan hasil naturalisasi yakni Lukas Podolski, Miroslav Klose, Piotr Trochowski (Polandia), Mesut Oezil, Serdar Tasci (Turki), Sami Khedira (Tunisia), Dennis Aogo (Nigeria), Jerome Boateng (Ghana), Mario Gomez (Spanyol), Jeronimo Cacau (Brasil), dan Marko Marin (Bosnia-Herzegovina) mengesampingkan asal usul dan latar belakang sosialnya membentuk panser yang tangguh. Oleh Thomas de Maiziere, Menteri Olahraga Jerman, tim nasional yang kaya dengan para pemain imigran disebut sebagai contoh sukses sebuah integrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, Spanyol juga tak kalah ampuh dalam urusan soliditas. Selama ini Spanyol selalu bermasalah dengan tidak akurnya antar suku bangsa. Beberapa suku bangsa seperti Basque dan Catalunya menghendaki untuk memiliki pemerintahan sendiri. Isu yang tentunya sangat mempengaruhi prestasi tim nasional Spanyol. Meski bermaterikan pemain bagus dan menawan di fase penyisihan, Spanyol kerap mati angin saat berlaga di turnamen sesungguhnya. Namun saat ini, semua pemain sudah mulai mengabaikan kendala tersebut. Spanyol dibawah arahan Luis Aragones sukses memboyong supremasi tertinggi negara-negara Eropa. Dan saat ini dengan materi pemain inti yang kebanyakan berasal dari Catalunya layaknya Victor Valdez, Carles Puyol, Gerard Pique, Sergio Busquets, Cesc Fabregas, Xavi Hernandes, Andres Iniesta, dan Pedro, Spanyol mencoba mencapai final Piala Dunia pertamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing tim akan menunjukkan kekuatan persatuan di antara mereka sekaligus berharap menjadi inspirasi bagi persatuan bangsanya. Apapun hasilnya, kedua tim ini sudah menjadi konfirmasi yang sahih  tentang persatuan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-7335983751727205853?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/7335983751727205853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=7335983751727205853&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/7335983751727205853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/7335983751727205853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2010/07/oleh-aji-wibowo-beberapa-jam-yang-lalu.html' title='Persatuan'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/TDWXVZIaoiI/AAAAAAAAAWA/lfbwEcneEiY/s72-c/alg_soccer_wesley-sneijder.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-7401941362046589098</id><published>2010-07-05T16:41:00.012+07:00</published><updated>2011-10-20T20:31:22.498+07:00</updated><title type='text'>Drama</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/TDLtSrWK6KI/AAAAAAAAAV4/HIMh1LIZTLI/s1600/Di+Natale.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5490711800847198370" src="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/TDLtSrWK6KI/AAAAAAAAAV4/HIMh1LIZTLI/s1600/Di+Natale.jpg" style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 78%; font-style: italic;"&gt;football-italia.net&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun silam, di sebuah kamar sempit. Seorang bocah duduk  dengan pikiran bingung. Pandangannya kerap berganti antara tumpukan  poster pemain sepakbola dan dinding kamar yang (ternyata) sudah penuh  dengan gambar sejenis. Ada empat sisi dinding semen salah satunya penuh  tertutup lemari lebar, tiga sisi lainnya separuh ke atas sudah terisi  gambar. Beberapa saat kemudian, dia sibuk mematut-matutkan poster yang  baru dibelinya pedagang kaki lima di pasar itu di dinding. Sejumlah  poster lawas kemudian dilepas untuk memberi tempat pada “pemain” baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat tahun kemudian, masih bocah yang sama. Dia menangis tergugu sambil  menelungkupkan wajahnya di kursi panjang tempatnya menonton  pertandingan sepak bola subuh itu. Beberapa menit yang lalu, seorang  pria berambut ekor kuda berseragam biru baru saja menendang bola tinggi  di atas mistar gawang sekaligus melayangkan harapan jutaan orang terbang  yang tak bisa diraih lagi. Bapaknya hanya menyuruhnya untuk segera  sholat Subuh. Sepertinya beliau cukup paham dengan kegalauan yang  dirasakan anaknya, seperti halnya dia resah mendapati Mike Tyson  terjengkang dan terampas gelar juara dunia sejatinya oleh James “Buster”  Douglas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat dan lima tahun yang lalu, bocah yang sudah beranjak dewasa itu  baru bisa merasakan rasa bungah yang membuncah dan perasaan lain yang  membuat hatinya tidak keruan. Dia nyaris menangis namun upaya membendung  tangis itu hanya menambah rasa sesak di dadanya. Moment Istanbul 2005  dan Berlin 2006 membayar penantian yang hampir tak berujung akan  prestasi gilang gemilang klub dan tim yang digemarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu kesempatan waktu, meski urung menyaksikan kemenangan, dia  menemui sensasi yang kadarnya mengungguli dua moment final itu. Di  sebuah stadion raksasa kebanggaan bangsa ini, menjadi saksi perjuangan  pemain-pemain pilihan yang mewakili harapan rakyat nusantara. Sejak dari  lagu kebangsaan dinyanyikan, kebanggaan sebagai warga bangsa membumbung  tinggi. Histeria kegembiraan oleh gol pemain kita, kekecewaan mendalam  karena jebolnya gawang tim nasional. Juga penghormatan yang tulus pada  perjuangan yang telah dilakukan para pemain di atas rumput hijau. Setiap  pertandingannya yang tidak mungkin dinikmati dengan duduk tenang diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bebarapa malam terakhir si bocah dewasa mendapat kesempatan untuk  melihat gambaran dirinya sebagai pecinta dan suporter sepak bola.  Tangisan Fabio Quagliarella, luap kemarahan Ronaldo, wajah pilu Kaka,  ratapan penuh penyesalan dari Asamoah Gyan dan Oscar Cardozo serta  kegembiraan David Villa membeberkan bukti bahwa sepak bola, teristimewa  Piala Dunia memang luar biasa. Ujaran Bill Shankly di masa lalu menjadi  sangat relevan, &lt;i&gt;“Some people think football is a matter of life and  death. I assure you, it's much more serious than that.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap  kejayaan di ajang apapun membawa pemain dan pendukungnya melambung ke  puncak dunia. Setiap kekalahan menggiring seluruh elemen tim serta  suporternya pada hari-hari penuh kesedihan. Roberto Baggio ingin  menghapus kenangan pada siang hari Juli 1994 di Stadion Rose Bowl dari  hidupnya. Lalu David Trezeguet memandang kejadian di Berlin 2006 sebagai  satu malam laknat. Sedang bagi beberapa pendukungnya yang &lt;i&gt;over  identity&lt;/i&gt; kekalahan di dua final Piala Dunia itu adalah alasan untuk  frustasi atau bahkan untuk menyakiti hidupnya dengan depresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah keniscayaan apabila kekalahan cenderung dibenci. Efek kekalahan  bisa menyebabkan rusaknya mood, patah semangat, hilangnya kepercayaan  diri, intinya menyebabkan ketidaknyamanan baik lahir maupun batin.  Derajat kerusakan yang ditimbulkan bisa berbeda-beda menilik pada  momentum dan proses kekalahannya. Leburnya Jepang di perdelapan final  bisa jadi tidak setragis kekalahan Italia dari Slovakia yang  membenamkannya ke dasar klasemen. Apa yang dialami Ghana dari Uruguay  mestilah berbeda kadarnya dengan kekalahan Korea Utara dari Brasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup begitu banyak menyediakan kemungkinan. Pun ada banyak kemungkinan menyikapi kekalahan dan kemenangan. Seseorang atau tim bisa saja lebih memilih merasa bersalah lalu sedih dan putus asa atau tegar mencoba koreksi diri dengan tetap memelihara harapan ke depan. Saat menang boleh saja si pemenang merasa jumawa dan puas dengan hasil itu alih-alih mencoba tetap menjejakkan kakinya di bumi dan tetap focus dengan agenda-agenda selanjutnya. Hal yang sama juga berlaku bagi pendukungnya. Apakah mencerca atau justru tetap menghargai dan membesarkan hati seluruh elemen tim yang didukungnya di saat hasil menunjukkan mereka kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, saya mulai sedikit mengerti tentang nikmat kemenangan dan  sakitnya kekalahan setidaknya saya pernah mengalaminya baik sebagai  pemain maupun pendukung. Sepakbola tak sekadar urusan remeh temeh  apabila melihat dari persiapan sebelum bertanding, perjuangan di atas  lapangan dan penyikapan atas hasil pertandingannya serta bagaimana  keseharian sepakbola diperlakukan. Hanya saja saya masih belum mengerti  tentang kekalahan yang terkadang justru dicari dan diupayakan untuk  mengeliminasi kompetitor lainnya. Sebuah praktik yang lazim disebut  sepak bola gajah. Juga tentang kebiasaan kekerasan yang tak kunjung  selesai yang mengekori setiap hasil pertandingan meski bukan pihak yang  kalah. Sama tidak mengertinya dengan iklan Liga Super kita yang  dilakonkan oleh aneka margasatwa.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-7401941362046589098?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/7401941362046589098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=7401941362046589098&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/7401941362046589098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/7401941362046589098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2010/07/drama.html' title='Drama'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/TDLtSrWK6KI/AAAAAAAAAV4/HIMh1LIZTLI/s72-c/Di+Natale.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-5566628130758071042</id><published>2010-07-01T17:26:00.010+07:00</published><updated>2011-10-21T16:50:13.778+07:00</updated><title type='text'>Sudamericana</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/TDFiQWn6dTI/AAAAAAAAAVw/e35tMsXo7iQ/s1600/sudamerica2.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5490277453831763250" src="http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/TDFiQWn6dTI/AAAAAAAAAVw/e35tMsXo7iQ/s1600/sudamerica2.JPG" style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai hajatan yang disemati title &lt;span style="font-style: italic;"&gt;the greatest show on earth&lt;/span&gt;, mestilah banyak hal unik menarik yang bisa kita simak. Sejak momentum penunjukan oleh FIFA, persiapan baik infrastruktur, seremoni pembukaan hingga akhirnya nanti saat seorang dengan berbalut ban kapten mengangkat trophy hasil karya Silvio Gazzaniga adalah rangkaian cerita-cerita kecil yang akan membentuk narasi besar Piala Dunia pertama di benua Afrika. Dan kini, hingga selesainya fase 16 besar, pesta sepak bola itu diantaranya sudah berkisah tentang tiga juara dunia yang tersingkir dari ajang ini. Italia dan Prancis yang masing-masing datang sebagai finalis Piala Dunia edisi ke-18 dipaksa angkat koper pagi-pagi dengan status juru kunci di grupnya masing-masing. Sedangkan juara dunia 1966, Inggris, remuk oleh tim Panzer Jerman pada fase 16 besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan ketiga negara itu adalah sebuah tragedi, seperti yang dijelaskan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ramoedya Ananta Toer&lt;/span&gt;, suatu usaha tanpa cita-cita. Sebagai tim, mereka datang dan bertanding tanpa hasrat yang kuat, tak lagi lapar gelar. Seorang kapten tim Ayam Jago menuduh ada pengkhianat dalam timnya. Mantan kapten Tiga Singa menilai pelatihnya salah dalam memilih pemain. Sedangkan pemain muda Gli Azzurri menyalahkan kinerja rekannya di lini depan. Dalam tubuh tiga tim nasional tersebut dipenuhi syak wasangka dan ego perseorangan maupun kelompok yang berujung tak lekatnya lagi lem-lem solidaritas antar pemain, pelatih dan perangkat tim lainnya. Kinerja beberapa wasit yang memang menjadi sorotan, telah gagal dijadikan bahan pledoi, apalagi jabulani dan vuvuzela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eropa atau UEFA pun lantas khawatir dengan kenyataan tersebut. Saat konfederasi sepakbola lain juga mulai kehabisan wakil-wakilnya seperti yang dialami AFC dan CONCACAF dan benua tuan rumah yang tinggal menyisakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Black Stars&lt;/span&gt;, Ghana. Eropa jelas merasa paling tertohok. Dengan wakil terbanyak, 13 negara, sekarang ini hanya tinggal tersisa 3 yang ironisnya langsung &lt;span style="font-style: italic;"&gt;head to head&lt;/span&gt; dengan para wakil Amerika Latin. Amerika Latin atau CONMEBOL sampai sejauh ini merupakan konfederasi paling sukses. Kelima wakilnya lolos ke babak 16 besar, dan hanya karena sudah terlanjur ada bentrok sesama Amerika Latin di 16 besar maka jumlah representasi mereka di perempat final nanti menjadi “cuma” empat tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks rivalitas Eropa-Amerika Latin, kandasnya tiga juara dunia ini jelas merugikan. Sebab Piala Dunia di benua netral ini punya makna penting bagi Eropa. Jika salah satu wakilnya juara, maka Eropa akan unggul jumlah koleksi gelar dengan perbandingan 10:9 gelar. Sekaligus menipiskan kekalahan dalam hal juara dunia saat piala dunia digelar di luar konfederasinya. Kedudukan saat ini 2-0 hasil dari keberhasilan Brasil menjadi juara di Swedia dan Korea Selatan-Jepang. Apabila penyelenggaraan di Mexico dan USA dihitung netral, maka rasionya akan semakin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;njomplang&lt;/span&gt; sebab ketiga edisi piala dunia itu menghasilkan juara yang semuanya dari Amerika Latin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modal Amerika Latin untuk unggul atas Eropa berwujud pada empat wakilnya yang masih tetap di jalur kompetisi. Brasil adalah rajanya Piala Dunia, kolektor terbanyak trophy piala dunia, pemilik abadi trophy Jules Rimet. Argentina dan Uruguay sendiri identik dalam beberapa hal yaitu sama-sama mengoleksi dua gelar juara dunia dan 14 gelar juara Amerika Latin. Paraguay punya modal dua kali juara Amerika Latin dan sejak 1998 rutin berpartisipasi di Piala Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat negara itu sendiri secara geografis berbatasan langsung. Di petak bumi itu pula lahir dan tumbuh pemain-pemain sepakbola berkualitas tinggi. Untuk kemudian menyebar ke penjuru-penjuru jagat untuk menjual kemampuan dan ketrampilan olah bolanya. Mereka kemudian menjadi pilar penting, pemain kunci dan jimat bagi klub-klub yang menggunakan jasanya. Tebersit pertanyaan, apakah Tuhan memakmurkan wilayah itu dengan bakat-bakat hebat bidang sepakbola seperti Dia memakmurkan jazirah Arab dengan minyak bumi, dan Indonesia dengan pelbagai kekayaan alamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klub-klub Eropa mestilah menangguk untung lahir batin memiliki pemain sekelas Alfredo di Stefano, Zico, Osvaldo Ardiless, Maradona, Enzo Francescoli, Romario, Gabriel Batistuta, Ronaldo, Fernando Redondo, Cafu, Roberto Ayala, Ronaldinho, Lucio, Diego Forlan, Lionel Messi dan juga ribuan pemain lainnya. Banjir produk bagus dari Amerika Selatan itu pun bisa dinikmati masyarakat sepakbola nasional dalam wujud pemain macam Jacksen Tiago, Carlos de Mello, Danilo Fernando, Emanuel de Porras, Julio Lopez, Luciano Leandro, Robertino Pugliara, Evaldo Silva, Ronald Fagundez, Beto, dan tentunya Christian Gonzales.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di era naturalisasi dan pemakaian jasa pelatih asing, Argentina dan Brasil adalah para penyumbang terbesar. Mauro Camoranesi menapaktilasi jejak Raimundo Orsi, Enrique Guaita dan Luisito Monti di masa lalu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;oriundi&lt;/span&gt; yang menjadi warga negara Italia dan menjadi juara dunia. Marcos Senna juga “meneladani” Alfredo di Stefano dengan menjadi rakyat Spanyol dan beruntung dengan gelar juara Eropa 2008. Ada ribuan pemain yang tidak tertampung dalam tim nasional yang hanya memberi slot pada 23 pemain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Piala Dunia 2010 ini terdapat beberapa pemain Argentina dan Brasil yang membela negara lain. Sedikitnya terdapat tiga pemain kelahiran Argentina yakni Guillermo Franco bermain untuk Mexico, Lucas Barrios menjadi striker Paraguay, juga Mauro Camoranesi kembali datang bersama skuad Italia. Dan empat pemain kelahiran Brasil yaitu Claudemir Jeronimo Barreto Cacau yang menerima kewarganegaraan Jerman Februari 2009, kemudian Liedson, Pepe, Deco yang memilih membela Portugal. Bahkan pelatih pun mereka ekspor seperti Carlos Alberto Parreira yang mengantarkan Brasil juara dunia 1994 dipakai jasanya oleh tuan rumah Afrika Selatan, Gerardo Martino kelahiran Argentina 20 November 1962 menukangi Paraguay, sedang pelatih Argentina di Piala Dunia 2002, Marcelo Bielsa, kembali datang dengan status pelatih tim nasional Chile.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala warna dan pengaruh yang dipancarkan untuk dunia sepakbola. Brazil dan Argentina akan kembali menggerakkan takdirnya masing-masing di fase perempat final. Lawan-lawan tangguh dari benua biru sudah menunggu. Alumni perempat final 2006 macam Javier Mascherano, Maxi Rodriguez, Carlos Tevez, Gabriel Heinze, Arne Friedrich, Bastian Schweinsteiger, Miroslav Klose, Philipp Lahm, Lukas Podolski, dan Per Mertesacker akan bersua kembali diatas rumput hijau Green Point Stadium, kali ini akan ditambah dengan Lionel Messi dan Nicolas Burdisso yang waktu itu tetap tinggal di bangku cadangan. Di Afrika Selatan ini, Tim Tango begitu mulus melewati pertandingan demi pertandingan. Di sisi lain juga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Der Panzer&lt;/span&gt; justru sudah teruji dengan rintangan-rintangan tangguh. Di masa lalu, kedua tim hebat ini sudah lima kali bertemu di ajang Piala Dunia. Argentina sekali menang di Final 1986, sedangkan Jerman dua kali menang, salah satunya di final 1990. Maradona terlibat di dua pertandingan tersebut sebagai kapten Argentina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir mirip dengan Maradona, Dunga pun menjadi kapten Tim Samba sewaktu dua kali bentrok dengan Tim Oranje Belanda di perempat final Piala Dunia 1994 dan semifinal Piala Dunia 1998. Yang membedakan dengan Maradona, dia tak terkalahkan dalam dua kali duel tersebut. Dan di Port Elisabeth Stadium, Dunga berharap keberuntungannya berlanjut dengan bantuan pemain-pemain telah berulangkali mereguk nikmatnya juara seperti Lucio, Kaka, Maicon, Julio Cesar, Dani Alves, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cum suis&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argentina dan Brasil, dua negara yang derajat perekonomiannya tak begitu berjarak dengan Indonesia. Negara yang trend suporternya jauh lebih keras dibandingkan kelompok-kelompok suporter lokal di sini. Akan semakin jauh untuk dibandingkan dengan prestasi sepakbola kita. Di saat mereka lapar dengan gelar, kita sibuk menjerumuskan diri dengan perilaku minor. Sungguh sebuah tragedi, usaha tanpa cita-cita.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-5566628130758071042?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/5566628130758071042/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=5566628130758071042&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/5566628130758071042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/5566628130758071042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2010/07/sudamericana.html' title='Sudamericana'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/TDFiQWn6dTI/AAAAAAAAAVw/e35tMsXo7iQ/s72-c/sudamerica2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-8710351298004902576</id><published>2009-07-06T22:49:00.004+07:00</published><updated>2011-10-21T16:51:05.964+07:00</updated><title type='text'>Honour</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SlNsAJyXSJI/AAAAAAAAAVI/ubYxMCO14WE/s1600-h/sami400.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355743131756611730" src="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SlNsAJyXSJI/AAAAAAAAAVI/ubYxMCO14WE/s1600/sami400.jpg" style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Liga-liga sepak bola terkemuka di benua biru Eropa telah mengakhiri kompetisinya. Ketatnya kompetisi English Premiere League telah menghasilkan Manchester United sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Champion&lt;/span&gt;, FC Barcelona pun menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;el campeone&lt;/span&gt; La Liga BBVA Primera Division Spanyol, sedangkan pemilik terkini titel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Deutscher Meister&lt;/span&gt; Bundesliga Jerman adalah Vfl Wolfsburg. Internazionale menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;campioni d’Italia&lt;/span&gt; sekaligus meraih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;scudetto&lt;/span&gt;-nya yang ke-17 di Serie A Lega Calcio, dan Bordeaux ditahbiskan sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;champion du France&lt;/span&gt; setelah memenangi laga terakhir Ligue 1. Ada pesta, ada selebrasi atas keberhasilan meraih gelar kejayaan, ada tangis kesedihan dan keluh frustasi bagi klub-klub yang terdegradasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di penghujung kompetisi kita juga disajikan pemandangan yang menggetarkan hati. Sosok-sosok sohor di sepak bola melalui hari-hari terakhirnya di lapangan hijau atau mengakhiri kebersamaan dengan klubnya lewat laga-laga perpisahan. Paolo Maldini, Sami Hyypia, Luis Figo, Pavel Nedved, Frank Baumann dan banyak pemain lainnya pun berada pada senjakala karir sepak bolanya. Seluruh elemen klub AC Milan, Liverpool, Internazionale, Juventus, dan Werder Bremen beserta para suporternya berkenan memberikan penghormatan terakhir pada para pemainnya tersebut. Membalas cinta dan pengabdian para pemainnya. Ada peluk hangat dari rekan-rekan setim, jajaran staf pelatih dan bahkan dari para pemain lawan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Standing ovation&lt;/span&gt; dari para penonton di stadion. Testimoni-testimoni dan sanjung puji dari tokoh-tokoh berbagai kalangan. Seremoni ini merupakan manifestasi rasa hormat antara klub dengan pemainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit kontroversi terjadi pada momen spesial Maldini, yaitu saat pertandingan kandang terakhir AC Milan melawan AS Roma. Segelintir Ultras yang berada di Curva Sud mengirim pesan penghinaan dalam beberapa wujud. Bentangan spanduk yang bersandingan dengan kaos raksasa bernomor punggung 6 (merujuk pada libero legendaris dan simbol abadi Milan, Franco Baresi) dan teriakan kurang empatik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"There's only one captain, captain Baresi"&lt;/span&gt;. Suatu perilaku yang disesalkan oleh Baresi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggung perpisahan atau pertandingan terakhir memang tidak selalu indah. Zinedine Zidane dan Final Piala Dunia 2006 adalah fakta gamblangnya. Namun, insiden tandukan ke dada Marco Materazzi yang berbuah kartu merah dan kalahnya Prancis dari Italia tak pernah sedikit pun mengurangi kebesaran nama Zidane. Pun dengan Paolo Maldini, kekalahan dari AS Roma dan hinaan Ultras sama sekali tidak menciderai ketokohannya sebagai salah satu bintang paling bersinar yang pernah dimiliki Milan. Maldini tak hanya legenda bagi Milan atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gli Azzurri&lt;/span&gt; tapi juga legenda bagi sepak bola itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Loyal dan Kontributif. &lt;/span&gt;Sederet bintang kawakan yang harus surut, rata-rata menjalani masa edar yang lama pada klub yang memberikan mereka seremoni perpisahan, kecuali Figo yang hanya memiliki masa bakti 4 tahun di Internazionale. Yang paling lama adalah Paolo Maldini yang mengabdi selama 24 tahun (1985-2009) di Milan. Pengabdian hampir seperempat abad ini, 13 tahun diantaranya dengan menjabat sebagai kapten Milan dan telah menghasilkan setidaknya 26 trophy bergengsi. Bersama Milan dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gli Azzurri&lt;/span&gt;, Maldini telah menjalani lebih dari seribu pertandingan. Rinciannya adalah 901 untuk Milan di berbagai ajang dan 126 bagi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gli Azzurri&lt;/span&gt;. Bukti akan loyalitas dan kontribusi teknik maupun non-teknik yang sulit untuk dibantah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Arrivederci&lt;/span&gt; Paolo Cesare Maldini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pengabdian panjang lainnya juga dilakukan oleh Sami Hyypia di Liverpool, dan Frank Baumann di Werder Bremen. Keduanya melakoni waktu pengabdian 10 tahun dengan berbagai hal yang identik yaitu sama-sama memulainya dari tahun 1999 untuk kemudian mengakhirinya pada tahun 2009. Yang kemudian berbeda adalah, Hyypia meneruskan karir sepak bolanya di Bayer Leverkusen sedangkan Baumann memilih pensiun untuk kemudian mengisi staf kepelatihan sebagai asisten manajer di klubnya. Keduanya juga menjadi kapten bagi klubnya masing-masing. Mereka juga ikut andil pada gelar-gelar yang diperoleh klubnya, Hyypia menyumbang 10 trophy dan Baumann menghasilkan 4 trophy. Hyypia dengan segala kontribusinya kemudian termasuk dalam daftar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;100 Players Who Shook The Kop&lt;/span&gt;, yaitu kumpulan pemain yang dipilih suporter Liverpool dari seluruh dunia karena dianggap memberi pengaruh besar pada prestasi Liverpool sejak 1892. Seperti laiknya Maldini, mereka tak sekadar tempelan melainkan bagian integral dalam pasang surut prestasi klub yang mereka bela. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kiitos&lt;/span&gt; Sami, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Danke&lt;/span&gt; Baumann.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah tentang kesetiaan juga terjadi pada Pavel Nedved yang menghabiskan 8 tahun  karirnya di kota Torino. Rentang waktu dari tahun 2001 hingga 2009, Nedved meraih berbagai kesuksesan pun mengecap pahitnya terdegradasi ke Serie B bersama Juventus. Di saat banyak rekan satu timnya pindah klub karena tak sudi bermain di Serie B, Nedved justru mengabaikan berbagai tawaran menggiurkan dari klub lain dan memilih untuk ikut berjuang dengan klub yang terjerat skandal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;calciopoli&lt;/span&gt; itu. Selain mengangkat kembali ke Serie A dengan menjuarai Serie B, tercatat 2 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;scudetti&lt;/span&gt; dan 2 Supercoppa Italiana menjadi bukti sumbangsihnya yang lain. Bahkan gelar personal prestisius Ballon d’Or (2003) diraih saat menjadi bagian skuad &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Old Lady&lt;/span&gt;. Dan tak tak ada keraguan lagi bahwa Nedved adalah salah satu pilar penting Juventus era post-Zidane. Setara namun sedikit berbeda di durasi waktu, terjadi pada kiprah Figo di Inter. Meski terhitung pendek hanya empat tahun (2005-2009), namun kehadirannya telah menambah kualitas teknik dan menyuntikkan mental juara pada skuad Nerrazzurri. Sejak kedatangannya, Internazionale empat tahun beruntun menyabet &lt;span style="font-style: italic;"&gt;scudetto&lt;/span&gt; ditambah satu Coppa Italia dan tiga Supercoppa Italiana. Nedved dan Figo mungkin berkarir layaknya bohemian, pengelana yang selalu berpindah tempat. Namun dalam setiap persinggahannya adalah dedikasi dan pengabdian sepenuh hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elaborasi atau uraian yang panjang lebar di atas mengerucut pada kesimpulan tentang adanya gabungan beberapa faktor yang menyebabkan sosok-sosok tersebut layak mendapatkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;standing ovation&lt;/span&gt;, kesempatan melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lap of honour&lt;/span&gt; dan berbagai penghormatan lainnya. Profesionalisme yang kental berpadu dengan ketrampilan olah bola yang mumpuni untuk mendongkrak kualitas teknik tim yang berjuang meraih kemenangan demi kemenangan di lapangan. Kemudian loyalitas yang kukuh dengan kecakapan untuk menjadi pemimpin di dalam dan di luar lapangan untuk membangun situasi yang kondusif dalam klub. Dan kemampuan untuk menjalin relasi yang hangat dengan para fansnya melengkapi karakter seorang bintang yang layak dihormati. Singkatnya, kapasitas legenda mencuat ketika seorang pemain mampu menjalin hubungan yang sinergis dengan elemen &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Holy Trinity&lt;/span&gt; lainnya (manager dan suporter).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajang perpisahan dan penghormatan tak selalu dalam wujud pertandingan resmi. Pertandingan perpisahan bagi person yang dihormati tersebut kerap direncanakan dengan matang dan diorganisir secara rapi. Jauh sebelumnya pernah kita dengar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aldair Day&lt;/span&gt;. Pertandingan yang bersifat kasual dengan mengumpulkan berbagai bintang lawas (umumnya mantan rekan setim) dengan pemain klub terkini lainnya, dan didedikasikan untuk Aldair Nascimento dos Santos yang telah mendarmabaktikan segenap kemampuannya pada AS Roma selama kurun waktu 13 tahun (1990-2003). Dan juga laga-laga testimonial serupa lainnya sebagai tanda perpisahan dan penghormatan, seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sinisa Farewell&lt;/span&gt; dan lain-lain. Menggantung atau mengistirahatkan nomor punggung menjadi bentuk lain penghargaan itu. Diantaranya yaitu no. 6 untuk Bobby Moore (West Ham), Franco Baresi (AC Milan) dan Aldair (AS Roma), lalu no. 10 untuk Diego Armando Maradona (Napoli), Roberto Baggio (Brescia), dan Pele (New York Cosmos), juga no. 3 untuk Giacinto Facchetti (Internazionale), sedangkan Ajax mengistirahatkan no. 14 untuk legendanya, Johan Crujff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ingatan Pendek.&lt;/span&gt; Pengetahuan bahwa kehormatan dan penghormatan tidak pernah diraih dengan cara yang mudah harusnya mengilhami seluruh elemen sepak bola nasional, khususnya para pemain. Menjadi seorang professional tulen yang senantiasa mengusung totalitas pada setiap kinerja, komitmen pada loyalitas, dan cinta pada seluruh unsur klub dari manajemen, suporter hingga pengurus bagian yang terkesan remeh temeh. Semua nilai ideal ini muncul dalam wujud keberanian menampik lambaian uang yang lebih banyak dari klub lain dan memilih tetap setia dengan klubnya. Fokus pada tercapainya stabilitas permainan saat memperkuat klubnya hingga menuai banyak prestasi yang membanggakan. Kemampuan untuk berempati dan menghargai sepenuh hati dukungan suporternya yang militan dpun dengan kinerja official yang berperan dibalik layar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah suatu waktu nanti, pemain-pemain kita seperti Bambang Pamungkas (Persija), Eduard Ivakdalam (Persipura), Eka Ramdhani (Persib), Boaz Solossa (Persipura), Syamsul Chaerudin (PSM), Evaldo Silva (Persijap) dan pemain-pemain yang menjadi simbol klub karena kesetiaan dan dedikasinya pada klub juga mendapatkan seremoni perpisahan dari klub-klubnya sebagai simbol penghargaan? Kesetiaan dan dedikasi dari pemain di satu sisi saja tidak cukup dan hanya akan bertepuk sebelah tangan apabila tidak dibarengi kemauan dan kemampuan dari klub dan suporter di sisi yang lain untuk menghargai balik jasa-jasa besar para pemainnya. Rasa hormat dan terima kasih itu mensyaratkan sifat resiprok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan keniscayaan bahwa prestasi tinggi dan kebesaran klub pun dihidupi dari peluh keringat pemain-pemainnya dan loyalitas dukungan suporternya. Namun banyak klub yang tidak peduli akan kenyataaan ini. Menurut seorang pejabat di negeri ini, sebagian besar kita dihinggapi ingatan pendek (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;short memory loss&lt;/span&gt;), lupa pada suatu kejadian penting yang belum lama berlalu, segera lupa pada kesalahan yang diperbuatnya, dan lupa pada jasa kawan seiring dan partner kerja. Ingatan pendek ini pada akhirnya melahirkan (dan atau dilahirkan) sikap lalai dan abai serta kegagalan mengambil hikmah dari setiap pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan kebanyakan pegiat sepak bola nasional. Berbagai keributan antar pemain di lapangan, kerusuhan antar suporter, meninggalnya pemain di lapangan dan tewasnya suporter, kekacauan pelaksanaan kompetisi, dan kegagalan demi kegagalan meraih prestasi menguap begitu saja. Sesuatu yang biasa ketika pemain cidera berat justru diputus kontraknya oleh klub alih-alih dirawat dan dibesarkan semangatnya untuk segera pulih. Pemain dan pelatih yang begitu besar kontribusinya segera saja menjadi anonim saat masa bakti mereka purna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teladan baik dari pihak lain tidak menjadi kontemplasi, kekurangan yang dimiliki tidak berbuah mawas diri.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-8710351298004902576?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/8710351298004902576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=8710351298004902576&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/8710351298004902576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/8710351298004902576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2009/07/honour.html' title='Honour'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SlNsAJyXSJI/AAAAAAAAAVI/ubYxMCO14WE/s72-c/sami400.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-3855582987842125544</id><published>2009-03-28T15:12:00.005+07:00</published><updated>2011-10-21T20:08:41.962+07:00</updated><title type='text'>Absurditas (Proposal) PSSI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/Sc4jZIisHkI/AAAAAAAAAVA/Yc2ugVeoq8w/s1600-h/world_02.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5318227124667817538" src="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/Sc4jZIisHkI/AAAAAAAAAVA/Yc2ugVeoq8w/s1600/world_02.jpg" style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Calon &lt;span style="font-style: italic;"&gt;host&lt;/span&gt; World Cup 2018 and 2022 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(bbc.co.uk)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tak dinyana, ternyata blog Bangun Suporter ini mengalami pakum dan rumpang selama lebih dari setengah tahun. Ada banyak sebab dan alibi yang melatari terjadinya kekosongan kontribusi ini. Yang pertama, keprihatinan teramat dalam yang nyaris menuju pada sikap ignoransi seorang suporter akibat bertaburnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;harum-scarum&lt;/span&gt; di ranah sepak bola nasional. Prestasi membanggakan belum kunjung tiba sedang permasalahan demi permasalahan justru silih berganti datang menyambangi tiada henti. Perubahan dan revolusi PSSI menjadi sekadar utopia, setiap kritik dan bahkan himbauan dari figur kuat seperti wakil presiden, menteri pemuda dan olahraga, ketua umum KONI pun hanya menjadi angin lalu. Perubahan telah menjadi sebuah tulisan kosong dan hening tak terdengar seperti pada posting Revolusia PSSI. Yang kedua, bergabung dengan BIGREDS &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Bold Indonesian Group of Reds Supporters)&lt;/span&gt;, wadah resmi penggemar klub Liverpool FC di Indonesia, sebagai membernya. Selain sebagai partisipasi untuk menyumbang sesuatu yang lebih nyata, membuka lebih luas cakrawala, menggali ilmunya, mereguk pengalamannya, dan menyerap inspirasinya. Juga sebagai katup pengaman akan potensi mentoknya sumbangsih sebagai suporter sepak bola nasional.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, di sebuah siang yang mendung, kabar sensasional Indonesia (baca PSSI) yang resmi melayangkan proposal mengikuti proses &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bidding&lt;/span&gt; untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022 ke FIFA seperti menjadi petirnya. Kabar yang dilansir di berbagai media baik cetak maupun elektronik nasional ini segera menjadi kembang berita diantara berita-berita sepak bola dan olah raga nasional lainnya. Tanggapan yang diberikan pun relatif beragam, ada yang mengapresiasi dengan baik dan mendukung namun tak sedikit yang memandang skeptis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat tim nasional kita tampil dan bertanding di ajang paling prestisius sepak bola dunia adalah mimpi yang luar biasa indah dan cita-cita terbesar bagi sebagian rakyat negeri ini. Ada dua jalur yang mungkin ditempuh oleh suatu negara untuk sampai di panggung termegah sepak bola dunia. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, jalur kualifikasi yaitu sebagai salah satu tim yang lolos kualifikasi dari suatu zona tertentu. Untuk mendapatkan tiket dengan jalur kualifikasi ini diperlukan tim yang kompetitif dan berpenampilan konsisten agar sanggup meraup poin sebanyak-banyaknya baik saat kandang maupun tandang. Faktanya, Indonesia yang berada di zona kualifikasi Asia belum memiliki tim yang berkemampuan mumpuni sehingga sulit untuk bersaing dengan tim-tim negara lain di benua Asia. Kekuatan mapan seperti Korea Selatan, Arab Saudi dan Jepang yang menjadi langganan tetap Piala Dunia dari Asia ditambah dengan tim kuat lainnya macam Iran, China, Qatar, dan juara Piala Asia termutakhir, Irak, sudah susah untuk dilawan. Dan masih disesaki dengan bermunculannya kekuatan-kekuatan baru nan hebat akibat pecahnya Uni Sovyet seperti Uzbekistan dan mergernya tim dari zona kualifikasi Oceania, Australia. Bahkan di kawasan Asia Tenggara, tim nasional kita lebih sering tercecer dibelakang kompetitor lainnya yaitu Thailand, Singapura dan Vietnam. Sehingga (setidaknya sampai jelang Piala Dunia 2010) data yang terpapar adalah deretan kegagalan tim nasional kita di ajang Pra-Piala Dunia (PPD).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan jalur &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kedua&lt;/span&gt; adalah dengan menjadi tuan rumah alias penyelenggara. Dengan menjadi tuan rumah selain stadion-stadionnya dijadikan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;venue&lt;/span&gt; pertandingan maka p&lt;span style="font-style: italic;"&gt;rivilege&lt;/span&gt; lainnya berupa lolos otomatis bagi tim nasionalnya. Sedangkan proses yang harus ditempuh untuk menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;host&lt;/span&gt; kurang lebih berupa tahapan-tahapan seperti ini: pengajuan proposal ke FIFA, lolos verifikasi, kampanye dan bersaing meyakinkan anggota-anggota FIFA dengan negara-negara kandidat lain dan pengumuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi bagi sebagian orang, untuk konteks Indonesia, jalur menjadi tuan rumah tampak terlihat lebih masuk akal dari pada mengadu tim nasional kita di jalur kualifikasi. Namun hakekatnya justru terdapat lebih banyak kerumitan dan membutuhkan dana yang lebih besar. Kerumitannya bisa berupa dukungan yang tidak bulat dari seluruh masyarakat sepak bola nasional. Tidak sedikit masyarakat sepak bola nasional yang merasa bahwa ide menjadi tuan rumah Piala Dunia ini kurang tulus dan penuh kepentingan. Kerumitan lainnya berupa alur birokrasi yang bakal berliku untuk mendapat restu dan dukungan dari pemerintah. Mulai dari jenjang Keputusan Menteri Pemuda dan Olahraga, berlanjut pada pembahasan proposal di sidang kabinet, kemudian Keputusan Presiden dan masih harus di paparkan lagi di DPR. Dengan syarat infrastruktur yang harus memenuhi standar penyelenggaraan pertandingan tingkat dunia maka proyek ini memerlukan dana yang sangat besar mencermati belum dipunyainya stadion yang layak. Belum lagi sarana dan prasarana pendukung lainnya yang masih minim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun terlepas dari segala kompleksitas jalan menjadi penyelenggara Piala Dunia, negara ini pun sebenarnya tidak memiliki “skuad” federasi sepak bola yang kompeten. Tak aneh apabila banyak yang menganggap langkah PSSI ini sebagai sesuatu yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;absurdus&lt;/span&gt;. Sungguh tak terlintas dalam bayangan bahwa tuan rumah Piala Dunia 2022 akan diorganisasi oleh federasi sepak bola yang tidak konsisten dengan aturan yang diputuskannya sendiri, yang gagal menyelenggarakan liga domestiknya sesuai jadwalnya, yang gemar tawar-menawar sanksi, yang mengabaikan pembinaan usia dini, dan yang ketua umumnya tidak diakui oleh FIFA karena pasal kriminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seandainya benar bahwa niat bersaing untuk menjadi penyelenggara itu di pilih atas pertimbangan agar tim nasional kita mendapat gratis tampil di Piala Dunia maka akan semakin mengkonfirmasi dan mengafirmasi budaya instan insan sepak bola kita. Sebagai wujud dari pikiran sempit pentolan PSSI Alih-alih menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;magnum opus&lt;/span&gt; alias sebuah karya puncak atau prestasi terbesar yang dicapai seorang Nurdin Halid dan pengurus PSSI lainnya malah menjadi sebuah absurditas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah lebih baiknya apabila PSSI (baca: pengurusnya) terlebih dahulu meluruskan kembali niat dan komitmennya untuk memajukan sepak bola nasional, memberesi organisasinya dan sistemnya, memikirkan klub-klub yang hendak bangkrut akibat memaksakan ikut liga berbiaya tinggi itu. Memberi perhatian dan penghargaan yang layak bagi kelompok-kelompok suporter yang setia mengkampanyekan suporter yang tertib, kreatif dan simpatik serta membina dengan sanksi yang mendidik bagi suporter yang masih gemar berbuat onar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-3855582987842125544?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/3855582987842125544/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=3855582987842125544&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/3855582987842125544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/3855582987842125544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2009/03/absurditas-proposal-pssi.html' title='Absurditas (Proposal) PSSI'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/Sc4jZIisHkI/AAAAAAAAAVA/Yc2ugVeoq8w/s72-c/world_02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-5933924155000617601</id><published>2008-08-20T01:19:00.000+07:00</published><updated>2008-08-20T01:20:23.507+07:00</updated><title type='text'>Revolusia PSSI</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-5933924155000617601?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/5933924155000617601/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=5933924155000617601&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/5933924155000617601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/5933924155000617601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2008/08/revolusia-pssi.html' title='Revolusia PSSI'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-3369531466237206923</id><published>2008-07-02T18:18:00.008+07:00</published><updated>2011-10-21T17:22:11.956+07:00</updated><title type='text'>Hasrat Tak Bertepi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;When intention, ability, success, and correctness come together, there happiness is perfected.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Husayn&lt;/span&gt; (626 - 680), Islamic religious leader.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SGt49WZei0I/AAAAAAAAANY/0nUmb6O43L4/s1600-h/729545_w2e.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5218397588618644290" src="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SGt49WZei0I/AAAAAAAAANY/0nUmb6O43L4/s400/729545_w2e.jpg" style="cursor: pointer; display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seluruh skuad dan suporter &lt;span style="font-style: italic;"&gt;La Furia Roja&lt;/span&gt; Spanyol bergembira setelah menuntaskan dahaga gelar selama 44 tahun dan menambah koleksi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;silverware&lt;/span&gt; mereka dengan mengalahkan Der Panzer Jerman melalui gol semata wayang Fernando Torres menit ke-33. Tampil konsisten dengan permainan berkualitas dan selalu menang sepanjang turnamen, ditambah gelar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;top scorer, best player&lt;/span&gt; dan sembilan pemainnya terpilih untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Team of the Tournament &lt;/span&gt;membuat Spanyol laik-layak disebut sebagai juara sejati. Sukses besar ini merupakan azam dari seluruh skuad Spanyol yang didengungkan lewat Luis Aragones &amp;amp; Fernando Torres sebelum laga final.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhelatan akbar bertajuk UEFA Euro 2008 di Swiss dan Austria pun berakhir di Stadion Ernst Happel. Tidak selalu akhir yang bahagia karena sebagian banyak yang lain justru mereguk pahitnya kekecewaan. Dan final di Vienna itu pun menjadi moment yang tidak biasa bagi Michel Platini. Pada malam kejayaan itu, Platini sebagai presiden UEFA dengan perasaan tidak tergambarkan menyerahkan kembali Piala, yang dia rebut dari mimpi-mimpi para pemain Spanyol pada final Piala Eropa 24 tahun yang lalu, pada sang juara Spanyol lewat tangan kapten tim Iker Casillas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pihak menyebut turnamen empat tahunan sebagai sebuah pesta sepakbola. Namun secara keseluruhan, pertandingan final dan seluruh fase dalam turnamen ini tidak selalu identik dengan pesta. Namun bisa berwujud sebuah drama, epos atau saga. Ada banyak cerita hebat, heroik, dramatis, tragis dan banyak hal lainnya terjadi dalam satu putaran waktu. Yang menang berhak tertawa, menangis bahagia gembira luar biasa dan mendapat sambutan hangat pendukungnya. Bagi yang kalah ini adalah cerita sedih yang bakal menjadi salah satu monumen buruk dalam hidupnya. Namun tak selalu demikian, karena yang kalah dan tersingkir pun berhak bangga bersuka cita. Beberapa tim, meski kalah bukan berarti harus berkubang dengan kesedihan. Toh apa yang mereka dapatkan sepertinya melebihi ekspektasi mereka dan pendukungnya, faktanya adalah Turki dan Rusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SGuITq_ALXI/AAAAAAAAANs/psCJxubzsdQ/s1600-h/0,1020,1212339,00a.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5218414464776285554" src="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SGuITq_ALXI/AAAAAAAAANs/psCJxubzsdQ/s400/0,1020,1212339,00a.jpg" style="cursor: pointer; display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selama tiga minggu lalu kita menjadi saksi atas terciptanya berbagai sensasi, dan keajaiban. A&lt;span style="font-style: italic;"&gt;y Yildizlilar&lt;/span&gt; Turki pun akan dikenang sebagai tim yang produktif dengan serangkaian keajaiban dan cerita dramatis. Mereka hanya absen berlaku ajaib pada pertandingan pertama. Sejak itu dari menang atas Swiss 2-1 setelah sebelumnya ketinggalan untuk kemudian memukul di waktu tambahan via gol Semih Senturk. Dilanjutkan kemenangan 3-2 atas Republik Ceko setelah ketinggalan 2-0 dan menang berkat kontribusi gol Nihat Kahveci di menit 87 dan 89. Kroasia pun hanya bisa merasakan sensasi nyaris menang setelah gol Ivan Klasnic di menit 119 langsung dibalas gol Semih Senturk menit 120+2, dan di babak adu penalti Turki mematahkan hati pemain dan pendukung Kroasia dengan menang 1-3, tragedi pun menghampiri Kroasia. Kemenangan Turki sekaligus membayar tuntas dua kegagalan para leluhur mereka, Dinasti Ustmaniyah atau Ottoman, menginvasi kota Vienna (tepatnya Eropa) di tahun 1529 dan 1683. Ironisnya di semifinal Turki, yang telah begitu banyak kehilangan pemain intinya akibat cidera dan hukuman akumulasi kartu, juga kalah secara dramatis di ujung pertandingan dari Jerman 3-2. Turki dan lawan-lawannya telah mengajari kita untuk tidak menyerah sebelum peluit akhir tanda kehidupan dibunyikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga banyak dihibur oleh penampilan cerlang-cemerlang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt; Belanda yang menguasai grup neraka grup grup C dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;totaal voetbal&lt;/span&gt;-nya. Meski akhirnya tersingkir oleh Rusia yang tak kalah impresifnya memainkan gaya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;power football&lt;/span&gt;. Setelah berturut-turut menang dengan marjin skor yang signifikan masing-masing 3-0 atas juara dunia Italia dan 4-1 dengan Prancis, skuad &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oranje&lt;/span&gt; pun sanggup mengatasi perlawanan Rumania dengan tim lapis keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastilah perhelatan selama sebulan menyisakan begitu banyak cerita dan inspirasi. Menghadirkan kebahagian sekaligus kekecewaan. Harus diakui meski tak sepenuhnya benar, bahwa perhelatan itu telah banyak memberikan manfaat dan keuntungan bagi banyak pihak. Bagi yang berorientasi pada keuntungan, rasanya tidak ada satu pihak pun dari penyelenggara dan rekanannya yang tidak menangguk untung besar. Bagi yang mencari hiburan, tak selamanya mereka mendapatkan kesenangan batin memang tetapi suguhan pertandingan yang senantiasa ketat dan menarik, sajian aksi dan kelebihan skill individu pemain, pun pelayanan maksimal penyelenggara membuat sedikit sekali yang berada di pihak yang kecewa. Bagi tim peserta dan elemen pendukungnya, torehan prestasi yang maksimal membuat mereka terbayar usaha kerasnya. Bagi yang kalah dan tersingkir, menjadi moment koreksi dan pembenahan untuk memulai lagi langkah meraih prestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang patut ditunggu, di negeri yang begitu dimanja dengan kemudahan siaran langsung ini hikmah apakah yang bisa diambil dari UEFA Euro 2008 selain perhelatan olahraga akbar lainnya. Selain telah mengalihkan sejenak risau dan kesumpekan akibat terus meningkatnya kesulitan ekonomi. Efek langsung yang dirasakan kerap bernilai negatif seperti menurunnya produktifitas kerja akibat berubahnya pola istirahat dan merebaknya perjudian baik dengan niat sekadar iseng maupun mencari untung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit bagi kita untuk tahu apakah disaat penting sperti ini, para otoritas tertinggi sepakbola nasional meningkatkan sensitifitasnya dalam mencandra pengetahuan dan informasi yang bertebaran atau justru seperti kebanyakan warga bangsa ini yang hanya menjadi penikmat dari jauh dan ikut larut dalam hiruk pikuk hura-hura. Yang terlihat dan banyak terjadi adalah bagaimana para politisi yang sedemikian tajam watak oportunisnya berusaha mencari muka dari moment itu. Para kandidat mencoba menyedot perhatian dengan muncul di iklan dan hadir acara-acara nonton bareng (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;public viewing&lt;/span&gt;) Euro 2008. Upaya yang sah memang namun sebuah cara yang egois dan tidak banyak memberi kontribusi bagi kemaslahatan rakyat banyak. Kebanyakan mereka setelah berkuasa lupa pada upaya pembinaan prestasi bahkan mencoba mengambil untung dengan memobilisasi kelompok-kelompok suporter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, bagi bangsa ini usai hajatan berarti usai hingar bingarnya. Sedangkan mereka, purnanya perhelatan berarti awal dari sebuah tugas baru. Fernando Torres pun sudah memaklumatkan hasrat rekan-rekan satu timnya bahwa tugas berikutnya adalah merebut Piala Dunia di Afrika Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-3369531466237206923?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/3369531466237206923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=3369531466237206923&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/3369531466237206923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/3369531466237206923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2008/07/akhir-tanpa-batas.html' title='Hasrat Tak Bertepi'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SGt49WZei0I/AAAAAAAAANY/0nUmb6O43L4/s72-c/729545_w2e.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-5010744548553578930</id><published>2008-06-07T14:09:00.001+07:00</published><updated>2008-06-07T14:09:41.456+07:00</updated><title type='text'>EURO 2008</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-5010744548553578930?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/5010744548553578930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=5010744548553578930&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/5010744548553578930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/5010744548553578930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2008/06/euro-2008.html' title='EURO 2008'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-9067860625038184781</id><published>2008-05-26T16:20:00.000+07:00</published><updated>2008-05-26T16:22:11.480+07:00</updated><title type='text'>Serba-serby Derby (2)</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-9067860625038184781?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/9067860625038184781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=9067860625038184781&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/9067860625038184781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/9067860625038184781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2008/05/serba-serby-derby-2.html' title='Serba-serby Derby (2)'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-7207320385037086216</id><published>2008-04-04T14:09:00.005+07:00</published><updated>2011-10-21T17:31:05.661+07:00</updated><title type='text'>In Memoriam drg. Endang Witarsa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCLy4wv_m5I/AAAAAAAAAKg/OH6N8se6CmU/s1600-h/Endang+Witarsa.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197983976911772562" src="http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCLy4wv_m5I/AAAAAAAAAKg/OH6N8se6CmU/s400/Endang+Witarsa.jpg" style="cursor: pointer; display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang teman yang baru saja menyelesaikan aktivitas pengumpulan data baik primer maupun sekunder untuk kepentingan tugas akhirnya di klub &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Union Makes Strength&lt;/span&gt; (UMS) 80 Jakarta. UMS 80 atau yang lebih sering disebut UMS saja adalah perkumpulan olahraga tertua di Indonesia. Klub yang awalnya bernama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tiong Hoa Hwee Koan Scholar's Football Club&lt;/span&gt; ini berdiri pada tahun 1905 dan berganti nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Union Makes Strength&lt;/span&gt; pada tahun 1914.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan itu, saya iseng menanyakan apakah selama di UMS sempat berjumpa dengan drg. Endang Witarsa yakni Ketua Umum Yayasan POR UMS dan pelatih Sepakbola POR UMS. Pada akhirnya, teman saya itu mungkin bakal menyesali kegagalannya bertemu dengan beliau. Sebab pada hari Rabu lalu, 2 April 2008, pukul 04.30 WIB drg. Endang Witarsa meninggal dunia di Rumah Sakit Pluit, Jakarta, setelah sempat dirawat selama tiga pekan sejak 10 Maret lalu. Dan dunia sepak bola Indonesia pun kehilangan salah satu putra terbaiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter, Oom atau Opa Endang, sapaan akrab beliau, meninggalkan dua orang putra, dua putri, 12 cucu, dan tujuh cicit. Sementara sang isteri Kartika Sulindro telah lebih dulu menghadap Yang Maha Kuasa dua tahun lalu. Jenasah disemayamkan di Rumah Duka RS Dharmais, Jl S Parman Jakarta Barat, ruang D-F, dan akan dikremasi di Oasis Lestari, Tangerang, Banten, pada Minggu, 6 April.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jejak Langkah Sang Legenda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Drg. Endang Witarsa yang dilahirkan di Kebumen pada tanggal 4 Oktober 1916 dengan nama Liem Soen Joe adalah bungsu dari sembilan bersaudara. Setelah menyelesaikan pendidikan MULO dan HBS di Kebumen, Endang muda sempat bimbang dihadapkan pada pilihan antara STOVIA Jakarta atau STOVIA Surabaya untuk kuliah kedokteran gigi. Akhirnya, beliau memilih yang kedua dengan alasan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"podo jawane"&lt;/span&gt;. Pada tahun 1941, setelah meraih gelar dokter gigi, ia menikahi rekan sekelasnya, Kartika Sulindro, yang berusia dua tahun lebih tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karir sebagai pemain dimulai dengan bergabung dengan klub di Kebumen tempat asalnya. Saat di Malang, Endang Witarsa sempat mencicipi rasanya menjadi pemain Persema Malang. Belum begitu lama di Malang, beliau lalu pindah ke Jakarta karena tugas dan menjadi pemain Klub UMS pada tahun 1948 sebagai gelandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1951, setelah gantung sepatu, karir gemilangnya sebagai pelatih pun dimulai dengan klub pertamanya yaitu UMS. Sepuluh tahun kemudian beliau melatih tim Macan Kemayoran, Persija Jakarta, sampai tahun 1966. Bimbingan dan polesannya berbuah prestasi besar yakni membawa Persija menjadi juara Perserikatan 1964 dengan PSM Makassar sebagai runner-up.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiprah panjang nan sukses sebagai pelatih tim nasional berawal dari tim PSSI Junior pada tahun 1965. Selama tiga tahun, dari tahun 1967 sampai tahun 1970, terjadi rangkap tugas yakni melatih tim nasional Junior dan Senior sekaligus. Setelah itu, fokus dan perhatiannya hanya untuk tim nasional Senior saja. Pengabdiannya di timnas Senior baru paripurna di tahun 1980. Selama kurang lebih 13 tahun kepemimpinannya, tim nasional menjuarai sejumlah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;event &lt;/span&gt;internasional. Diantaranya yakni juara Aga Khan Cup di Dacca, Pakistan (1967), Merdeka Games di Kuala Lumpur 1969, Kings Cup di Bangkok Thailand 1970, Anniversary Cup III di Jakarta 1972, Pesta Sukan di Singapura (1972), dan President Cup di Korea (1973).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endang Witarsa tak hanya memproduksi sederet prestasi bagi timnas namun juga telah melahirkan puluhan pemain bagus yang jadi pilar tim nasional dekade 1960-an sampai 1990-an. Berikut adalah beberapa nama besar dalam dunia sepak bola tanah air yang pernah ditanganinya, seperti Anwar Ujang, Djamiat Dalhar, Thio Him Tjiang, Peng Hong, Kwi Kiat Sek, Thio Him Toen, Alai, Soetjipto Soentoro, M Basri, Ronny Paslah, Yakob Sihasale, Abdul Kadir, Risdianto, Iswadi Idris, Ronny Pattinasarany, Surya Lesmana, Wahyu Hidayat, Gunawan, Bambang Sunarto, Yuswardi, Yusak Susanto, Sinyo Aliandoe, Yudo Hadianto, Reny Salaki, Arjuna Rinaldi, Warta Kusumah, Widodo C.Putra, termasuk pelatih timnas Senior saat ini Benny Dollo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain merasakan kerasnya kompetisi Perserikatan, Opa Endang juga sempat menjajal atmosfer kompetisi semi-profesional Liga Sepak bola Utama (Galatama) melalui klub Warna Agung. Ketika Warna Agung bubar pada 1980-an, beliau pun kembali ke lapangan Petaksinkian untuk melatih tim UMS 80 hingga akhir hayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengabdian panjangnya pada sepak bola berbuah dua penghargaan sekaligus dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pelatih terlama (55 tahun) dan tertua (90 tahun), 21 Januari 2007 silam. Opa Endang juga mendapat penghargaan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lifetime Achievement Award&lt;/span&gt; versi Antv Sport Award (ASA), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fair Play Award &lt;/span&gt;dari Jawa Pos Group serta anugerah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lifetime Achievement Award&lt;/span&gt; dari Sampoerna di ajang Bintang Emas Copa Dji Sam Soe Indonesia 2007 di hotel Mulia, Jakarta, 19 Februari 2008 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Everything a Man should be&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menengok sepak terjangnya, Opa Endang adalah sosok hebat dan nama penting di dunia sepak bola Indonesia. Tak hanya karena sumbangan prestasinya yang gemilang sebagai pelatih tim nasional di akhir tahun 1960-an sampai awal 1980-an, namun juga karena dedikasi dan rasa cintanya yang luar biasa besar pada sepakbola. Cinta yang diwujudkan dengan pengabdian dan pengorbanan total untuk sepak bola hingga akhir hayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opa Endang menjatuhkan pilihan hidup pada sepak bola untuk kemudian mengabdikan seluruh hidupnya bagi sepak bola Indonesia. Beliau telah mendarmabaktikan 80 tahun dari 92 tahun usianya sepenuhnya untuk sepak bola. Mulai dari menjadi pemain di tingkat klub di Kebumen tempat asalnya. Terus meningkat menjadi pemain &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bonden&lt;/span&gt; di Malang, Surabaya hingga ke Bandung dan Jakarta. Merintis karir pelatih di UMS hingga menuai prestasi cemerlang sebagai pelatih tim nasional. Saat fisiknya tak lagi kuat untuk menopang tubuhnya, beliau tak surut langkah untuk tetap datang ke lapangan Petaksinkian mendampingi para pemainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Torehan emas prestasi tim nasional hadir berkat pendekatan ideal Opa Endang sebagai pelatih. Opa adalah sosok yang sangat tekun dan fokus terhadap pekerjaannya sebagai seorang pelatih sepak bola. Beliau dikenal keras, disiplin tinggi tanpa kompromi, dan sering memarahi pemain yang tidak menjalankan instruksinya atau tidak punya inisiatif atau terlambat datang di tempat latihan. Tidak banyak pemain yang tahan menghadapi omelan Opa Endang. Namun bagi yang mengerti, kecerewetan itu adalah demi kebaikan bersama, demi kejayaan tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau pun tidak mengambil sepeser pun keuntungan materi dari sepak bola, bahkan telah menghabiskan uang untuk sepak bola. Simak komentarnya “Saya dulu kaya raya, sepulang dari sekolah di Amerika Serikat, saya buka praktek, banyak duit, tapi saya pasti sudah mati. Mending sekarang, saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kere&lt;/span&gt;, melarat, tapi hidup saya bahagia” Padahal, ketika itu, profesi dokter termasuk dokter gigi adalah profesi yang sangat banyak diminati di Indonesia. Sulit mencari tokoh sekaliber Opa Endang yang mau mengabdi tanpa pamrih yang banyak justru kaum oportunis yang hendak mencari kekayaan dan kejayaan pribadi dari sepak bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadirannya ke ajang ' Bintang Emas Copa Dji Sam Soe Indonesia 2007' di hotel Mulia, Jakarta adalah bukti sahih tentang perhatiannya pada perkembangan sepak bola nasional. Meskipun harus dipapah oleh mantan anak-anak didiknya seperti Ronny Paslah dan Judo Hadianto. Usai menerima penghargaan, beliau menyempatkan diri untuk menyampaikan pesan kepada para pemain sepak bola Indonesia. "Terima kasih. Saya harap pemain sekarang lebih kuat main bolanya. Jangan hanya pelesiran. Main bola..., main bola..., main bola. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thank you&lt;/span&gt;,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pun merasakan sebuah kehilangan besar, ditinggalkan oleh tokoh yang tanpa publisitas berlebih telah mengisi urat nadi persepakbolaan nasional. Sosok yang lahir dari sepak bola, hidup untuk sepak bola, dan meninggal demi sepak bola. Selamat jalan drg. Endang Witarsa. Damailah di sisi-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-7207320385037086216?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/7207320385037086216/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=7207320385037086216&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/7207320385037086216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/7207320385037086216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2008/04/in-memoriam-drg-endang-witarsa.html' title='In Memoriam drg. Endang Witarsa'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCLy4wv_m5I/AAAAAAAAAKg/OH6N8se6CmU/s72-c/Endang+Witarsa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-6591751691598227154</id><published>2008-03-31T14:34:00.002+07:00</published><updated>2011-10-21T20:21:42.591+07:00</updated><title type='text'>Serba-serby Derby*</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;*Ini adalah bagian pertama dari dua tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir bulan Maret ini hawa panas berhembus dari Stadion Anfield. Di stadion berkapasitas 43.074 penonton tersebut mementaskan pertandingan sepakbola yang sohor dengan titel derby Merseyside antara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Reds&lt;/span&gt; Liverpool FC vs. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Toffees&lt;/span&gt; Everton. Derby Merseyside edisi yang ke-178 di liga dan ke-207 secara keseluruhan itu bukanlah sekadar pertandingan liga biasa, hiruk pikuknya sudah terasa jauh hari sebelum laga dihelat dan efek pertandingannya tak mudah hilang dalam tempo cepat. Media massa baik lokal maupun global ikut meramaikan dengan publisitas porsi berita dan ulasan yang massif. Selama pertandingan, dua tim bertarung dengan hasrat akan kemenangan dan ketegangan emosi yang lebih dari biasanya. Sedangkan para pendukung, selain dukungan menggebu untuk tim kesayangannya, pun berlaku seakan hendak mengirimkan teror neraka dengan agitasi dan cemoohannya pada para pemain lawan.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena yang kurang lebih sama dari beberapa pertandingan bertema derby juga terjadi dalam pekan yang sama, yaitu derby Sofia antara Lokomotif vs. CSKA Sofia (Bulgaria), derby Belgrade Partizan vs. Crvena Zvezda di Belgrade (Serbia) dan salah satu yang termasyhur adalah derby Glasgow atau Old Firm di Stadion Ibrox Park yang mempertemukan Glasgow Rangers melawan Glasgow Celtic yang seperti halnya derby Merseyside berakhir dengan skor 1-0 juga letupan emosi di sana sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pelbagai liga dunia terdapat sedikitnya puluhan pertandingan dengan tajuk derby. Seperti halnya derby Merseyside dan Old Firm, situasi derby lainnya bersituasi nyaris seragam. Meski pelakunya tak selalu seimbang dari segi prestasi dan reputasi, pertandingan derby tetap memberi garansi akan hadirnya laga bertensi tinggi. Setiap derby memiliki daya tarik alias magnet bagi setiap pecinta sepakbola dunia. Pun menjadi tema laris yang disukai oleh media massa baik lokal, nasional maupun internasional. Betapa derby telah menjadi peristiwa penting dalam jagat sepakbola seperti halnya big match dan final kejuaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dur-bee, dar-bee &amp;amp; Derby: Dalam Tinjauan Sejarah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Derby, yang dilafalkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'dur-bee'&lt;/span&gt; dalam American English dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'dar-bee'&lt;/span&gt; dalam British English, di benak banyak orang terlanjur dimaknai sebagai pertandingan olahraga, khususnya sepakbola, antara dua tim dalam lingkup geografis (kota atau daerah) yang sama. Meski demikian, persaingan klasik antara dua klub satu negara seperti Internazionale-Juventus, Paris St. Germain-Olympique Marseille, Ajax Amsterdam-Feyenoord, dan Real Madrid-Barcelona pun terkadang dikategorikan sebagai pertandingan derby.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya memang tak mudah untuk menemukan definisi derby yang perbawa. Berbagai sumber yang hendak diacu menawarkan perspektif yang amat beragam. Banyak diantaranya tak berkaitan dengan tema pertandingan sepakbola, referensi yang mengkonfirmasi makna seperti yang telah diyakini oleh khalayak umum pun menjadi sulit dijumpai. Definisi yang berlaku saat ini lebih sebagai tafsir atas asal usul kata derby.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak kemungkinan teori yang berkembang, terdapat teori yang lebih dapat diterima. Kata derby konon berasal dari kontes tahunan pertandingan sepakbola kolosal bertajuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Royal Shrovetide Football&lt;/span&gt; di kota Ashbourne di Derbyshire. Dua tim dari dua bagian kota Ashbourne yang dipisahkan oleh Sungai Henmore Brook bertanding untuk menjadi yang terbaik di kontes ini.  Dua tim yang bertanding yaitu, tim Up’Ards yang berasal dari sisi utara sungai dan tim Down’Ards dari sisi selatan sungai. Dari kontes di Derbyshire itulah kemudian menjadi inspirasi bagi penamaan pertandingan sepakbola antar tim satu daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dari Rivalitas Sektarian hingga Politik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Derby bukanlah sekadar pertandingan untuk meraup nilai penuh dan memperebutkan posisi yang lebih tinggi dalam bingkai kompetisi Liga maupun perebutan piala. Merujuk pada sekian banyak fakta, bagi para pelakunya derby menjadi hal yang lebih penting daripada gelar juara itu sendiri. Bahkan suatu waktu ada yang menyebutnya lebih penting daripada final Piala Dunia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ayal setiap derby memiliki atmosfer lebih panas dan lebih menegangkan dari pertandingan biasa. Pada beberapa derby, sumber ketegangan itu bisa berupa rivalitas politik dan sektarian dari komponen klub hingga para pendukungnya. Dalam hal ini pertandingan sepakbola menjadi media lanjutan atas rivalitas dan atau konflik yang sudah ada sebelumnya di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang terjadi pada derby Glasgow &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Old Firm&lt;/span&gt; antara dua tim terkemuka dan paling sukses di Skotlandia. Dengan intensitas pertemuan hingga lebih dari empat kali di Liga Utama Skotlandia, derby &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Old Firm&lt;/span&gt; dianggap sebagai derby terbesar sepanjang sejarah olahraga. Namun derby ini tak sekadar rivalitas sederhana antar tim sepakbola dalam wadah satu liga namun kompetisi yang disarati dengan serangkaian perselisihan yang kompleks diantaranya berakar pada perbedaan agama dan perbedaan relasi politik. Pertandingan antar tim satu kota Glasgow ini menjadi medium lain penyaluran tribalisme purba yaitu konflik disertai kekerasan antara Katolik dengan gerakan Reformasi Protestan dan perbedaan relasi politik Loyalis-Republikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Glasgow Celtic yang berdiri tahun 1888 dibentuk untuk membendung pengaruh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;zending &lt;/span&gt;Protestan sekaligus memupus mitos inferioritas Katolik terhadap Protestan. Demi melihat kesuksesan Celtic di liga, umat Protestan pun merasa perlu untuk menguasai kembali kompetisi di negara itu. Glasgow Rangers yang sejatinya tidak cukup memiliki maksud-maksud religius dan politik namun menang berulang kali terhadap Celtic akhirnya menjadi kendaraan bagi kaum Protestan Skotlandia dalam menyalurkan aspirasi religius dan politiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hasil pertandingan mereka menjadi bahan bakar yang semakin melestarikan permusuhan dan kebencian dari perang antar agama yang telah terjadi berabad-abad sebelumnya. Derby ini sekaligus mempertemukan suporter Celtics “Tims” yang merupakan kombinasi dari nama geng Katolik yang menyebut dirinya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tim Malloys&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Calton&lt;/span&gt; dengan pendukung Rangers yang menyebut dirinya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Billy Boys&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Billy Boys&lt;/span&gt; adalah geng yang menghabisi umat Katolik Glasgow antara Perang Dunia Pertama dan Kedua. Pada tahun 1920-an, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Billy Boys&lt;/span&gt; mendirikan cabang lokal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ku Klux Klan&lt;/span&gt;. Nama Billy sendiri diambil dari nama pendiri geng yaitu Billy Fullerton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran apabila di stadion bermunculan simbol-simbol dan nyanyian yang menunjukkan fanatisme religius mereka dan kebencian etnis. Selain mempertentangkan antara Katolik dan Protestan juga sentiment Loyalis Inggris dan Republikan Irlandia Utara. Rangers yang loyalis pada imperium Inggris Raya dan Celtic identik dengan teroris gerilyawan IRA dengan cita-cita Republik Irlandia. Tak heran bila muncul banyak warna di arena pertandingan yaitu biru royalis warna khas bangsawan Inggris, oranye Ulster yang identik dengan William of Orange, dan hijau Irlandia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rivalitas penuh kebencian yang telah berumur tua sejatinya hendak dikurangi tensinya oleh kedua klub dengan bekerjasama dengan Parlemen, kelompok-kelompok gereja, dan organisasi komunitas. Meskipun belum tercapai kesepakatan pada jenis lagu dan bendera yang boleh digunakan, sedikitnya telah terdapat kemajuan. Terhitung sejak tahun 1996 Celtic meluncurkan kampanye Bhoys Against Bigotry yang kemudian dilanjutkan dengan kampanye Y&lt;span style="font-style: italic;"&gt;outh Against Bigotry&lt;/span&gt; dengan pesan moral &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"educate the young on having ... respect for all aspects of the community - all races, all colours, all creeds.”&lt;/span&gt; Di tahun 2003 Rangers menyusul dengan meluncurkan kampanye anti-sektarian yang bertajuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pride Over Prejudice&lt;/span&gt; yang sekarang telah berganti nama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Follow With Pride&lt;/span&gt;. Bahkan pada 9 Juni 2006, Rangers bersama dengan perwakilan beberapa kelompok suporter mengumumkan akan mematuhi tiga perintah UEFA yang salah satu diantaranya melarang dengan keras lagu-lagu anti-sektarian.&lt;br /&gt;(bersambung…)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-6591751691598227154?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/6591751691598227154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=6591751691598227154&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/6591751691598227154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/6591751691598227154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2008/03/serba-serby-derby.html' title='Serba-serby Derby*'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-2265042759902388533</id><published>2008-03-12T08:53:00.013+07:00</published><updated>2008-11-13T12:06:55.361+07:00</updated><title type='text'>Fans Poligami &amp; Cinta yang Terbelah</title><content type='html'>Oleh: Aji Wibowo&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Liverpool Hustle, Inter Unbolted &lt;/span&gt;&lt;span&gt;(19 Februari 2008)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Liverpool 2 (Kuyt 85, Gerard 90), Internazionale 0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCGSUQv_m4I/AAAAAAAAAKY/_LBLvJGviaU/s1600-h/PROP080219-29-Liverpool_Inter.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCGSUQv_m4I/AAAAAAAAAKY/_LBLvJGviaU/s400/PROP080219-29-Liverpool_Inter.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197596321753570178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Anfield menjadi salah satu stadion terbaik di dunia bukan disebabkan tampilan fisik bangunannya yang modern dan berkapasitas besar layaknya Allianz Munchen, ArenA Amsterdam, dan lainnya. Namun lebih karena tim yang bermain di sana, Liverpool, dan suporternya yang sanggup menyuguhkan atmosfer hebat di dalamnya. Konfirmasi sahih pun tersaji pada saat Liverpool bertemu Internazionale Milan di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;le&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;g&lt;/span&gt; pertama Liga Champion Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liverpool alias &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Reds&lt;/span&gt; a.k.a &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Kop&lt;/span&gt;, menatap pertandingan dengan bekal situasi yang kurang baik. Pada pertandingan terakhir menjelang melawan juara Serie A ini, Liverpool kalah 1 – 2 dari Barnsley, tim Divisi I, yang membuat mereka tersingkir dari ajang FA Cup 2007 yang tragisnya terjadi di Stadion Anfield, kandang mereka. Disisi lain, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;La Beneamata&lt;/span&gt; Inter justru belum tersentuh kekalahan dan semakin kokoh di puncak kompetisi domestik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta di atas lapangan ternyata berkata lain. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Reds&lt;/span&gt; sepertinya memanfaatkan penuh pengalaman para pemainnya di kancah Liga Champion (juara 2004/2005 &amp;amp; finalis 2006/2007) dan tentunya pendukung serta aura Stadion Anfield. Liverpool adalah salah satu “baron” Liga Champion dan sepertinya tak pernah merasa kikuk untuk bermain gemilang di ajang tertinggi antar klub di benua biru itu. Inter sendiri gagal menyeberangkan dominasi dan kematangan permainannya di daratan Italia melintasi Selat Channel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dua kali 45 menit, Liverpool benar-benar menunjukkan hasrat untuk menangnya. Stevie G dkk bermain dengan tempo cepat dan memainkan bola lebih sering dibanding Javier Zanetti cs. Dominasi itu semakin kentara setelah dikeluarkannya Marco “Matrix” Materazzi oleh wasit Jerman, Frank De Bleckere, yang membuat prosentase penguasaan bola Inter terus merosot, 36% di akhir babak pertama, 34% di awal babak kedua dan akhirnya keseluruhan Inter hanya memiliki 32% atau 17 menit 22 detik! Meski demikian tak mudah untuk membuka pintu pertahanan gerendel Inter yang seakan tertutup rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengalaman Rafa, Pelajaran Mancio&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pertandingan sepertinya akan berakhir imbang dan ketabahan para pemain Inter akan terbayar. Namun, Rafael “Rafa” Benitez punya misi untuk menyeimbangkan kursi manajernya yang sedang goyah. Dia membutuhkan kemenangan dengan berupaya menambah intensitas serangan dengan menukar Lucas Leiva dengan Peter Crouch. Kemudian menarik Ryan Babbel untuk digantikan dengan Jermain Pennant. Kenapa bukan Dirk Kuyt yang diganti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya penonton mendapatkan jawabannya, Liverpool saat itu butuh pemain sayap dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;crossing&lt;/span&gt; bagus dari sisi kiri Inter dimana Maxwell sudah sangat terkuras staminanya. Namun juga masih tetap membutuhkan pemain depan yang rajin mengganggu pertahanan lawan dan kualitas seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;finisher&lt;/span&gt;, disini Kuyt memenuhi kebutuhan tersebut. Dan keinginan Rafa pun terwujud. Kuyt membuktikan fungsinya dan Pennant menjawab dengan dua assistnya. Kejelian Rafa adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;de javu&lt;/span&gt; Istanbul 2005. Hasrat menang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Reds&lt;/span&gt;-lah yang membuka pertahanan kokoh Inter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafa sukses, bagaimana dengan Mancio? Secara keseluruhan tidak ada blunder dari taktiknya. Kekalahan Inter hasil dari kombinasi dua faktor yaitu penampilan pemain Nerazzuri yang tidak biasanya, dan aksi gemilang permainan menyerang Liverpool. Pelajaran penting justru diperoleh Mancio, Inter ternyata belum mendapat cobaan yang sebenarnya di dalam negeri. Tak pernah kalah bahkan dengan sepuluh pemain sekalipun tidak bisa disamakan di ajang Liga Champion. Mancini harus segera menemukan tonik untuk membangkitkan kembali semangat anak asuhnya. Apabila dibiarkan bisa berdampak pada penampilan di liga domestik. (Pada kenyataannya prediksi ini terbukti, Inter sulit menang bahkan mengalami kekalahan pertamanya di Serie A dari Napoli)'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kado Pahit Centenary (12 Maret 2008)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Internazionale 0, Liverpool 1 (Torres 64)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCGRogv_m3I/AAAAAAAAAKQ/mcy_rGN0ovs/s1600-h/1378113805-soccer-uefa-champions-league-quarter-final-second-leg-inter-milan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCGRogv_m3I/AAAAAAAAAKQ/mcy_rGN0ovs/s400/1378113805-soccer-uefa-champions-league-quarter-final-second-leg-inter-milan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197595570134293362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;9 Maret 2008 genap seabad eksistensi Internazionale Milan sebagai sebuah klub sepak bola. Perayaan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;centoanni&lt;/span&gt; ini bukan momentum remeh yang bisa disetarakan dengan peringatan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;milad&lt;/span&gt; (hari lahir) tahun-tahun sebelumnya. Moment langka yang mesti dirayakan dengan megah dan pastinya meminta kado yang lebih dari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inter jelas tidak ingin seperti yang dialami Real Madrid dalam moment seratus tahunnya. El Real merayakannya tanpa kado yang manis berupa torehan prestasi gemilang dari para pemainnya. Saat itu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Los Blancos&lt;/span&gt; gagal mendapatkan satu gelar pun dari semua ajang yang diikutinya. Berkaca dari pengalaman Madrid, demi kado yang indah, Inter pun hendak mencoba mengamankan jalur gelar termasuk di ajang Liga Champion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;leg&lt;/span&gt; kedua ini, situasi internal kedua klub itu terbalik. Inter dirundung krisis pemain belakang dan hanya bisa sekali menang dalam beberapa pertandingan terakhirnya. Di sisi lain, Liverpool justru sedang dalam jalur kemenangannya. Semenjak kalah dari Barnsley di FA Cup, Gerrad cs berturut-turut mengalahkan Inter (H) 2-0, Middlesbrough (H) 3-2, Bolton Wanderers (A) 3-1, West Ham United (H) 4-0, Newcastle United (H) 3-0. Modal lain Liverpool adalah penampilan Fernando &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“El Nino”&lt;/span&gt; Torres yang sedang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;on fire&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak perubahan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;line up&lt;/span&gt; dari kedua tim. Mancio mengganti Ivan Cordoba, Marco Materazzi, dan Maxwell dengan Nelson Rivas, Nicolas Burdisso, dan Patrick Vieira. Sedangkan Rafa hanya mengganti Steve Finnan dengan Jamie Carragher yang berbuah penampilan keseratus &lt;span style="font-style: italic;"&gt;vice-captain&lt;/span&gt; itu di ajang antar klub Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan modal kemenangan yang diraihnya saat di kandang, Liverpool bermain lebih lepas, cenderung aman dan mengandalkan serangan balik. Inter yang terjepit, mengambil inisiatif penyerangan dan menguasai permainan dengan beberapa peluang melalui Julio Cruz. Meski prosentase penguasaan bola di tangan Inter namun jelas terlihat bahwa pemain-pemain Liverpool-lah yang banyak berlari dan menutup setiap potensi bahaya dari Inter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartu kuning kedua yang diterima Nicolas Burdisso dan hilangnya kewaspadaan akibat keinginan menggebu menjebol gawang lawan, berbuah pahit bagi Inter. Serangan balik via sayap kiri Fabio Aurelio diakhiri eksekusi elegan dari Fernando &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“El Nino”&lt;/span&gt; Torres. Satu gol yang sangat mematikan sebab mengharuskan Inter menjebol gawang Liverpool sedikitnya empat gol dan tanpa kebobolan lagi. Setelah gol Torres, permainan menjadi hambar dan lebih mirip dengan pertandingan saat sesi latihan. Para pemain Inter sepertinya sudah putus asa dan kehilangan motivasi bahkan untuk sekadar menyelamatkan muka dari kekalahan di depan para tifosinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laju Liverpool ke perempat final UCL, seakan menegaskan kualitas kompetisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;English Premiere League. &lt;/span&gt;Empat wakilnya tetap utuh dan menjadi yang terbanyak di fase perempat final. Sedangkan empat kontestan lainnya masing-masing mewakili empat negara yang berbeda. Keberhasilan tersebut tentunya bukan produk instan tetapi buah dari upaya serius administratur sepak bola Inggris dalam membangun kompetisi yang hebat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-2265042759902388533?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/2265042759902388533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=2265042759902388533&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/2265042759902388533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/2265042759902388533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2008/03/liverpool-hustle-inter-unbolted.html' title='Fans Poligami &amp; Cinta yang Terbelah'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCGSUQv_m4I/AAAAAAAAAKY/_LBLvJGviaU/s72-c/PROP080219-29-Liverpool_Inter.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-2119032176647725199</id><published>2008-01-30T21:44:00.007+07:00</published><updated>2008-11-13T12:06:55.528+07:00</updated><title type='text'>Soeharto &amp; Status Quo PSSI</title><content type='html'>Oleh: Aji Wibowo&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMfjAv_nJI/AAAAAAAAAMg/XaanNunP99E/s1600-h/p_suharto.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMfjAv_nJI/AAAAAAAAAMg/XaanNunP99E/s400/p_suharto.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198033081272867986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tutup usianya HM Soeharto, presiden ke-2 RI, Minggu, 27 Januari 2008 pada pukul 13.10 WIB mendapat perhatian yang amat besar dari masyarakat. Dengan campur tangan media, sakit dan meninggalnya Soeharto menjadi peristiwa besar yang mampu meminggirkan berita-berita lainya tentang berbagai problem dan kesulitan yang sedang dialami masyarakat dan bangsa ini. Kematian Soeharto, disaat segala proses hukumnya belum tuntas, ini telah memicu beragamnya pandangan masyarakat terhadap status dan bagaimana menyikapi serta memperlakukan Soeharto. Begitu beragamnya pandangan masyarakat bahkan sudah menjurus pada kecenderungan untuk membelah bangsa ini pada dua kutub, baik yang pro dan kontra Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua belah pihak baik yang pro maupun yang kontra memiliki alasan dan motif yang menurut mereka baik. Namun, akan lebih bijak apabila masing-masing pihak tidak memaksakan pandangannya dan membekali pikiran mereka dengan alternatif perspektif yang lebih banyak. Pro kontra itu termasuk persoalan perlunya memaafkan atau tidak memaafkan Soeharto. Seperti yang kita ketahui, keluarga besar Soeharto melalui putri tertuanya, Siti Hardiyanti Rukmana, meminta maaf pada rakyat Indonesia seandainya beliau dalam memerintah dan semasa hidupnya telah berbuat salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap agama mengajarkan bahwa meminta maaf adalah pertanda kerendahan hati sedangkan memberi maaf adalah cermin kebesaran jiwa. Ketika Soeharto diwakili keluarga berkenan meminta maaf pada masyarakat sudah semestinya kita yang merupakan bagian dari masyarakat alangkah baiknya memiliki kelapangan hati untuk memaafkan. Kredit khusus pada korban-korban politiknya yang telah bersedia membukakan pintu maaf. Yang harus disesali dalam hal ini adalah tidak dituntaskannya proses hukum Soeharto saat masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Soeharto &amp;amp; Sepak bola Nasional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam masa kekuasaannya yang begitu panjang, 32 tahun, mestinya banyak sekali jejak yang ditinggalkan, salah satunya amat mungkin adalah di medium sepak bola nasional. Sayangnya dalam kapasitasnya sebagai presiden tidak banyak catatan yang menunjukkan kontribusi signifikan dari jenderal bintang lima itu bagi perkembangan sepak bola nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak referensi yang menautkan Soeharto dengan olahraga rakyat ini. Beberapa sumber hanya menceritakan bahwa Soeharto kecil begitu gemar bermain bola. Dalam penilaian teman-teman masa kecilnya, yang tentunya berbeda dengan penilaian jeli seorang pelatih, Soeharto dianggap handal dalam memainkan si kulit bundar. Terutama dalam melakoni peran sebagai pemain belakang. Karakter “lugas”nya sebagai pemimpin, baik politik maupun militer, bisa jadi tumbuh dari perannya sebagai pemain belakang yang biasanya dikenal tanpa kompromi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa lalu PSSI pernah menyelenggarakan turnamen sepak bola dengan tajuk Piala Soeharto selama tiga penyelenggaraan pada tahun 1972, 1974, dan 1976. Bermula dari krisis keuangan dan kewibawaan yang parah di tubuh PSSI era Kosasih Poerwanegara SH pada akhir tahun 1972. Saat itu, PSSI menderita defisit keuangan Rp33 juta, tagihan-tagihan yang mendesak terus mengalir, kas kosong, sedangkan usaha-usaha mendapatkan pinjaman dari bank yang dilakukan sementara anggota pengurus tidak membawa hasil. Semua krisis tersebut mendorong Bardosono (yang saat itu menjabat sebagai komisaris umum PSSI) untuk meminta perhatian pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari melaporkan berbagai kesulitan yang membelit di organisasi PSSI, Bardosono juga menawarkan gagasan penyelenggaraan turnamen sepak bola dengan mengambil nama Presiden RI kedua itu sebagai nama pialanya. Setelah dilapori, Soeharto yang sudah menjabat selama enam tahun memberi pinjaman Rp12 juta (6-8 bulan tanpa bunga) sebagai modal kerja, dan kemudian mengusulkan 4 tim terkuat dari 8 Besar Kejurnas PSSI 1971 untuk diikutkan dalam Piala Soeharto I/1972. Usul tersebut disetujui oleh rapat pengurus PSSI saat itu. Maka, digelarlah Piala Soeharto I/1972 pada 11-18 Desember 1972.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperkaya informasi, berikut adalah rekapitulasi Piala Soeharto:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Piala Soeharto I&lt;/span&gt;/1972 (11 - 18 Desember 1972)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Piala Soeharto edisi perdana diikuti “4 Besar” Kejurnas PSSI 1971, yaitu PSMS (Medan), Persija (Jakarta), Persebaya (Surabaya), dan PSM (Makassar).&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Piala Soeharto II&lt;/span&gt;/1974 (4 - 11 November 1974)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Pesertanya tetap, yaitu “4 Besar” Kejurnas PSSI periode sebelumnya yaitu: Persija (Jakarta), PSMS (Medan), PSM (Makassar), dan Persebaya (Surabaya). Pada edisi ini PSM Makassar keluar sebagai juara.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Piala Soeharto III&lt;/span&gt;/1976 (9 - 19 April 1976)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Semula, sebagaimana biasanya, Piala Soeharto III/1976 akan diikuti oleh “4 Besar” Kejurnas PSSI periode sebelumnya. Namun, karena juara Piala Soeharto II/1974, PSM (Makassar) tidak masuk “4 Besar” Kejurnas PSSI 1975, jumlah pesertanya menjadi 5 tim dengan tetap mengikutsertakan PSM (Makassar). Sedangkan peserta lainnya adalah Persebaya (Surabaya), PSMS (Medan), Persija (Jakarta), Persipura (Jayapura). Pada penyelenggaraan yang ketiga diadakan pertandingan final yang mempertemukan peringkat pertama dengan runner-up.&lt;br /&gt;Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan (Jakarta): Persipura (Jayapura) vs Persija (Jakarta) 4-3 (Nico Pattipene 11, Jacobus Mobilala 27, Pieter Attiamuna 31, Timo Kapisa 67; Risdianto 36, Iswadi 41, 90).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Budak Kekuasaan dan Menjamurnya Kroniisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesulitan menemukan benang merah yang pas antara Soeharto dengan sepak bola nasional. Pikiran ini justru nyasar pada kemungkinan benang merah yang lebih cocok yaitu kondisi yang relatif sama adalah bahwa PSSI Nurdin Halid seperti Orde Baru dibawah Soeharto dengan arogansi kekuasaan luar biasa yang sulit untuk dilakukan perubahan. Kekuasaan menjerat mereka untuk selalu tunduk dan menjadi budak kekuasaan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relevansi lainnya tentunya adalah kecenderungan untuk melakukan korupsi. Buktinya teramat banyak, untuk NH sendiri diantaranya yaitu "mengkonsumsi" gula terlalu banyak, dan yang terbaru minyak goreng.Selain itu, gejala kroniisme berlaku di PSSI. Lihat bagaimana para pengurus PSSI mati-matian membela ketua umumnya meski dituntut oleh berbagai pihak untuk mundur. Dengan banyak dalih, mereka membentuk "pagar betis" melindungi NH dari hujan kritik dan tuntutan mundur. Bisa jadi loyalitas buta itu terkait kesejahteraan dan kepentingan yang terancam seandainya NH turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiripan lainnya diantaranya yakni demokrasi semu sebagai selubung kepemimpinan yang cenderung otoriter, alergi (atau anti?) perubahan, dan pro-kemapanan. Demokrasi yang santer didengung-dengungkan mentok sebatas jargon. Kepemimpinan yang terlalu kuat telah meminggirkan asas demokrasi. Aspirasi, yang dianggap tidak sesuai dengan kebijakkan negara atau organisasi (untuk PSSI), diabaikan bahkan beberapa diantaranya dibungkam. Baik Soeharto maupun NH dalam praktek kepemimpinannya menjalankan kebijakkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;one man show&lt;/span&gt;. Khusus NH, bahkan saat di penjara pun masih sempat menelurkan keputusan-keputusan strategis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai kuatnya pengaruh Soeharto saat Orde Baru di puncak kekuasaan. Sosiolog Arief Budiman, kakak kandung (alm.) Soe Hok Gie, mengungkapkan pendapat bahwa perubahan Indonesia ke arah demokratisasi hanya mungkin terjadi dari dua sumber. Pertama adalah inisiatif Soeharto sendiri untuk mengubah kepemimpinannya menjadi lebih demokratis, dan kedua, yang terjadi karena desakan massa. Sejarah kemudian membuktikan, Soeharto lengser dan suasana politik Indonesia berubah disebabkan oleh kekuatan massa yang dipandegani mahasiswa yang sohor dengan sebutan gerakan reformasi 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan PSSI Orde NH? Sulit untuk berharap NH bisa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;legowo mandheg pandhita&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ratu&lt;/span&gt;. Jadi, berharaplah dari sumber yang kedua. Masalahnya suporter sebagai jelmaan mahasiswa belum begitu solid, masing-masing kelompok suporter terjebak dengan agendanya masing. Ironisnya, (gosipnya) ada kelompok suporter yang membela NH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan menuju sepakbola Indonesia maju masih teramat panjang. Butuh kerja keras dan semangat pantang menyerah. Suporter Indonesia, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;are you ready to fight, fight together?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-2119032176647725199?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/2119032176647725199/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=2119032176647725199&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/2119032176647725199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/2119032176647725199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2008/01/soeharto-sepak-bola-nasional.html' title='Soeharto &amp; Status Quo PSSI'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMfjAv_nJI/AAAAAAAAAMg/XaanNunP99E/s72-c/p_suharto.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-3188640619754321864</id><published>2007-12-24T14:37:00.008+07:00</published><updated>2008-11-13T12:06:55.706+07:00</updated><title type='text'>Sepak bola Indonesia: Sedih Tak Berujung</title><content type='html'>Oleh: Aji Wibowo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMKAQv_nBI/AAAAAAAAALg/QKBZl4NYNP0/s1600-h/antipssi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMKAQv_nBI/AAAAAAAAALg/QKBZl4NYNP0/s400/antipssi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198009394528230418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini adalah yang teraneh yang pernah dipostingkan di blog ini. Meski di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;upload&lt;/span&gt; tanggal 24 Desember tapi kejadian sesudahnya masih terangkum di dalamnya. Sebabnya adalah munculnya peristiwa-peristiwa tragis sepak bola nasional yang begitu menggugah dan mengiris batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;Warta buruk tentang dunia sepak bola nasional seakan tak pernah bosan menyambangi kita. Temanya tak pernah beranjak dari suporter anarkis, skandal internal pengurus, kompetisi dengan mutu pertandingan minimalis, sportifitas rendahan pemain dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;official&lt;/span&gt;, kinerja perangkat pertandingan yang amburadul, dan tentunya mampatnya prestasi tim nasional dikancah internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="georgia" style="text-align: justify;"&gt;Fakta terkini tersaji pada babak delapan besar Liga Djarum Indonesia 2007 saat pertandingan Arema Malang melawan Persiwa Wamena. Serangkaian keputusan kontroversial wasit dan perangkatnya memicu terjadinya pemukulan terhadap korps pengadil pertandingan dan berlanjut dengan amuk suporter yang ironisnya dilakukan oleh massa Aremania, pendukung Arema, yang dianggap sebagai guru kelompok suporter kreatif di Indonesia. Stadion Brawijaya Kediri membara dan lebur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMFXQv_m-I/AAAAAAAAALI/AEcmWZq61n8/s1600-h/kerusuhan_kediri.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMFXQv_m-I/AAAAAAAAALI/AEcmWZq61n8/s400/kerusuhan_kediri.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198004292107082722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="georgia" style="text-align: justify;"&gt;Sehari kemudian, menyusul insiden tak kalah memalukan lainnya di stadion Manahan Solo yaitu adu fisik beberapa pemain Persija Jakarta dan Persik Kediri. Kebobrokan sepak bola nasional seakan menjadi sempurna saat sanksi dari Komisi Disiplin diabaikan oleh para pemain terhukum. Kepercayaan pada PSSI sebagai administrator alias pengelola sepak bola nasional tercampak ke titik nadir karena diskriminatif dan tidak konsisten dengan aturan yang diputuskannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="georgia" style="text-align: justify;"&gt;Rentetan masalah itu seperti fenomena gunung es, kejadian-kejadian tersebut hanyalah puncak dari sekian banyak kisah gelap sepak bola nasional. Kasus Kediri dan Solo itu bukanlah kejadian yang berdiri sendiri dan bukannya tanpa sebab yang jelas. Meledaknya segala kekacauan pada pelaksanaan babak delapan besar adalah akumulasi dari ketidakberesan organisasi PSSI dan penyelenggaraan kompetisi sepak bola di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-family:georgia;" &gt;High Cost Competition&lt;/span&gt; &lt;div face="georgia" style="text-align: justify;"&gt;Pada pelaksanaannya, kompetisi Liga dan Copa Indonesia telah menyedot begitu banyak ongkos. Setiap tahun tak kurang ratusan milyar rupiah dihamburkan baik oleh sponsor, klub, dan tentunya masyarakat pecinta sepak bola. Klub peserta rata-rata menganggarkan belasan milyar rupiah demi mengarungi roda kompetisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="georgia" style="text-align: justify;"&gt;Namun semua biaya besar itu tidak melulu habis untuk kebutuhan wajar suatu kompetisi tapi terdapat juga biaya siluman (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;non-football cost&lt;/span&gt;). Sudah menjadi rahasia umum bahwa dana tersebut digunakan diantaranya untuk "menjamu dan menyejahterakan” wasit, paket "promosi dan degradasi", tawar menawar sanksi, serta memperlancar legalisasi dan akreditisasi pemain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="georgia" style="text-align: justify;"&gt;Anggaran klub yang sudah sedemikian terbebani oleh menggelembungnya harga kontrak dan gaji pemain asing serta lokal, akan semakin berat dengan adanya “biaya rupa-rupa” tersebut. Pahitnya hampir semua ongkos transaksi hitam itu dibiayai dari APBD alias uang rakyat. Belum lagi lamanya durasi kompetisi karena PSSI melalui BLI terlalu lentur (baca: inkonsisten) dengan rancangan jadwal yang dibuatnya mengakibatkan pembengkakan biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;In finem omnia: Kredo Salah Tafsir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;Kemenangan adalah segalanya, nyata-nyata masih menjadi kredo bagi pegiat sepakbola di Indonesia. Dengan filosofi tersebut, yang terjadi adalah ketidakdewasaan sikap dan budaya anti-sportifitas. Setiap hasil selain menang apalagi kalah akan berujung pada kemarahan. Hal inilah yang menyeret &lt;span style="font-style: italic;"&gt;official&lt;/span&gt; klub untuk menempuh segala cara termasuk melalui “jalur gelap” demi sebuah kemenangan. Akhirnya kemenangan tidak melulu ditentukan di atas lapangan hijau tetapi juga ditentukan oleh kekuatan tawar menawar di luar lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;Filosofi ini bukan hanya monopoli pihak klub dengan kekuatan uangnya tetapi juga merasuk di setiap jiwa pendukungnya. Fanatisme dan militansi yang diwujudkan dengan gaya dukungan penuh semangat termasuk bermodal nekad mendampingi kemana pun tim kesayangannya bertanding adalah manifestasi dari hasrat untuk menjadi saksi kemenangan tim kesayangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasrat tersebut bahkan seringkali berujung dengan pengorbanan nyawa dari suporter. Seperti yang terjadi pada Malik Fadli Fadilah, The Jakmania, yang tewas dalam perjalanan ke Stadion Lebak Bulus menjelang pertandingan ke-34 Liga Djarum Indonesia antara Persija melawan Semen Padang. Fadilah menyusul suporter sepakbola Indonesia lainnya yang terlebih dahulu martir pada kompetisi-kompetisi sebelumnya sebagai fanaticus anonymous seperti Suherman (suporter Persebaya), Beri Mardias (pendukung PSP Padang), Abdul Rochiem dan Mat Togel (Aremania).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu bermakna bahwa kompetisi sepak bola di negeri kita tak hanya mahal secara hitungan ekonomis namun juga dari segi yang lain. Berbagai kerusuhan dan keributan yang sempat mengemuka secara tidak langsung telah menambah kerugian yang ditimbulkan dari penyelenggaraan kompetisi. Polah anarkis penonton dan suporter semakin mencoreng citra sepak bola, mengganggu kepentingan umum, mengorbankan nyawa dan meninggalkan trauma pada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berbagai anomali tersebut, pada akhirnya kompetisi kehilangan idealisme, tujuan dan ruh kompetisi. Kompetisi yang dijalankan adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pseud&lt;/span&gt;o kompetisi alias kompetisi palsu. Dimana setiap pertandingannya menjadi sekedar dagelan dengan skenario.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Moratorium Kompetisi &amp;amp; Pembenahan Organisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Uang, harga diri bahkan nyawa telah dikorbankan sementara kompetisi berjalan sedemikian kacaunya. Semua yang dikorbankan akan sia-sia apabila insan sepak bola nasional tak sadar diri dan kembali gagal mengambil hikmah dari pengalaman. Puncak kekacauan ini harusnya dijadikan momentum strategis untuk melakukan pembenahan dan perubahan. Dan dengan prioritas perubahan adalah para pengurus PSSI sebagai regulator dan pihak dengan saham dosa terbesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah konkret pembenahan dan perubahan dapat dimulai dengan moratorium atau penghentian sementara kompetisi untuk memberi kesempatan PSSI menata ulang organisasi dan sistemnya. Hal mendesak yang harus segera dilakukan oleh pengurus PSSI yaitu mengakomodasi permintaan FIFA untuk merevisi pedoman dasar melalui mekanisme Munaslub. Keseriusan pengurus untuk merevisi pedoman dasar sesuai dengan statuta FIFA akan menjadi modal awal mendapatkan kembali kepercayaan dari masyarakat sepak bola nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya vital lainnya adalah segera mengganti ketua umum PSSI yang cacat hukum dengan pemimpin baru yang bersih dan berkomitmen memajukan sepak bola nasional. Sebab hanya dengan memiliki pemimpin yang berwibawa juga organisasi yang bersih dan berani menegakkan aturanlah sepak bola Indonesia bisa dibangunkan kembali. Untuk menjamin pengurus tidak main-main dalam membersihkan organisasinya maka stakeholder yang lain seperti suporter dan pecinta sepak bola nasional harus selalu mengawasi proses revisi dan pembenahan itu dengan kritis.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-3188640619754321864?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/3188640619754321864/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=3188640619754321864&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/3188640619754321864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/3188640619754321864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2007/12/derita-si-kambing-melahirkan-gajah.html' title='Sepak bola Indonesia: Sedih Tak Berujung'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMKAQv_nBI/AAAAAAAAALg/QKBZl4NYNP0/s72-c/antipssi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-4020837446009383623</id><published>2007-11-30T22:22:00.010+07:00</published><updated>2011-10-21T20:06:14.691+07:00</updated><title type='text'>Gabriele Sandri &amp; Fenomena Ultras</title><content type='html'>&lt;div face="georgia" style="font-family: inherit; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMHOwv_m_I/AAAAAAAAALQ/SvcbR4pHGHs/s1600-h/img_fans_lazio-100.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198006345101450226" src="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMHOwv_m_I/AAAAAAAAALQ/SvcbR4pHGHs/s1600/img_fans_lazio-100.jpg" style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sepakbola Italia alias &lt;span style="font-style: italic;"&gt;calcio&lt;/span&gt; (sekali lagi) berkalang duka, nyawa manusia tertagih selagi event Lega Serie-A hendak dilangsungkan. Menjelang pertandingan di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ornata&lt;/span&gt; 12, Gabriele “Gabbo” Sandri, Laziale (tifosi klub &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Societa Sportiva&lt;/span&gt; (SS) Lazio) berumur 26 tahun yang juga seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;disc jockey&lt;/span&gt; tenar di Roma, menjadi korban kesekiankali dari ganasnya kompetisi calcio. Sandri terkulai di dalam mobilnya di jalan bebas hambatan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Badia al Pino Arezzo&lt;/span&gt; setelah peluru dari pistol &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Beretta&lt;/span&gt; 92 caliber 9 mm milik seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;polizia&lt;/span&gt; bernama Luigi Spaccararotella “nyasar” menembus lehernya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian Sandri sendiri hanya berjarak 9 bulan 9 hari dari insiden Catania. Saat itu, usai derby Sisilia antara Catania vs. Palermo, pecah keributan yang melibatkan tifosi Catania dengan tifosi Palermo. Namun yang terjadi kemudian justru perkelahian antara tifosi Catania, yang kecewa timnya kalah, dengan pihak polisi yang bermaksud membubarkan massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari bentrok brutal tersebut Filippo Raciti, seorang inspektur &lt;span style="font-style: italic;"&gt;poli&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;zia&lt;/span&gt;, tewas setelah diupayakan penyelamatan selama empat jam di rumah sakit Garibaldi. Menurut versi polisi, Raciti tewas akibat penganiayaan dengan benda keras yang diakhiri dengan pelemparan bom Molotov, yang meledak di mukanya, oleh fans Catania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak langsung peristiwa ini bagi Catania yaitu terusir dari kandangnya, Stadion Angelo Massimino, dan harus melangsungkan sisa pertandingan kandang mereka di tempat netral tanpa penonton. Selain itu, Catania juga dikenai denda sebesar 50.000 euro. Tak cukup sekadar menghukum Catania, FIGC (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Federazione Italia Giuoco Calcio&lt;/span&gt;) dengan memberlakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Legge Pisanu&lt;/span&gt; yaitu standar keamanan stadion yang ditetapkan oleh pemerintah Italia. Diantaranya yaitu, mewajibkan adanya kamera kontrol di setiap sudut stadion, penomoran dan penamaan tiket, juga kualitas pengamanan yang terjamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Polizia: Common Enemy Solidarity&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kematian polisi oleh ulah suporter dan terbunuhnya suporter karena peluru polisi pada akhirnya menimbulkan berbagai spekulasi. Pasca meninggalnya Sandri pun berkembang prasangka bahwa terdapat upaya rekayasa dari pihak polizia untuk membalas dendam pada kelompok suporter. Akibatnya sungguh fatal, kematian Sandri memancing reaksi kemarahan &amp;amp; menumbuhkan solidaritas antar suporter, yang berbeda aliran politik dan klub favorit, di seantero Italia juga di berbagai negara yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMH7wv_nAI/AAAAAAAAALY/k0iPDNclK5c/s1600-h/gabriele_IMG_9129.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198007118195563522" src="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMH7wv_nAI/AAAAAAAAALY/k0iPDNclK5c/s400/gabriele_IMG_9129.jpg" style="cursor: pointer; display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sandri solidarity &amp;amp; Anti-polizia &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Menurut kantor berita ANSA, di banyak kota seperti Bergamo, Milan, Parma, Roma, Taranto dan Turin, para suporter terutama yang militan dan berhaluan keras (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ultra&lt;/span&gt;) meledakkan kemarahannya pada polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bergamo, ultras Atalanta dan AC Milan mengabaikan rivalitas diantara mereka dan menjadikan polisi sebagai musuh bersama. Mulanya, membuat keributan kecil diluar lapangan, kemudian memaksa wasit Massimiliano Saccani untuk menghentikan pertandingan yang baru berjalan tujuh menit dengan melemparkan berbagai benda ke lapangan, dan memecahkan barikade kaca yang memisahkan tribun dengan lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi tak lebih baik terjadi di ibukota Italia, seperti yang diwartakan oleh majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;World Soccer&lt;/span&gt; edisi Desember 2007. Meski pertandingan AS Roma vs Cagliari dibatalkan para pendukung banyak yang datang ke stadion Olimpico untuk protes. Sekali lagi, suporter AS Roma dan SS Lazio mengesampingkan rivalitas mereka dan memusatkan amarah mereka pada dua titik strategis yaitu markas Komite Olimpiade Nasional Italia (CONI) dan kantor polisi terdekat. Dengan berbekalkan pentungan dan memakai topeng, ratusan orang membakar tempat sampah, bus polisi dan beberapa kendaraan. Di akhir kekacauan empat orang ultras ditahan, 70 polisi terluka, dan estimasi kerugian mencapai £75,000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota Mediolanum era modern, Milano, ratusan massa suporter menghujani kantor polisi dengan aneka batu. Sandri solidarity juga membuat ultras SS Lazio dan Internazionale Milan kompak meneriakkan slogan anti-polisi di luar stadion. Para penonton pertandingan Siena vs Livorno, serempak menyerukan kata 'pembunuh' kepada polisi dan petugas keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Italia, konflik dengan kekerasan antara suporter, khususnya ultras, dengan polisi adalah hal yang jamak. Meski tak selalu terjadi benturan namun relasi ultras dengan polizia ibarat air dengan minyak yang sulit untuk diakurkan. Seperti apakah wajah ultras itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kepribadian Ganda Ultras: Inspirator &amp;amp; Ekstremis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“As an ultra I identify myself with a particular way of life. We are different from ordinary supporters because of our enthusiasm and excitement. This means, obviously, rejoicing and suffering much more acutely than everybody else “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Nukilan kalimat dari seorang anggota &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Brigate Rossonere&lt;/span&gt;, salah satu ultras AC Milan, membantu kita untuk mengenali fenomena ultras. Ultras bukanlah sekadar kumpulan suporter (tifosi) biasa melainkan kelompok suporter fanatik nan militan yang mengidentifikasikan secara sungguh-sungguh dengan segenap hasrat dan melibatkan dengan amat dalam sisi emosionalnya pada klub yang mereka dukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ultras mempelopori suporter yang amat terorganisir (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;highly organized&lt;/span&gt;) dengan gaya dukung ‘teatrikal’ yang kemudian menjalar ke negara-negara lain. Model tersebut sekarang telah begitu mendominasi di Prancis, dan bisa dibilang telah memberi pengaruh pada suporter Denmark &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘Roligans’&lt;/span&gt;, beberapa kelompok suporter tim nasional Belanda dan bahkan suporter Skotlandia &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘Tartan Army’&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model tersebut masyhur karena menampilkan pertunjukan-pertunjukan spektakuler meliputi kostum yang terkoordinir, kibaran aneka bendera, spanduk &amp;amp; panji raksasa, pertunjukan bom asap warna-warni, nyala kembang api (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;flares&lt;/span&gt;) dan bahkan sinar laser serta koor lagu dan nyanyian hasil koreografi, dipimpin oleh seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;CapoTifoso&lt;/span&gt; yang menggunakan megaphones untuk memandu selama jalannya pertandingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tradisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;calcio&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ultras&lt;/span&gt; adalah “baron” dalam stadion. Mereka menempati dan menguasai salah satu sisi tribun stadion, biasanya di belakang gawang, yang kemudian lazim dikenal dengan sebutan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;curv&lt;/span&gt;a. Ultras tersebut menempati salah satu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;curva&lt;/span&gt; itu, baik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nord&lt;/span&gt; (utara) atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sud&lt;/span&gt; (selatan), secara konsisten hingga bertahun-tahun kemudian. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Utras&lt;/span&gt; dari klub-klub yang berbeda ditempatkan pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;curva&lt;/span&gt; yang saling berseberangan. Selain itu, berlaku aturan main yang unik yaitu polisi tidak diperkenankan berada di kedua sisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;curva&lt;/span&gt; itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Ultras yang pertama lahir adalah (Alm.) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fossa dei Leoni&lt;/span&gt;, salah satu kelompok suporter klub AC Milan, pada tahun 1968. Setahun kemudian pendukung klub sekota sekaligus rival, Internazionale Milan, membuat tandingan yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Inter Club Fossati&lt;/span&gt; yang kemudian berubah nama menjadi Boys S.A.N (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Squadre d’Azione Nerazzurra&lt;/span&gt;). Fenomena ultras sempat surut dan muncul lagi untuk menginspirasi dunia dengan aksi-aksi megahnya pada pertengahan tahun 1980-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ultra&lt;/span&gt;s sendiri diilhami dari demontrasi-demontrasi yang dilakukan anak-anak muda pada saat ketidakpastian politik melanda Italia di akhir 1960-an. Alhasil, sejatinya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ultras&lt;/span&gt; adalah simpati politik dan representasi ideologis. Setiap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ultra&lt;/span&gt; memiliki basis ideologi dan aliran politik yang beragam, meski mereka mendukung klub yang sama. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ultras&lt;/span&gt; memiliki andil “melestarikan” paham-paham tua seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;facism&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;komunism socialism&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritas ketegangan antar suporter disebabkan oleh perbedaan pilihan ideologis daripada perbedaan klub kesayangan. Untungnya, dalam tradisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ultras&lt;/span&gt; di Italia terdapat kode etik yang namanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ultras codex&lt;/span&gt;. Salah satu fungsi kode etik itu “mengatur” pertempuran antar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ultras&lt;/span&gt; tersebut bisa berlangsung lebih fair dan “berbudaya”. Salah satu etika itu adalah dalam hal bukti kemenangan, maka bendera dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ultras&lt;/span&gt; yang kalah akan diambil oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ultras&lt;/span&gt; pemenang. Kode etik lainnya ialah, seburuk apapun para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tifosi&lt;/span&gt; itu mengalami kekejaman dari tifosi lainnya, maka tidak diperkenankan untuk lapor polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ultras&lt;/span&gt; kerap dipandang sebagai lanjutan atau warisan dari periode ketidakpastian dan kekerasan politik 1960-an hingga 1970-an. Berbagai kesamaan pada tindak tanduk mereka disebut sebagai bukti dari sangkut paut ini. Kesamaan-kesamaan itu tampak pada nyanyian lagu - yang umumnya digubah dari lagu–lagu komunis tradisional - lambaian bendera dan panji, kesetiaan sepenuh hati pada kelompok dan perubahan sekutu dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ultras&lt;/span&gt; lainnya, dan, tentunya, keikutsertaan dalam kekacauan dan kekerasan baik antara mereka sendiri dan melawan polisi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCL9sQv_m7I/AAAAAAAAAKw/IDQIDfA4B_o/s1600-h/ternana2md3.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197995856791313330" src="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCL9sQv_m7I/AAAAAAAAAKw/IDQIDfA4B_o/s400/ternana2md3.jpg" style="cursor: pointer; display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Che Guevara &amp;amp; Palu Arit&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bentrok dengan polisi menjadi salah satu tabiat asli &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ultras&lt;/span&gt;. Bagi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ultras&lt;/span&gt;, polisi adalah hal yang diharamkan alias A.C.A.B (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;All Cops Are Bastar*s&lt;/span&gt;). Sebulan sebelum Sandri terbunuh, muncul klaim dari pihak polisi yang menyatakan bahwa tak kurang dari 268 kelompok &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ultra&lt;/span&gt; dengan aspirasi politik, semuanya memiliki semangat kebencian pada polisi. Selain itu, masih menurut polisi, mayoritas kelompok tersebut berhubungan dengan gerakan ekstrim kanan yang fasis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya polisi, manajemen klub, staff pelatih dan bahkan pemain juga pernah mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ultras&lt;/span&gt;. Beberapa kelompok Ultras dalam menjamin dukungannya (terutama dalam pertandingan tandang), memaksa klub untuk memberi jatah tiket gratis, keuntungan perjalanan, dan bahkan hak atas merchandise. Ketegangan dengan pihak klub kerap berujung boikot dukungan pertandingan di kandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelatih atau manajer yang mundur (bukan karena dipecat manajemen klub) biasanya adalah produk dari tekanan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ultras&lt;/span&gt;. Dari pihak pemain, Christian “Bobo” Vieri pernah mengalami teror fisik dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ultras&lt;/span&gt; Inter, termasuk dirusaknya salah satu properti bisnisnya, karena dianggap berkurang kadar loyalitasnya pada tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kemegahan dan kesuramannya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ultras&lt;/span&gt; adalah fenomena khas Italia, representasi masyarakat Italia, dan identitas calcio. Seperti halnya kualitas Lega Serie A yang menjadi kiblat dunia sepak bola, seperti sistem catenaccio yang mengilhami banyak pelatih di dunia, maka aksi ultras di stadion pun menjadi rujukan dan referensi bagi suporter-suporter negara lain, termasuk kelompok suporter di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suporter Indonesia Rasa Ultras&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suporter di Indonesia sedang berada dalam periode bertumbuh. Dalam lima tahun terakhir ini, muncul kelompok-kelompok suporter terorganisir. Suatu fenomena yang berdampak amat positif bagi perkembangan sepak bola nasional. Kehadiran kelompok suporter ini sedikit banyak merubah gaya dukung dan pola perilaku penonton di lapangan. Secara keseluruhan, berdampak pada industri sepak bola nasional yang lebih semarak dan berwarna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa dipungkiri aksi-aksi kreatif kelompok suporter di Indonesia ini mengadopsi gaya suporter luar negeri. Meski di kemudian hari, terjadi proses kreatif dengan lebih banyak menampilkan produk budaya lokal. Suporter luar negeri yang menginspirasi itu bisa dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Barras Bravas&lt;/span&gt; (Argentina/Amerika Latin), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Roligan&lt;/span&gt; (Denmark), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tartan Army&lt;/span&gt; (Skotlandia) dan tentunya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Italian Ultras!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentalnya budaya ultras bisa dilihat dengan teramat jelas dari atraksi kelompok suporter kita di lapangan. Mulai dari menempati sisi tribun tertentu meski tidak selalu di belakang gawang. Namun yang konsisten di sekitar belakang gawang diantaranya yaitu Slemania (PSS Sleman), dan Brajamusti (PSIM Jogjakarta), sedangkan beberapa kelompok suporter lainnya lebih suka di tribun tengah menghadap kamera!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirijen seperti Yuli Sumpil yang sohor itu adalah manifestasi seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;CapoTifoso&lt;/span&gt;. Yuli memiliki wibawa seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;CapoTifoso&lt;/span&gt;, apabila ia memerintahkan untuk melakukan suatu gerakan maka akan dipatuhi oleh suporter termasuk (seandainya) memerintahkan mengintimidasi pemain lawan dengan lemparan benda-benda, tetapi apabila ia melarang, maka tidak ada satupun suporter yang berani melawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi kostum yang terkoordinir, dan bentangan spanduk yang di pinggir-pinggir lapangan adalah rasa ultras pada suporter Indonesia. Sayangnya, prestasi tim nasional dan klub-klubnya tak semanis prestasi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Squadra Azurri&lt;/span&gt; dan wakil-wakil &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Serie A&lt;/span&gt; di Eropa. Pahit getir sepak bola Indonesia terutama sekali saat menilik kelakuan oknum pengurus dibawah kepemimpinan Yang "Terhormat" Nurdin Halid!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-4020837446009383623?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/4020837446009383623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=4020837446009383623&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/4020837446009383623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/4020837446009383623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2007/11/gabriele-sandri-dan-suporter-anonim.html' title='Gabriele Sandri &amp; Fenomena Ultras'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMHOwv_m_I/AAAAAAAAALQ/SvcbR4pHGHs/s72-c/img_fans_lazio-100.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-4317622637461566023</id><published>2007-10-24T17:12:00.002+07:00</published><updated>2008-11-13T12:06:56.570+07:00</updated><title type='text'>Bangkai di Tengah Telaga</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;:Catatan atas dijebloskannya kembali Ketua Umum PSSI ke penjara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Aji Wibowo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;"All that I know most surely about morality and obligations I owe to football"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(Albert Camus, 7 Nov 1913 - 4 Jan 1960)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Bola bukan sekadar bola.&lt;/b&gt; Di era globalisasi ini tentulah familiar dengan istilah &lt;i&gt;sportainment&lt;/i&gt; yang mengonfirmasikan fakta bahwa olahraga tak lagi sekadar olah tubuh dan pemelihara kesehatan jasmani namun sekaligus sebuah industri hiburan dan bisnis pertunjukan yang sanggup mengundang ribuan suporter dan jutaan pemirsa. Sepakbola merupakan salah satu cabang olahraga. Meski demikian sepak bola adalah cabang olahraga yang jauh melampaui dari sekedar &lt;i&gt;sportainment&lt;/i&gt;. Sepakbola adalah tentang falsafah hidup, representasi konflik dan kompetisi, ekspresi semangat dan perjuangan manusia, juga pelajaran akan moralitas dan kewajiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMNTwv_nEI/AAAAAAAAAL4/rZXNhih1abU/s1600-h/albert-camus.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMNTwv_nEI/AAAAAAAAAL4/rZXNhih1abU/s400/albert-camus.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198013028070562882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Albert Camus, filsuf eksistensialis Prancis, mestilah tak sekedar asal bicara tentang hutang budinya pada sepakbola namun sebenar-benarnya memahami dan terinspirasi dengan esensi sportivitas, &lt;i&gt;fairplay&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;good sportsmanship,&lt;/i&gt; yang merupakan jiwa dari permainan sepakbola. Pesan tentang moralitas dan tanggung jawab akan tugas tersebut bisa dengan ajakan langsung dalam rupa slogan di bendera atau spanduk di sekitar arena pertandingan. Namun pesan lebih jelasnya tertangkap lewat permainan di atas lapangan. Inspirasi sejati lahir dari rahim permainan yang jujur, kepatuhan pada aturan main, penghargaan pada lawan main, dan juga penghargaan pada korps pengadil pertandingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah beberapa ilustrasi tentang inspirasi &lt;i&gt;good sportsmanship&lt;/i&gt;, sportivitas dan &lt;i&gt;fair play&lt;/i&gt;. Pertandingan FA Carling Premiership antara Arsenal vs. Liverpool di (alm.) Stadion Highbury pada 24 Maret 1997 silam menjadi salah satu &lt;i&gt;memorable matches&lt;/i&gt; ketika striker Liverpool, Robbie Fowler, menolak hadiah penalti dari wasit Gerald Ashby. Berdasarkan alasan jujur bahwa terjatuhnya dia di kotak penalti Arsenal bukan akibat dilanggar oleh kiper David Seaman. Pada akhirnya eksekusi penalti tetap dilakukan, Fowler maju sebagai algojonya (dan mengeksekusinya dengan lemah). Untuk sikap &lt;i&gt;gentleman&lt;/i&gt;-nya, Fowler kemudian mendapat ganjaran penghargaan UEFA &lt;i&gt;Fair play Award&lt;/i&gt; 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/RzZbDYBudaI/AAAAAAAAAH8/MAs_NdMNz00/s1600-h/1280342.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/RzZbDYBudaI/AAAAAAAAAH8/MAs_NdMNz00/s320/1280342.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131388938982684066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Memorable moment at Highbury&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Bahkan pemain bengal nan kontroversial Paolo di Canio, yang sebelumnya pernah diskorsing sebanyak 11 pertandingan sebab mendorong wasit, pun masih sanggup memberi teladan dengan mengedepankan hati nurani. Pada tahun 2000 pertandingan antara Everton melawan tim yang dibela di Canio, West Ham United, di stadion Goodison Park. Saat itu Di Canio, meski dalam posisi yang amat leluasa, memilih untuk tidak menjebol gawang Everton demi melihat penjaga gawang Everton, Paul Gerard, tergeletak cedera. Tak ayal perilaku di Canio ini menuai pujian, mendapat FIFA &lt;i&gt;Fair play Award&lt;/i&gt; 2001 dan seketika mengganti reputasi buruk yang pernah melekat sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/RzZP1YBudWI/AAAAAAAAAHc/C9JwMJdi1ME/s1600-h/_1716069_di_canio_award150.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/RzZP1YBudWI/AAAAAAAAAHc/C9JwMJdi1ME/s320/_1716069_di_canio_award150.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5131376603836609890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;FIFA Fair play Award 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Yang terbaru yaitu kejadian di Carling Cup 2007 ketika para pemain klub Leicester City memberi jalan pada kiper Notingham Forest, Paul Smith, untuk mencetak gol diawal pertandingan sebagai bentuk penghormatan setelah Forest pada pertemuan pertama bersedia untuk menghentikan pertandingan saat unggul 1 - 0 pada jeda pertandingan karena ada pemain Leicester City, Clive Clarke, yang menderita serangan jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lapangan sepakbola seorang pemain akan menuai cemooh atau pujian dari mayoritas penonton tidak hanya karena suguhan ketinggian &lt;i&gt;skill&lt;/i&gt; dan tehnik olah bola saja namun bagaimana menunjukkan moralitas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pemain selama pertandingan. Hal tersebut juga berlaku pada elemen pertandingan lainnya seperti pelatih, perangkat pertandingan dan penonton atau suporter. Selain sanksi moral dari masyarakat sepakbola, menunggu pula sanksi hukuman yang tegas dari otoritas sepakbola yang berwenang jika elemen-elemen pertandingan tersebut gagal melaksanakan tanggung jawabnya dan lalai dalam menjaga sikap serta perilakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepakbola pun bisa menjadi sarana efektif untuk menyampaikan dan memperjuangkan pesan-pesan moral tertentu. Seperti kampanye anti-Rasisme dan anti-perang baik yang resmi atau independen oleh segelintir penontonnya, &lt;i&gt;a minute silence&lt;/i&gt; dan pemakaian ban hitam sebagai tanda simpati duka cita atas meninggalnya sosok baik di dalam maupun di luar sepakbola atau adanya tragedi kemanusiaan, pertandingan amal untuk menggalang dana bagi kepentingan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bangkai di Tengah Telaga.&lt;/b&gt; Sepakbola pun dapat diumpamakan layaknya telaga dimana banyak orang bisa menimba air inspirasi dan teladan seperti yang Camus lakukan. Namun sangat mungkin terjadi, keindahan dan kejernihan telaga inspirasi itu tercemar oleh pengkhianatan terhadap esensi &lt;i&gt;fairplay,&lt;/i&gt; sportifitas dan &lt;i&gt;good sportsmanship&lt;/i&gt;. Kekerasan di lapangan baik oleh pemain atau pun penonton, skandal yang melibatkan perangkat pengadil pertandingan, pengaturan skor dengan campur tangan pihak luar seperti mafia dan bandar judi, perilaku pengurus otoritas sepakbola yang minor lagi korup dan sebagainya. Di samping itu, penilaian akan moral pelaku sepakbola juga sering dikaitkan dengan perilaku mereka di luar lapangan. Banyak sampel yang menunjukkan betapa nama tenar kemudian dipandang miring dan mendapat sanksi skorsing akibat aksi &lt;i&gt;criminal&lt;/i&gt; seperti terlibat perkelahian, skandal seksual, pelanggaran lalu lintas dll. Jadi, setiap perilaku menyimpang di dalam dan di luar lapangan pertandingan oleh insan sepakbola seringkali berdampak langsung pada citra sepakbola itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitasnya sepakbola akhirnya tak selalu berupa telaga jernih sumber air inspirasi tetapi juga bisa berubah menjadi danau cemar yang butuh upaya untuk dibersihkan. Seperti yang terjadi dengan sepakbola Indonesia. Nurdin Halid (selanjutnya ditulis NH), sang Ketua Umum PSSI, kembali “berkantor” di rumah tahanan. Untuk menjalani vonis hukuman dua tahun, berdasarkan keputusan kasasi yang ditetapkan oleh Mahkamah Agung putusan Nomor 1384K/Pid/2005 tanggal 15 September 2007, pada kasus korupsi distribusi minyak goreng senilai Rp167,71 milyar. Setelah sebelumnya, pada periode pertama menjabat Ketua Umum PSSI tahun 2005, juga harus menginap “hotel prodeo” untuk vonis dua tahun akibat kasus penyelundupan ribuan ton gula ilegal. Masuk rumah tahanan Salemba 18 September 2007 atau hanya enam hari setelah dilantik sebagai anggota DPR. Celakanya, selain kasus minyak goreng masih ada kasus yang dapat menjerat dan memaksa NH kembali ke bui yaitu kasus BPPC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seperti pada dua tahun lalu, NH kembali enggan untuk mundur dari jabatannya meski banyak pihak menyuarakan keprihatinan dan menyarankan untuk berbesar hati menyerahkan mandat. Hebatnya para pengurus PSSI baik pusat maupun di daerah mendukung penuh pilihan sang ketua. Dalam setiap kesempatan, yang keluar selalu pembelaan mati-matian terhadap ketua pilihan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Solusi Moral dan Hak (Suara) Suporter.&lt;/b&gt; Berharap kebesaran jiwa dan sikap &lt;i&gt;legowo&lt;/i&gt; dari NH serta kroninya seperti memecah batu dengan tangan telanjang alias sangat sulit. Mestinya tanpa perlu menunggu rekomendasi dan keputusan dari FIFA, seluruh insan sepakbola nasional punya sikap dan solusi untuk memupus kisruh ini. Dengan menilik kembali pada esensi-esensi yang termuat pada permainan sepakbola maka penyelesaian kisruh NH mestinya tak perlu menjadi polemik yang berlarut-larut. Pelanggaran pada esensi &lt;i&gt;fair play&lt;/i&gt; dan sportifitas apabila tidak dihentikan akan menjangkiti yang lain. Apa yang NH lakukan adalah preseden. Apabila pucuk pimpinan dan kawan-kawan pengurusnya dengan tanpa beban dan tanpa gangguan leluasa melakukan pelanggaran serta mempermainkan aturan maka sangat mungkin para pemain dan pelaku dilapangan akan semakin beringas dan gaduh pula melakukan pelanggaran akibat dari krisis kepercayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pertimbangan aspek moral maka alasan-alasan prosedural, bahwa NH tidak perlu untuk diganti, yang selama dipakai oleh pengurus dalam pembelaan mereka bisa dikesampingkan. Terdapat kepentingan jangka panjang yang lebih besar yang harus dikedepankan daripada mempertahankan satu orang meskipun secara prosedural memungkinkan. Kenyataannya, FIFA pun tidak mengakui hasil Munaslub di Makassar. Dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;statuta&lt;/span&gt; FIFA, pada pasal 32 ayat 4 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;standart statutes&lt;/span&gt;, secara tegas memaparkan bahwasanya pengurus organisasi sepakbola haruslah orang yang aktif di sepakbola dan tidak tersangkut masalah kriminal. So, mau diteruskan &lt;i&gt;Puang&lt;/i&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait membebeknya para pengurus pada NH (baca: ketua umum) menunjukkan lemahnya inisiatif para pegiat sepakbola baik di daerah maupun di pusat untuk memulai perubahan. Jadi di masa depan, suporter harus mengambil peran penting dalam proses perubahan di tubuh otoritas tertinggi sepakbola Indonesia. Dengan besaran massanya yang luar biasa maka ketika suporter bersuara bisa menjadi kekuatan penekan yang efektif. Selama ini beberapa kelompok suporter sudah menampakkan keprihatinannya pada ketidakbecusan pengurus PSSI. Beberapa dari mereka pun hanya mengungkapkan lewat spanduk dan kaos yang dikenakan. Seandainya kelompok-kelompok suporter, yang prihatin dengan nasib PSSI dan prestasi sepakbola nasional, menyatukan sikap meski dalam urusan dukung mendukung klub mereka berkonflik, maka harapan untuk menyelamatkan sepakbola Indonesia tetap menyala. Bagaimana suporter Indonesia, &lt;i&gt;Are you ready to fight, fight together?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-4317622637461566023?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/4317622637461566023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=4317622637461566023&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/4317622637461566023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/4317622637461566023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2007/10/ecstasy-of-power.html' title='Bangkai di Tengah Telaga'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMNTwv_nEI/AAAAAAAAAL4/rZXNhih1abU/s72-c/albert-camus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-4872487113371676495</id><published>2007-09-25T13:09:00.001+07:00</published><updated>2008-11-13T12:06:56.813+07:00</updated><title type='text'>Jeda Kompetisi, Puasa Anarkis dan Momen Pembenahan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Oleh: Aji Wibowo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/RylhbkP5_iI/AAAAAAAAAHM/DBKugQ1CPeQ/s1600-h/Sunrise.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/RylhbkP5_iI/AAAAAAAAAHM/DBKugQ1CPeQ/s400/Sunrise.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127736776952774178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Fajar Ramadhan pun semburat tiba menyapa. Bulan suci penuh baraqah dan ampunan, datang melipur kerinduan umat Islam akan kewajiban beribadah puasa demi untuk menyempurnakan derajat ketakwaan mereka di hadapan Allah. Dengan segala keutamaan yang dimilikinya, menjadikan bulan Ramadhan berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Maka lazim apabila kemudian terdapat banyak perubahan (baca: penyesuaian) sikap, perilaku, dan aturan di banyak sektor kehidupan lainnya baik yang ditentukan oleh otoritas tertentu maupun yang muncul karena kesadaran dari tiap-tiap insan. Fenomena senada juga dilakukan pada para penganut agama lain yang tidak melaksanakan ibadah puasa. Terbitnya empati dalam bentuk pengertian dan penyesuaian sikap sebagai wujud toleransi antar umat beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun demi (alasan) menghormati pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan di negeri yang mayoritas penduduknya muslim, PSSI ikut menyesuaikan dengan menelurkan keputusan untuk meliburkan sementara setiap kompetisi yang berada dibawah naungannya. Jeda kompetisi yang bukan saat paruh musim ini merupakan salah satu dari beberapa kebijakan mengistirahatkan kompetisi yang pernah ditetapkan PSSI. Contoh jeda kompetisi yang sejenis diantaranya yaitu saat hajatan AFC Asian Cup 2007 bulan Juli lalu. Jadi selain sebagai kompetisi paling padat di dunia, Liga Indonesia adalah kompetisi paling lentur (baca: inkonsisten) dengan rancangan jadwal sebelum liga dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait libur kompetisi ini, muncul pendapat bahwa meliburkan kompetisi pada momen puasa Ramadhan ini juga bisa dipandang baik sebagai upaya preventif efektif dari kemungkinan timbulnya dosa bagi para pelaku dan pegiat sepak bola yang juga mayoritas muslim. Siapapun mahfum bahwa berkecimpung di dunia sepak bola (khususnya di Indonesia) berarti menempuh resiko besar melakukan dan terlibat aktivitas kotor meski masih banyak pelaku yang berkomitmen baik tentunya. Resiko tersebut belum lagi termasuk masifnya godaan dan panasnya suhu kompetisi dan konflik di atas lapangan hijau yang bisa menyeret banyak pihak terpancing emosinya dan menoreh dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa selama satu bulan penuh dengan esensi “menahan diri”, terutama menahan diri dari makan dan minum, di satu sisi dipandang dan dikeluhkan (biasanya para pelatih) bisa memberi pengaruh turunnya kemampuan fisik dan stamina dari pemain dan atlet olah raga lainnya. Berubahnya pola istirahat, makan dan minum termasuk kuantitas serta kualitas asupan makanan yang dikonsumsinya, sedikit banyak memengaruhi kebugaran para prajurit lapangan hijau. Namun alasan pokoknya adalah berkurangnya porsi latihan yang harus dilahap oleh para pemain yang berefek langsung pada kekuatan fisik dan stamina pemain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tesis itu segera saja mendapat anti-tesis dengan banyak sekali kajian yang menunjukkan hikmah dan khasiat puasa Ramadhan bagi kesehatan jasmani selain tentunya bagi kesehatan jiwa atau ruhani. Beberapa penelitian ilmiah bahkan membuktikan pengaruh positif puasa bagi kesehatan tubuh seperti; memperkuat daya tahan tubuh, menyembuhkan dari penyakit tertentu, dan meningkatkan produktivitas. Namun segala manfaat bagi jasmani itu tak bakal berlaku efektif apabila para pelaku puasa tidak memiliki kesadaran bahwa ritual yang mereka tunaikan adalah konsekuensi iman kepada Penciptanya. Artinya hikmah bagi ruhani dan jasmani itu akan diperoleh apabila mereka tidak berhenti hanya pada esensi menahan diri dari makan, minum dan hasrat seksual di siang hari di bulan Ramadhan tetapi juga mengendalikan diri dari nafsu-nafsu yang berlebihan setelah berbuka bahkan setelah berpisah dengan Ramadhan. Dengan demikian tidak akan ada ritual “balas dendam” sewaktu berbuka puasa dengan makan dan minum berlebihan yang kontraproduktif bagi kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan nilai dan filosofi dalam ibadahnya memberi kesempatan bagi semua pihak yang berkecimpung di dunia persepakbolaan tanah air untuk meluruskan kembali niat dan komitmen mereka pada kemajuan sepak bola nasional. Bulan Ramadhan dengan puasa wajib didalamnya bisa menjamin para pelakunya kaya akan pengalaman spiritual yang bermakna. Dengan demikian bahwa dengan mayoritas pegiat dan pelaku didunia sepak bola adalah muslim maka tak salah rasanya apabila kita merangkai harapan bahwa puasa Ramadhan bisa menjadi sebuah momen perubahan dan tentunya pembenahan bagi insan dan organisasi sepak bola nasional. Jadi libur kompetisi yang ditetapkan PSSI mestinya tak sekedar untuk menghormati ritus puasa Ramadhan yang ujungnya tak membekaskan jejak hikmah sama sekali. Kondisi fisik terbaik untuk mencapai puncak permainan (&lt;i&gt;peak performance&lt;/i&gt;) bisa dengan relative mudah dipulihkan kembali, akan tetapi mengobati penyakit hati dan membenahi moralitas rendahan punggawa PSSI adalah perjuangan tanpa batas waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kekhawatiran yang patut untuk dilontarkan. Apakah pemain setelah puasa Ramadhan kemudian memiliki kesadaran bahwa pemain lawan haruslah dipandang sebagai sesama professional yang mengandalkan ketrampilan mengolah bola di lapangan hijau demi tujuan kesejahteraan keluarga. Dengan demikian niat untuk mengasari dan mencederai lawan, dengan sengaja atau bahkan dengan suatu rencana, tak lagi tersirat dalam hati dan pikiran para pemain. Sepak bola sebagai olahraga yang mengedepankan fisik memang meniscayakan terjadinya benturan, namun tidak menolerir adanya niat jahat atau ajang untuk melukai lawan. Terjadinya cidera pada pemain haruslah menjadi konsekuensi dari sebuah perjuangan para pemain yang mendamba kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah sesudahnya bulan penuh berkah ini berakhir, para pengurus kemudian memiliki kesanggupan untuk mengambil hikmah lalu tercerahkan untuk berpikir dan bertindak objektif mengabdikan diri demi memajukan sepak bola nasional dengan menepikan niat-niat menguntungkan pribadi atau kelompok. Tidak menghamba pada kekuasaan yang menyimpang dan tidak aspiratif. Sehingga sembuhlah mereka dari penyakit tamak dan rakus kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apakah suporter kemudian mau untuk berbesar hati untuk mengerti dan memahami bahwa aktivitas mendukung klub-klub kesayangan sebagai sebuah kompetisi yang sehat tanpa disertai ritual kekerasan pada suporter tim lawan dan perilaku mengganggu kepentingan publik lainnya. Mendukung tim kesayangan idealnya adalah tindakan sukarela yang didasari cinta yang tulus sehingga prakteknya di lapangan suporter enggan untuk merugikan tim yang didukung dengan aksi bonekisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya sekolah ruhani yang dianugerahkan Allah ini tak mempan mengasah nurani kita juga para pelaku dan pegiat sepak bola di Indonesia akan nilai kebenaran, rasanya peringatan sangat keras dan revolusi total adalah obat bagi mereka yang telah membutatulikan hatinya. Atau masih adakah cara lain untuk mereka si hati bebal?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-4872487113371676495?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/4872487113371676495/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=4872487113371676495&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/4872487113371676495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/4872487113371676495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2007/09/puasa-anarkis.html' title='Jeda Kompetisi, Puasa Anarkis dan Momen Pembenahan'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/RylhbkP5_iI/AAAAAAAAAHM/DBKugQ1CPeQ/s72-c/Sunrise.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-6965655948382706571</id><published>2007-08-24T21:29:00.000+07:00</published><updated>2008-11-13T12:06:56.945+07:00</updated><title type='text'>Belenggu Kemerdekaan</title><content type='html'>Oleh: Aji Wibowo&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/RuSCB2-AHyI/AAAAAAAAAHE/aOGe1SAGsdw/s1600-h/logo1.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/RuSCB2-AHyI/AAAAAAAAAHE/aOGe1SAGsdw/s320/logo1.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5108350845792034594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Gapura baru, lampu warna-warni, &lt;i&gt;mural&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;graffiti&lt;/i&gt; bertema perjuangan, panji-panji serta atribut lain yang serba merah putih. Sepak bola tarkam, balap karung, panjat pinang, gerak jalan, karnaval juga seabrek kegiatan lainnya. Meriah dan semarak, itulah yang sedang terjadi di berbagai sudut kota dan desa di negeri ini sepanjang bulan Agustus ini. Lingkungan pun menjadi jauh lebih bersih, lebih rapi dan lebih berwarna. Sedangkan masyarakatnya menjadi jauh lebih antusias, baik dengan berperan dalam kegiatan atau hanya untuk menikmati tontonan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang dilakukan oleh masyarakat tersebut dimaksudkan untuk memperingati dan merayakan (lagi) hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus setiap tahunnya. Meski banyak dari mereka tak mengenal apalagi menginsyafi apa makna kemerdekaan, setidaknya peringatan hari Kemerdekaan yang dirayakan itu memberi masyarakat Indonesia sebuah momentum sekaligus kesempatan untuk membenahi lingkungan tempat tinggalnya dan tentunya semangat solidaritas serta komitmen sosialnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suasana &lt;i&gt;Independence Day&lt;/i&gt;, setiap orang di negeri ini berhak untuk merasa sudah merdeka dan berhak juga untuk merasa belum merdeka. Dan masing-masing dari mereka yang merasa merdeka pun boleh memiliki definisi dan versi yang berbeda-beda tentang kemerdekaan. Tetapi disini boleh kita sepakati bahwa definisi kemerdekaan yang diperingati oleh bangsa ini adalah bebasnya dari jerat kolonialisme bentuk lama atau penjajahan fisik bangsa asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 62 tahun bangsa ini merdeka, pada kenyataannya belum mencapai kondisi ideal bangsa yang “merdeka”. Yang justru terjadi (dan diakui sendiri oleh Presiden) adalah korupsi makin kalap, hukum dan demokrasi tak kunjung tegak, jumlah rakyat miskin dan pengangguran justru terus bertambah, rapuhnya perekonomian nasional, hutang luar negeri yang masih menumpuk dan rentannya stabilitas politik serta keamanan. Jadi, kemerdekaan yang dicapai bangsa ini tidak selalu berbanding lurus, asosiatif dan indikatif dengan yang namanya kedaulatan, keamanan, keadilan sosial, kemakmuran dan kebebasan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemerdekaan pernah menjadi ujung atau garis &lt;i&gt;finish&lt;/i&gt; dari perjuangan seluruh bangsa ini. Namun jika hingga detik ini pemikiran itu terus menerus menjadi pegangan rakyat Indonesia, maka kemerdekaan hanya akan menjadi mitos yang membelenggu. Nikmat kemerdekaan itu harus disyukuri dengan cara yang baik. Tidak hanya dengan ucapan dan ungkapan tetapi juga disertai dengan ikhtiar mengisi kemerdekaan. Maka kemerdekaan harus menjadi awal perjuangan dan modal untuk mewujudkan segala hal ideal yang diidam-idamkan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, tentu saja hari kemerdekaan bangsa kita ini tak cukup diperingati hanya dengan upacara-upacara, pidato atau sambutan dan berbagi kegembiraan dalam berbagai bentuk kegiatan oleh rakyatnya. Dengan budaya pesta dan hura-hura kemenangan yang lebih mengemuka daripada upaya untuk menyerap kembali pesan dan pelajaran moral kemerdekaan. Tanpa retrospeksi dan refleksi, peringatan hari kemerdekaan itu akan bernasib sama dengan banyak hari besar lain yang sekedar seremoni tanpa inspirasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Suporter Mawas Diri&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terkait dengan pesan retrospeksi dan refleksi juga disertai dengan introspeksi, dunia sepak bola kita amat layak untuk mengikutinya. Terutama akhir-akhir ini, saat anarkisme dan skandal di sepak bola nasional kembali merebak. Suporter “melemparkan” kemarahannya ke lapangan, pemain menjadi mudah kehilangan akal sehatnya, dan para pengurus yang tak mampu untuk menolong situasi menjadi lebih baik.Pihak-pihak tersebut terseret oleh semakin kerasnya iklim kompetisi aneh bin ajaib negeri ini yang memaksa pelakunya tereduksi rasionalitasnya dan dikalahkan oleh egoisme.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anarkisme suporter yang kembali meletup di beberapa tempat, ironisnya terjadi tak begitu lama setelah suporter Indonesia menuai sanjung dan puji berkat antusiasme aksi dan atraksi di AFC Asian Cup 2007. Setiap opini bahwa kekerasan suporter akan dengan segera menjadi barang langka di sepak bola Indonesia, akhirnya perlu dikoreksi. Pernyataan yang terlalu dini tentang dunia suporter sepak bola nasional yang mulai menjadi tertib, atraktif dan kreatif, bisa meninabobokan masyarakat sepak bola nasional. Seperti halnya mitos kemerdekaan yang membelenggu rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Budaya introspeksi, retrospeksi dan refleksi dalam menyikapi suatu peristiwa dan peringatannya, menyadarkan kita untuk menilik kembali kekurangan yang dimiliki dan menyerap makna dari suatu peristiwa itu untuk selanjutnya merangkai harapan yang lebih baik. Masih banyaknya keributan yang timbul sebaiknya dipandang sebagai belum tuntasnya kampanye suporter sportif kreatif. Virus suporter tertib itu bisa jadi hanya mengenai suporter pada tingkat atau level tertentu, belum sepenuhnya menjangkiti pada suporter akar rumput &lt;i&gt;(grass root)&lt;/i&gt; yang juga masih disibukkan dengan berbagai permasalahan hidupnya sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terus menerus memperbaiki kekurangan yang dimiliki dan meningkatkan kualitas diri adalah sebuah tugas besar. Menjadi suporter tertib saja belumlah cukup. Untuk membuat sepak bola negeri ini lebih baik butuh lebih banyak lagi suporter yang kritis terhadap setiap penyelewengan dan penyimpangan oleh insan sepak bola baik di dalam tubuh PSSI maupun di luar otoritas tertinggi sepak bola tersebut. Ujung perjuangan masih jauh, namun dengan kerja keras dan (tentunya) menyerap semangat kemerdekaan, mimpi itu akan segera mewujud.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-6965655948382706571?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/6965655948382706571/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=6965655948382706571&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/6965655948382706571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/6965655948382706571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2007/08/belenggu-kemerdekaan.html' title='Belenggu Kemerdekaan'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/RuSCB2-AHyI/AAAAAAAAAHE/aOGe1SAGsdw/s72-c/logo1.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-7066255066033360737</id><published>2007-07-24T19:58:00.002+07:00</published><updated>2008-11-13T12:06:57.896+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kajian Sosial'/><title type='text'>Bureaumania Sepakbola</title><content type='html'>Oleh: Aji Wibowo&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kemeriahan AFC Asian Cup 2007 yang disertai penampilan gigih nan cemerlang tim nasional Indonesia telah merebut perhatian sebagian besar masyarakat dari urusan kehidupan lainnya. Antusiasme pecinta sepakbola tanah air yang luar biasa untuk menonton dan menjadi suporter bagi perjuangan tim Garuda serta pemberitaan yang massif dari media massa menjadi bukti sahihnya. Tak ketinggalan suporter dan penonton di daerah yang setia mengirim doa dan mengambil inisiatif nonton bareng (&lt;i&gt;public viewing&lt;/i&gt;) di lingkungannya. Banyak kalangan memandang bahwa telah muncul suatu bentuk nasionalisme baru. Masyarakat disatukan dalam sebuah identitas sebagai suporter tim nasional yang bertarung demi nama bangsa dan negara dalam event sepakbola terbesar di Asia. Sebuah kesempatan yang cukup langka dimana &lt;i&gt;national anthem&lt;/i&gt; Indonesia Raya dinyanyikan begitu tulus dan penuh semangat. Jadilah sebentuk hawa segar yang mengusir aroma separatism yang sempat muncul dalam beberapa kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMLiAv_nCI/AAAAAAAAALo/LV3DEEAD5fI/s1600-h/AFC07-AC-100707-INDvBAH-005.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMLiAv_nCI/AAAAAAAAALo/LV3DEEAD5fI/s400/AFC07-AC-100707-INDvBAH-005.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198011073860443170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Namun euphoria pesta kemenangan dan resah sedih kekalahan tim nasional Indonesia selama AFC Asian Cup 2007 cukuplah sejenak saja meninabobokan kita dari fakta tentang masih banyaknya persoalan yang menghinggapi sepakbola nasional. Seusainya hajatan itu hendaknya segala hutang masalah-masalah itu harus coba dituntaskan. Seluruh pemain telah mengupayakan segenap daya hingga muncul performa &lt;i&gt;overachiever&lt;/i&gt; yang membuat seluruh pecinta tim nasional di pelosok negeri bangga. Sekarang waktunya kita untuk bertindak layaknya suporter sejati yang tak hanya memberi dukungan di lapangan tetapi juga sepanjang waktu mencurahkan perhatiannya, menemukan masalah, mengkritisi, dan menyumbang saran. Dan juga senantiasa menjaga kesadaran dan sikap kritis sebagai suporter sejati dalam rangka membangun sepakbola nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini (kembali) bermula dengan warta buruk dari dunia sepakbola nasional. Bukan hal yang aneh sebab tema yang membuat hati prihatin itulah yang lebih sering menyapa kita. Setiap kegagalan tim nasional di berbagai event berganti giliran dengan kabar kekerasan oleh suporter, perilaku nakal dari beberapa pemain dan &lt;i&gt;official&lt;/i&gt; yang mencederai spirit &lt;i&gt;fair play&lt;/i&gt;. Tak hanya itu, oknum pengurus pun banyak yang melacurkan diri dengan menyalahgunakan wewenang demi keuntungan pribadi. Jadi sepakbola nasional tak ubahnya seperti kanal bagi watak kriminal dari para pelakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu, selagi bersiap dan menyambut gelaran AFC Asian Cup 2007 di rumah sendiri, masyarakat sepakbola disuguhi geger suap yang melibatkan &lt;i&gt;official&lt;/i&gt; Penajam Medan Jaya (merger Penajam Putra Kalsel &amp;amp; Medan Jaya) dengan oknum pengurus PSSI. Skandal dengan transaksi ratusan juta rupiah ini merupakan upaya pihak klub untuk membeli keputusan dari pengurus PSSI. Protes PSP Padang yang keberatan dengan keputusan PSSI yang mengijinkan Penajam Medan Jaya (PMJ) ikut kompetisi Divisi Satu 2007, karena pernah tersangkut kasus walk out saat melawan PS Tembilan, menjadi awal semua inisiatif jahat itu. Terancam gagal berkompetisi, PMJ kemudian mencoba melobi Komisi Disiplin yang ditugaskan Ketua Umum PSSI untuk menuntaskan masalah tersebut. Jadilah tawar menawar biaya keputusan untuk menyelamatkan PMJ. Meski sudah menyetor uang sebesar Rp100 juta namun pada akhirnya Komdis tetap mengeluarkan Surat Keputusan (SK) bertanggal 29 Mei 2007 yang isinya mendiskualifikasi, mendegradasi ke divisi dua, dan mendenda sebesar Rp50 juta pada Penajam Medan Jaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski terdapat rentang waktu yang lama dari heboh mafia wasit, toh skandal semacam ini bukannya tak sering terjadi di sepakbola tanah air.Layaknya fenomena gunung es, semua kisah yang dipaparkan oleh media massa hanyalah puncak dari sekian banyak ulah cela lain yang tertutupi. Banyak pihak yang tahu rahasia yang sudah jadi umum itu namun coba menutup mata. Menurut cerita dari beberapa kawan, yang anggota keluarganya menjadi pengurus klub dan wasit untuk PSSI, perihal suap dan kolusi merupakan kebiasaan yang dilestarikan secara konsisten dari waktu ke waktu yang berganti hanya pelakunya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah beberapa kasus suap yang pernah terjadi di lingkungan PSSI dan sepakbola Indonesia. Pada tahun 1998 terjadi kasus suap dengan tema tawaran lolos ke babak 12 Besar Liga Indonesia. Djafar Umar yang menjabat Ketua Komisi Wasit PSSI pada saat itu beserta sepuluh wasit lainnya yang terbukti terlibat, menawarkan jasa mengatur hasil pertandingan pada klub peserta Liga Indonesia. Selang enam tahun kemudian, giliran Jimmy Napitupulu, wasit FIFA Indonesia, yang ditawari suap oleh pengurus Persebaya Surabaya agar ”menyelamatkan” enam pemainnya yang rawan akumulasi kartu pada pertandingan melawan Persib Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perihal suap, rekayasa hasil dan berbagai skandal memalukan lainnya tak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di belahan dunia lain termasuk negara yang memiliki tradisi prestasi kelas dunia seperti Inggris, Prancis, Italia dan Jerman. Begitu juga dengan negara tetangga di region Asia Tenggara, yang kebetulan bersama Indonesia dan Thailand menjadi tuan rumah bersama AFC Asian Cup 2007, yaitu Malaysia dan Vietnam. Namun berbagai skandal di negara lain bukan menjadi pemakluman tumbuh kembangnya skandal serupa di Indonesia, justru menjadi cermin sekaligus pelajaran dalam banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah beberapa sampel skandal besar di dunia sepakbola. Sepakbola Inggris telah mengalami banyak skandal yaitu tahun 1905 suap dengan pelaku pemain Manchester City, Billy Meredith. Pada tahun 1915 tujuh orang pemain Manchester United dan Liverpool dihukum FA karena terbukti mengatur skor 2-0 yang pada waktu itu banyak dipilih petaruh. Lalu tahun 1962 trio pemain Sheffield Wednesday dipenjara 6 bulan dan diskorsing 10 tahun juga karena pengaturan skor. Kejadian heboh juga terjadi di Prancis pada tahun 1993. Pemilik Olympique de Marseille, Bernard Tapie, menyuap para pemain Valenciennes supaya mengalah. Saksi dan bukti akhirnya menyeret Tapie masuk bui dan gelar Liga Prancis pun ikut dicopot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Italia pernah muncul skandal &lt;i&gt;totonero &lt;/i&gt;(pengaturan skor untuk taruhan legal) musim 1979/1980 yang menyebabkan AC Milan dan Lazio turun ke Serie B serta beberapa pemain dari klub-klub lain, salah satunya Paolo Rossi, diskorsing dua tahun. Lalu &lt;i&gt;calciopoli &lt;/i&gt;yang terjadi musim 2004/2005 &amp;amp; 2005/2006, kali ini Juventus yang harus kehilangan &lt;i&gt;scudetto&lt;/i&gt; dan merasakan kompetisi Serie B untuk pertama kalinya. Akibat &lt;i&gt;calciopoli &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;Moggigate&lt;/i&gt;, beberapa klub lain memulai Serie A dengan pengurangan poin. Sedangkan di Jerman pada tahun 1971 terjadi kasus rekayasa hasil sekitar 50 pertandingan Bundesliga yang melibatkan lebih dari 50 pemain, pelatih dan &lt;i&gt;official&lt;/i&gt; klub. Juga skandal Robert Hoyzer pada tahun 2004, seorang wasit yang merekayasa beberapa pertandingan di Piala Jerman. &lt;i&gt;Hoyzer case&lt;/i&gt; ini berhubungan dengan bursa taruhan yang dicukongi mafia Kroasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCML1wv_nDI/AAAAAAAAALw/hxQDQt9DvvQ/s1600-h/1982o.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCML1wv_nDI/AAAAAAAAALw/hxQDQt9DvvQ/s400/1982o.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198011413162859570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Paolo Rossi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, from zero to hero&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Kuasa, Korupsi dan Ironi Kompetisi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Berbagai skandal itu setidaknya selalu melibatkan pemain, &lt;i&gt;official&lt;/i&gt; klub, wasit, bandar judi atau mafia, dan pengurus otoritas sepakbola. Dalam setiap skandal yang terjadi, tampak sebuah perselingkuhan yang intim antara kekuasaan dan uang. Hal ini bisa bermula dari keinginan untuk menang yang kebablasan dan atau mencari keuntungan pribadi. Demi kemenangan segala upaya coba diupayakan termasuk jalan pintas yang haram untuk dilakukan.Motivasi ini kemudian berpadu dengan watak oportunis pemilik modal dan kekuasaan yang senantiasa menanti untung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/RqiW6oaqHoI/AAAAAAAAAGM/lkKhlHf0L4A/s1600-h/lordacton2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 113px; height: 169px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/RqiW6oaqHoI/AAAAAAAAAGM/lkKhlHf0L4A/s400/lordacton2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5091485312768155266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Seperti dalam wasiat sejarawan Inggris &lt;b&gt;John Emerich Edward Dalberg-Acton &lt;/b&gt; atau yang lebih dikenal dengan &lt;b&gt;Lord Acton&lt;/b&gt;, (10 Januari 1834 – 19 Juni 1902 “&lt;i&gt;Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely”&lt;/i&gt;. Sindrom lupa diri bisa menghinggapi siapa saja ketika seseorang sedang memegang kekuasaan baik level atas maupun bawah. Ada dorongan dan godaan yang amat besar untuk menyelewengkan wewenang dan kekuasaan ketika seseorang menjadi penguasa. Kehidupan bangsa ini banyak memberi gambaran dan contoh nyata tentang seleweng wewenang dan kuasa. Dari sistem yang berpihak pada penguasa, birokrasi berbelit, aparat yang mengutip uang, pejabat dan pengusaha saling suap, partai politik yang senantiasa menanti upeti dan berbagai anomali lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuasa dan wewenang, dua ”jimat” inilah yang juga coba dimanfaatkan oleh oknum pengurus PSSI untuk menambah kekayaan pribadi. Jabatan yang strategis dan payung hukum dengan tafsir abu-abu merupakan piranti yang memudahkan oknum pengurus untuk meninggikan posisi tawar mereka. Peluang dan kesempatan itu kemudian menganga lebar ketika mereka bertemu dengan pengurus-pengurus klub yang menginginkan kemenangan dan atau mencari selamat, pemain yang terancam hukuman atau skorsing, klub atau kota yang ingin menjadi tuan rumah event sepakbola serta pemain asing yang butuh legalitas. Semua peluang itu berpotensi memunculkan selingkuh yang setara dengan polah pejabat dan pengusaha yang saling sogok. Oknum pengurus adalah representasi dari sosok pejabat, sedangkan insan sepakbola yang oportunis adalah pengusaha disisi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku penyuapan (&lt;i&gt;bribery&lt;/i&gt;) oleh pengurus klub Penajam Medan Jaya pada oknum pengurus PSSI merupakan upaya ”mencari selamat" dari sebuah klub yang terancam...Tak tertutup kemungkinan klub-klub yang lain, melalui pengurusnya, melakukan penyuapan berlambarkan alasan atau motivasi lain yang berbeda tergantung pada kebutuhan klub tersebut. Apapun motif dan alasannya yang mendasarinya, praktek penyuapan oleh klub yang berpadu dengan penyalahgunaan wewenang oleh oknum pengurus PSSI merupakan tindakan korupsi dan kolusi. Kejahatan yang masuk kategori &lt;i&gt;extraordinary crime&lt;/i&gt; karena akibat yang ditimbulkan luar biasa merusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak ragam perspektif untuk mendefinisikan korupsi. Menukil dari Situs Wikipedia, istilah korupsi diambil dari bahasa Latin &lt;i&gt;corruptio&lt;/i&gt; dari kata kerja&lt;i&gt; corrumpere&lt;/i&gt; yang maknanya busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok. Sedangkan &lt;i&gt;Transparency International&lt;/i&gt; memberi definisi pada korupsi yaitu perilaku pejabat publik, baik politikus/politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Korupsi yang dilakukan oknum pengurus PSSI adalah menyelewengkan suatu jabatan secara sengaja untuk memperoleh keuntungan berupa status, kekayaan atau uang untuk perorangan, keluarga dekat atau kelompok sendiri. Sedangkan selingkuh antara pengurus klub dan oknum pengurus PSSI merupakan kolusi. Yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kerja sama rahasia untuk maksud tidak terpuji; persekongkolan. Penyalahgunaan wewenang, kolusi, dan korupsi yang terjadi menunjukkan adanya penyakit &lt;i&gt;bereaumania&lt;/i&gt; di lingkungan PSSI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia sepakbola nasional memang masih mengenal konsep tuan rumah (harus) selalu menang. Keuntungan sebagai tuan rumah menyebabkan peluang suatu klub untuk memenangkan pertandingan menjadi lebih besar. Beberapa faktor pendukung diantaranya yaitu pengenalan lapangan yang lebih baik dan adanya dukungan dari suporter sebagai pemain keduabelas. Dengan adanya konsep ini, kolusi antara pihak klub dan oknum pengurus PSSI justru potensial dilakukan. Vitalnya peran wasit menjadi titik awal sebuah transaksi kotor itu. Wasit nakal bisa memakai kekuasaannya di lapangan untuk memenangkan pihak atau klub yang ”menyejahterakannya”, seperti menghadiahi penalti atau memberi hukuman pelanggaran yang tidak wajar. Otoritas yang membawahi dan berwenang menunjuk wasit, umumnya berperan sebagai agen bagi wasit-wasit nakal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek langsung dari praktek suap, penyalahgunaan wewenang dan korupsi di tubuh PSSI adalah kompetisi biaya tinggi. Anggaran kompetisi suatu klub yang selama ini sudah begitu terbebani oleh menggelembungnya harga kontrak dan gaji pemain asing serta lokal, akan semakin berat dengan adanya “biaya tambahan”. Semua biaya besar itu tak melulu habis untuk kebutuhan wajar dari suatu kompetisi tapi terdapat juga biaya siluman yang lain berupa ”menjamu dan menyejahterakan” wasit, transaksi "promosi dan degradasi " antara pengurus PSSI dan &lt;i&gt;official&lt;/i&gt; klub, legalisasi dan akreditisasi pemain, serta tawar menawar sanksi. Pahitnya hampir semua ongkos transaksi hitam itu dibiayai dari APBD alias uang rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polah suap menyuap yang dilakukan pihak klub dengan otoritas sepakbola ini merusak idealisme sebuah kompetisi. Menjadi hal yang ironis dan tak masuk akal karena sebuah kompetisi sepakbola seharusnya menyuburkan watak &lt;i&gt;fair play&lt;/i&gt; dan semangat sportifitas bagi para pelakunya. Kemenangan mestinya milik mereka yang sebenar-benarnya memiliki kemampuan dan kemauan yang lebih untuk mencapainya. Mereka yang berbekal &lt;i&gt;skill &lt;/i&gt;dan teknik mumpuni disertai daya juang yang tinggi dari individu-individu yang bermain sebagai sebuah tim. Dengan demikian prestasi yang muncul dari sebuah kompetisi adalah perjuangan diatas lapangan bukan karena kekuatan finansial dan kemauan menang yang digunakan dengan cara yang salah dari pengurus klub. Singkat kata, korupsi dan kolusi di lingkungan PSSI dan klub menghambat prestasi sepakbola nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menangkap Tikus: Belajar dari Tetangga&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;“Bagi bangsa kita korupsi sudah menjadi budaya.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Muhammad Hatta&lt;/b&gt; (12 Agustus 1902 - 14 Maret 1980, Wakil Presiden pertama Republik Indonesia)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/Rqn4_YaqHrI/AAAAAAAAAGk/_3sjTJ17zK4/s1600-h/anp-2050250.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/Rqn4_YaqHrI/AAAAAAAAAGk/_3sjTJ17zK4/s400/anp-2050250.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5091874621488766642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jelas bukan perkara gampang untuk memberangus korupsi dan kolusi yang telah berakar kemana-mana. Begitu membudayanya korupsi sehingga menyebabkan rasa pesimisme yang kental dari masyarakat. Seakan-akan sudah tertutup segala jalan untuk diperbaiki. Alih-alih memberantas yang terjadi justru ikut menambah jamaah koruptor. Dan akhirnya korupsi pun menjadi hal lumrah dan melakukannya tanpa malu, bahkan untuk sekedar pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali. Dalam hal ini maka Indonesia disebut telah sampai pada fase &lt;i&gt;kleptokrasi&lt;/i&gt;, yaitu pemerintahan oleh para pencuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu terkejut mendapati kenyataan bahwa hanya upaya sekedarnya yang dilakukan PSSI untuk menyelesaikan masalah ini. Ketua Umum PSSI yang memiliki pengetahuan sebagai seorang koruptor, berdasarkan bukti empiris tentunya, lebih paham bagaimana melindungi para pelaku dibanding mengungkap kejahatan mereka dan memberi sanksi ”kartu merah” yang berprospek memutus budaya korup. Dan sesuatu yang lazim pula apabila si peniup isu &lt;i&gt;(whistleblower)&lt;/i&gt;, dalam kasus ini sekaligus sebagai pelaku, justru yang kena getahnya. Fenomena demikian menandai adanya hambatan dan prospek kegagalan yang besar dari tubuh PSSI sendiri untuk memberantas berbagai praktek korupsi dan kolusi di sepakbola nasional. Selagi masih berkuasanya rezim &lt;i&gt;kleptokrasi&lt;/i&gt; di tubuh PSSI, maka berbagai upaya yang dilakukan layaknya membentur tembok tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu seorang teman wartawan sebuah tabloid olahraga bertiras besar yang selama ini telah dikenal sebagai promotor suporter sportif kreatif dan pemerhati sepakbola nasional yang kritis, memberikan opininya dalam sebuah kolom. Dalam kolom itu, beliau mengajukan harapan munculnya karakter Semar, yang digambarkan sebagai wayang yang bijaksana, dari Ketua Umum PSSI kita. Lalu timbul pertanyaan akibat tulisan itu, masih relevankah (sekedar) berharap dan berdoa hal baik akan dilakukan sang ketua demi sepakbola nasional? Maukah Nurdin Halid berjiwa besar meniru apa yang Franco Carraro lakukan demi &lt;i&gt;calcio&lt;/i&gt; Italia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/Rqh3E4aqHnI/AAAAAAAAAGE/X_peo4eeJLs/s1600-h/semar2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/Rqh3E4aqHnI/AAAAAAAAAGE/X_peo4eeJLs/s400/semar2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5091450304489725554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Semar&lt;/span&gt;, spiritual advisor and magical supporter of the royalty&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Relevan atau tidak relevan terkait sulitnya hal itu terwujud, namun setidaknya bisa ditarik benang merah yang sama bahwa ketua atau pemimpin memiliki peran sangat penting dalam hal ini. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa faktor kekuasaan yang menjadi penyebabnya dan sekaligus perubahan harus dimulai dari pemimpinnya. Mengikuti konsep tersebut maka pemberantasan korupsi dan kolusi di PSSI harus dimulai dari akarnya, yaitu kelompok yang memerintah dan penanggulangannya harus pula dengan melibatkan seluruh kelompok tersebut. Apesnya, mungkinkah akan ada upaya perubahan apabila pemimpinnya adalah bagian dari &lt;i&gt;status quo&lt;/i&gt;? PSSI sangat memerlukan kepemimpinan yang kuat tetapi sekaligus harus bersih. Hakekatnya apabila menghendaki prestasi bagus dari Tim Nasional, industri sepakbola yang kompetitif maka organisasi yang sehat dengan pengurus-pengurus yang bersih dan profesional adalah paket yang harus disertakan. Untuk mengganti bukanlah perkara mudah. Menjadi Ketua Umum PSSI untuk periode yang kedua nyaris tanpa ada lawan, selain baru diawal tugas tentunya, menyebabkan kuatnya posisi Nurdin Halid untuk didongkel. Selain itu, para pengurus sudah semakin kompak untuk membentengi sang ketua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa negara yang dilanda skandal sejenis, senantiasa melibatkan aparat hukum dalam penuntasannya karena masalah suap termasuk dalam kategori perbuatan kriminal. Vietnam telah memberikan contoh bahwa suap yang dilakukan oleh insan sepakbola juga diselesaikan lewat jalur hukum. Atau Italia dengan &lt;i&gt;calciopoli&lt;/i&gt;-nya melakukan penyelidikan serius yang melibatkan unsur-unsur penting yang dimiliki oleh negara tersebut. Deutsche Fussball Bund (DFB), federasi sepakbola Jerman, pun mengajukan Robert Hoyzer ke meja hijau setelah menghadiahi sanksi skorsing. Bahkan baru-baru ini, FBI (Federal Bureau of Investigation) dilibatkan untuk mengungkap dugaan adanya suap di kompetisi NBA yang ditahbiskan sebagai kompetisi bola basket terbaik sejagat. PSSI melalui ketua umumnya seharusnya tidak bisa berdalih lagi bahwa ini dalam wilayah PSSI. Tak perlu mengisolasi skandal dan menyembunyikan kasus itu dari upaya penyelidikan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, upaya menuntaskan setiap masalah, termasuk didalamnya suap dan kolusi, adalah sebuah jalan dan perjuangan panjang. Saat ini penting untuk terus menjalin kesepahaman antar insan suporter dan pegiat sepakbola yang memiliki itikad baik dan kepedulian besar membangun sepakbola nasional. Disini patut berharap pada munculnya intelektual sepakbola yaitu pegiat sepakbola yang lurus juga tulus, wartawan yang kritis dan solutif, suporter yang dapat menjadi bagian dari "&lt;i&gt;watchdog&lt;/i&gt;" yang lebih galak. Intelektual sepakbola ini nantinya harus menjadi kaum pelopor (&lt;i&gt;vanguard&lt;/i&gt;) bagi setiap gerakan moral yang muncul apabila terdapat penyimpangan dalam dunia sepakbola nasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Class action&lt;/i&gt; yang dipelopori Danang Ismartani dan alumni UI, teman-teman suporter juga seruan suci dari Solo yang dipelopori Mayor Haristanto sejujurnya masih teramat sedikit. Di masa depan diperlukan lebih banyak elemen suporter dan intelektual sepakbola yang meneriakkan perubahan. Kembali mengingatkan pentingnya peran kaum intelektual yang bercokol di kelompok-kelompok suporter. Bahwa mereka jangan sampai terkungkung dengan fanatisme pada klub dukungannya tapi juga harus peduli dengan kepentingan lebih besar yaitu nasib sepakbola nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;And how can we win&lt;br /&gt;When fools can be kings&lt;br /&gt;Don't waste your time&lt;br /&gt;Or time will waste you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No one's gonna take me alive&lt;br /&gt;The time has come to make things right&lt;br /&gt;You and I must fight for our rights&lt;br /&gt;You and I must fight to survive&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(Muse - Knights Of Cydonia)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-7066255066033360737?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/7066255066033360737/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=7066255066033360737&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/7066255066033360737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/7066255066033360737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2007/07/bureaumania-sepakbola.html' title='Bureaumania Sepakbola'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMLiAv_nCI/AAAAAAAAALo/LV3DEEAD5fI/s72-c/AFC07-AC-100707-INDvBAH-005.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-3871991437652089836</id><published>2007-06-24T21:56:00.002+07:00</published><updated>2008-11-13T12:06:58.340+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suporter'/><title type='text'>Mahasiswa &amp; Sepak Bola Nasional</title><content type='html'>Oleh: Aji Wibowo&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMRrwv_nHI/AAAAAAAAAMQ/lsf-xZzSbEY/s1600-h/ac2007-logo-white-001.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMRrwv_nHI/AAAAAAAAAMQ/lsf-xZzSbEY/s400/ac2007-logo-white-001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198017838433934450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Perhelatan AFC Asian Cup 2007 tinggal menghitung hari. Berkaca pada event-event serupa yang diselenggarakan di negara-negara lain, hajatan tersebut jelas memiliki potensi untuk membawa kemaslahatan bagi banyak pihak. Masyarakat mendapatkan dua kesempatan sekaligus, hiburan dan peluang kerja serta usaha. Pemerintah pun menjadi pihak yang disenangkan dengan bergairahnya sektor ekonomi setidaknya dalam satu bulan ke depan. Bayangan keuntungan yang akan direguk, empat negara tuan rumah, dari berbagai sektor segera mewujud. Mulai dari jasa transportasi, &lt;i&gt;food &amp;amp; beverage&lt;/i&gt;, penginapan, tempat hiburan, pedagang souvenir hingga terwadahinya sebagian besar penduduk sebagai tenaga kerja paruh waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Euphoria tersebut membawa pikiran ini berkelana pada kenangan lima tahun yang lalu, persis menjelang 2002 &lt;strong&gt;FIFA World Cup™&lt;/strong&gt; Korea-Jepang. Saat masih berstatus mahasiswa dan menjadi tahu kegairahan yang terjadi pada teman-teman mahasiswa menjelang sebuah event besar sepak bola. Mahasiswa seperti halnya masyarakat yang lain, mencoba ikut menikmati hiburan dan peluang mendapat keuntungan secara finansial dari suatu &lt;i&gt;event&lt;/i&gt;. Apakah sekedar ikut meramaikan suasana di lingkungan mereka atau sebagai aktor yang ikut memberi kontribusi langsung yang signifikan pada penyelenggaraan. Bergabung dengan kelompok suporter untuk mendukung tim Merah Putih atau bergabung menjadi sukarelawan membantu kelancaran penyelenggaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diluar kontribusi yang sifatnya temporer tersebut, mahasiswa idealnya bisa berpartisipasi secara terus-menerus dan aktif bagi sepakbola nasional. &lt;i&gt;Bulaksumur Pos&lt;/i&gt; edisi 54 (Selasa, 28 Mei 2002) menjadi monumen atas kegundahan mengenai bagaimana sebaiknya peran dan posisi mahasiswa dalam pembangunan sepakbola dan olahraga nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harus melibatkan mahasiswa? &lt;strong&gt;Daniel Singer&lt;/strong&gt; (1926-2000), author &lt;i&gt;Prelude to Revolution: France in May 1968&lt;/i&gt; (Hill &amp;amp; Wang, 1970) memberi jawaban dengan &lt;i&gt;Singer Model&lt;/i&gt;-nya. &lt;i&gt;“Students and intellectuals acted first”&lt;/i&gt;. Mahasiswa dan kaum intelektual dipahami sebagai kekuatan sosial yang independen dan otonom. Mahasiswa senantiasa mengambil tindakan pertama dalam mengawali banyak peristiwa besar dunia seperti Revolusi Rusia 1905, Revolusi Prancis Mei 1968, Reformasi Indonesia Mei 1998 dan lain-lain. Dalam tindakannya mengawali suatu perubahan tidak dengan mengarahkan atau mengorganisir para pekerja, kaum buruh atau kelas masyarakat yang lain melainkan sekedar mengekspresikan kebutuhan, kesadaran dan impian mereka sendiri. Maka mahasiswa dipandang mewakili suatu kelas dalam masyarakat yang memiliki idealisme murni, dengan dedikasi dan komitmen pada nilai-nilai kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/Rn665IKUwiI/AAAAAAAAAFE/gsTkGoU9Ofs/s1600-h/olice_use_tear_gas_to_disperse_demonstra.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/Rn665IKUwiI/AAAAAAAAAFE/gsTkGoU9Ofs/s400/olice_use_tear_gas_to_disperse_demonstra.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5079702920326595106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;'The May 1968 student riots in Paris'&lt;/em&gt;&lt;em&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Corbis Images&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Baru-baru ini skandal suap, melibatkan beberapa pengurus klub Penajam Medan Jaya dan pengurus PSSI, menyita perhatian dan mengalahkan promosi AFC Asian Cup. Perbuatan kriminil ini bukanlah hal baru melainkan kebiasaan usang yang dijalankan oleh aktor yang berbeda. Pecinta sejati dan masyarakat sepakbola nasional, termasuk didalamnya adalah mahasiswa, mestilah terpanggil dan bersikap. Realitasnya dunia sepakbola tanah air memiliki begitu banyak mahasiswa yang menggemari sepakbola dan menjamurnya kelompok suporter di lingkungan kampus. Kita patut berharap bahwa sedikit dari mereka berkenan untuk memiliki insiatif dan bahu-membahu bersama masyarakat peduli sepakbola nasional untuk meluruskan dan membersihkan lingkungan sepakbola nasional dan khususnya rumah PSSI yang “kotor”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah &lt;i&gt;celetuk&lt;/i&gt; yang (menurut saya pribadi) disajikan dengan bahasa yang polos, dihantarkan dengan kurang runtut, dan referensi yang minim. Namun setidaknya pesan tersebut cukup jelas dan (masih) relevan, semoga. Tulisan ini juga sempat mendapat sentuhan dari sahabat Didik Darmanto sebagai editor.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Piala Dunia dan Mahasiswa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;i&gt;“The love of soccer now is a universal language and bind us all together”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Sambutan &lt;strong&gt;Bill Clinton&lt;/strong&gt; pada Piala Dunia USA ’94 ini menunjukkan betapa besar pengaruh sepakbola dalam kehidupan manusia. Sepak bola telah menjadi bahasa yang universal yang bisa menjadi alat perdamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di penghujung bulan Mei ini. Tepatnya 31 Mei hingga akhir Juni nanti. Dunia akan disuguhi aksi-aksi ajaib para bintang sepakbola dunia. Mereka akan bermain dalam sebuah perhelatan akbar yang bernama Piala Dunia. Sebuah event dunia yang kebesarannya melebihi Olimpiade dan event olah raga lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah relasinya antara mahasiswa dengan Piala Dunia ini? Memang si jenius Zinedine Yazid Zidane, pemain dengan transfer termahal di planet bumi, bukanlah mahasiswa di Spanyol. Melainkan seorang pemain dari sebuah kaya di Eropa. Begitu juga dengan pemain beken lainnya seperti Totti, Figo, dan Vieri. Namun bukan berarti tidak ada sama sekali mahasiswa yang ikut berlaga di Korea-Jepang. Tim nasional Korea Selatan, salah satu tuan rumah yang ditunjuk FIFA, mempunyai beberapa pemain yang masih berstatus mahasiswa. Cha Doo-ri, anak pesepakbola legendaries Korea Selatan Cha Bum-keun, adalah mahasiswa di Universitas Korea. Begitu pula dengan rekannya Lee Chun-soo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMP8wv_nGI/AAAAAAAAAMI/1mMQVMIouJM/s1600-h/lee+chun+soo.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMP8wv_nGI/AAAAAAAAAMI/1mMQVMIouJM/s400/lee+chun+soo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198015931468455010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lee Chun-soo&lt;/span&gt;: Another Korean Heroes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Dalam kejuaraan sepakbola empat tahunan yang pertama kalinya digelar di benua Asia ini juga banyak mahasiswa dari Korea dan Jepang yang menjadi tenaga sukarelawan. Mereka mengerjakan tugas-tugas vital seperti menjadi translator bahasa, official di &lt;i&gt;press center&lt;/i&gt;, pengemudi dan banyak pekerjaan yang lain. Tanggung jawab sebagai mahasiswa membuat mereka mau mengerjakan itu semua. Bahkan tanpa dibayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan mahasiswa Indonesia, Negara yang menjadikan sepakbola sebagai olah raga rakyat. Apa saja yang dilakukannya?Jelas untuk saat ini mereka hanya menjadi penikmat saja. Menjadi pendukung salah satu tim yang berlaga adalah pilihannya. Karena Indonesia gagal berlaga dikancah dunia. Tak mengherankan jika bukan “hidup Indonesia“ yang mereka teriakkan, tetapi &lt;i&gt;“forza Italia”&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;“viva Brazil”&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;“allez France”.&lt;/i&gt; Selain itu, banyak mahasiswa yang karena piala dunia rela “menyisihkan” uang sakunya untuk dipertaruhkan selama perhelatan hebat itu. Mahasiswa rajin membolak-balik jadwal pertandingan. Mendiskusikannya dengan serius penuh analisis hitung-menghitung kekuatan tim yang bakal bertanding. Bahkan tak jarang memerlukan bantuan paranormal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada juga mahasiswa yang memanfaatkan momen piala dunia untuk membuat kegiatan yang lebih bermakna. Seperti acara pertandingan liga futsal, nonton bareng, dan kegiatan lain yang temanya tak jauh dari urusan si kulit bundar. Namun bagaimanapun juga kegiatan ini masih dipertanyakan sumbangannya untuk memajukan persepakbolaan kita. Karena sifatnya yang having fun dan dirasakan sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya mahasiswa bisa berbuat lebih dari sekedar itu. Dengan modal intelektualitas dan semangat bak kuda, mahasiswa bisa membuat kegiatan yang dapat membantu Indonesia berprestasi di bidang olahraga. Dan tentunya berkarya lebih nyata untuk memajukan dunia persepakbolaan Indonesia. Harus kita pikirkan bersama langkah apa saja yang dapat kita perbuat untuk memajukan prestasi sepakbola di tanah air. Apakah dengan membuat media kepelatihan , membantu langkah-langkah pembinaan pemain muda, memberi masukan pada otoritas berupa sebuah laporan penelitian atau lainnya yang bisa memberikan sumbangan berarti demi mengubah wajah persepakbolaan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini masih terjadi kesalahan persepsi di kalangan mahasiswa sendiri. Menurutnya mengharumkan bangsa dan negara sekedar melalui dunia politik, sosial, ekonomi. Sehingga mahasiswa meskipun mempunyai kecintaan yang mendalam pada sepakbola mereka lebih suka berjuang di bidang politik, ekonomi dan lainnya. Semestinya berjuang di bidang olahraga sama pentingnya dengan pilihan menjadi tehnokrat, birokrat ataupun pebisnis. Mahasiswa PBAD sebenarnya punya potensi cukup besar untuk memajukan dunia olahraga, khususnya sepakbola. Karena bermodal &lt;i&gt;background&lt;/i&gt; olah raga dan spiritnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya mereka juga tak bisa berbuat banyak. Bahkan mereka ikut terjebak ke dalam pola &lt;i&gt;study oriented&lt;/i&gt;. Namun hal ini bukan murni kesalahan mahasiswa. Seharusnya mereka diberi kesempatan mengembangkan karirnya di bidang olahraga, dengan dibantu dalam hal pelatihan dan pembinaan yang serius. Namun dari pihak perguruan tinggi sendiri kurang tanggap. Apalagi saat ini dunia sepak bola Indonesia belum bisa menjamin kesejahteraan hidup pemainnya. Tak mengherankan mahasiswa lebih memilih terjun ke dunia teknokrat maupun birokrat yang dipercaya bisa lebih menjamin masa depannya. Ternyata status mahasiswa belum tentu memberikan jaminan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meniru apa yang dicapai Cha Doo-ri dan Lee Chun-soo pastilah sangat sulit dengan kondisi yang dialami Indonesia saat ini. Maka mahasiswa sebagai &lt;i&gt;agent of change&lt;/i&gt; harus berupaya untuk itu. Mengubah sistem usang yang berpihak pada penguasa menjadi sistem yang memajukan bangsa ini secara keseluruhan. Diperlukan juga kerjasama dari seluruh komponen bangsa. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-3871991437652089836?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/3871991437652089836/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=3871991437652089836&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/3871991437652089836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/3871991437652089836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2007/06/oleh-aji-wibowo-perhelatan-2007-afc.html' title='Mahasiswa &amp; Sepak Bola Nasional'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMRrwv_nHI/AAAAAAAAAMQ/lsf-xZzSbEY/s72-c/ac2007-logo-white-001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-285898149231173144</id><published>2007-05-24T18:40:00.005+07:00</published><updated>2011-10-21T20:03:06.533+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suporter'/><title type='text'>From Bondho Nekat to Bondho Luwih</title><content type='html'>&lt;div align="justify" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;i&gt;“Some people believe football is a matter of life&lt;/i&gt;&lt;i&gt; and death; I am very disappointed with that attitude. I can assure you it is much, much more important than that."&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Bill Shankly &lt;/b&gt;(1913-1981, &lt;i&gt;One of the most successful and respected football manager&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMU9Av_nII/AAAAAAAAAMY/oL8vvw7tgCM/s1600-h/Bill+Shankly.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198021433321561218" src="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMU9Av_nII/AAAAAAAAAMY/oL8vvw7tgCM/s400/Bill+Shankly.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Kalimat yang dilontarkan manajer legendaris &lt;i&gt;The Kop&lt;/i&gt; alias Liverpool FC, merepresentasikan tentang karakter luar biasa yang dimiliki oleh para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;football &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;devotee&lt;/span&gt; terutama kaum suporternya. Dalam dunia sepak bola terdapat keniscayaan akan adanya gejala fanatisme penonton dan suporter pada tim yang mereka dukung. Fanatisme ini merupakan fenomena dimana penggemar (&lt;i&gt;fans&lt;/i&gt;) atau suporter mengidentifikasikan secara berlebihan (&lt;i&gt;over-identify&lt;/i&gt;) pada klub yang mereka dukung. Para penggemar dan suporter ini memandang bahwa klub tersebut sebagai perluasan atau perpanjangan dari dirinya dan terlibat lebih dalam secara emosional pada tim tersebut.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wujud dari fanatisme tak sekedar perasaan cinta sejati yang melahirkan kesetiaan dan kontribusi positif pada tim yang didukung tetapi juga bisa berupa cinta buta yang disertai perilaku nekat dalam cara mendukung dari para suporternya. Fanatisme dapat menghasilkan efek negatif berupa perasaan tertekan yang dapat mendorong seseorang berbuat tanpa pertimbangan nalar bahkan melakukan tindakan anarkis nan vandalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lingkup global, fanatisme yang &lt;i&gt;kebablasan&lt;/i&gt; dan polah anarkis kaum suporter ini dikenal sebagai &lt;i&gt;hooliganisme&lt;/i&gt;. Sedangkan dalam lingkup sepak bola nasional kita pernah menjumpai istilah &lt;i&gt;bonekisme&lt;/i&gt; untuk menyebut perilaku suporter fanatik tak bermodal yang gemar menyulut kerusuhan. Seperti halnya sebutan &lt;i&gt;hooligans&lt;/i&gt; untuk para pelaku &lt;i&gt;hooliganisme&lt;/i&gt;, maka pelaku &lt;i&gt;bonekisme&lt;/i&gt; disebut suporter &lt;i&gt;bonek&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Fenomenologi Suporter Bonek&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/Rn6_Z4KUwmI/AAAAAAAAAFk/NrAazibqhJw/s1600-h/Bonek-isi.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5079707881013822050" src="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/Rn6_Z4KUwmI/AAAAAAAAAFk/NrAazibqhJw/s400/Bonek-isi.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 209px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 209px;" /&gt;&lt;/a&gt;Meski hampir semua kelompok suporter di Indonesia memiliki riwayat berbuat kerusuhan namun nama suporter bonek (dengan &lt;b&gt;b&lt;/b&gt; kecil) ini kemudian identik dengan pendukung klub Persebaya Surabaya yang dikemudian hari menamakan kelompok suporternya dengan &lt;b&gt;Bonekmania&lt;/b&gt; (dengan &lt;b&gt;b&lt;/b&gt; besar) selain keberadaan &lt;b&gt;YSS&lt;/b&gt; (Yayasan Suporter Surabaya) pimpinan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wastomi Suheri&lt;/span&gt;. Dilekatkannya sebutan bonek bagi suporter Surabaya, khususnya Persebaya, tidak bisa dilepaskan dari fakta sejarah yang melatarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;National Geographic Indonesia&lt;/span&gt; edisi Juni 2006 memuat sekelumit informasi tentang suporter &lt;i&gt;bone&lt;/i&gt;&lt;i&gt;k&lt;/i&gt;. Istilah bonek alias &lt;i&gt;bondho nekat&lt;/i&gt; atau tak bermodal, sebenarnya sudah populer di Surabaya dan awal kemunculannya berkonotasi positif. Istilah itu dipakai untuk menggambarkan kenekatan pemuda-pemuda Surabaya dalam melawan penjajah Belanda, meskipun tidak punya modal senjata yang cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya sebutan suporter &lt;i&gt;bonek&lt;/i&gt; pada tahun 1987. Diawali dengan sepak terjang harian &lt;i&gt;Jawa Pos&lt;/i&gt; melalui &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dahlan Iskan&lt;/span&gt;, yang pada waktu itu menjabat sebagai pemimpin redaksi, mengerahkan suporter dengan menggunakan sekitar 300 bus untuk mendukung Persebaya yang lolos ke final kompetisi Perserikatan menghadapi PSIS Semarang di Istora (sekarang Stadion Utama Gelora Bung Karno) Senayan. Sedangkan yang tidak terkoordinir, yang sebagian besar dari mereka membawa modal pas-pasan bahkan tak bermodal, berangkat ke Jakarta dengan menumpang kereta api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil akhir final tersebut telah menempatkan Persebaya di pihak yang kalah. Dengan balutan perasaan kecewa akibat kekalahan klub kesayangannya, para pendukung tak bermodal itu melakukan penjarahan dan aksi anarkis. Sejak peristiwa itulah suporter Persebaya yang tidak terorganisir identik dengan sebutan &lt;i&gt;bonek&lt;/i&gt;. Meski pada kenyataannya perilaku sejenis juga pernah dilakukan oleh beberapa kelompok suporter klub lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena suporter &lt;i&gt;bonek&lt;/i&gt; menjelma menjadi masalah sosial yang amat mengganggu. Perilaku suporter bonek ini tak hanya kontraproduktif bagi dunia persepakbolaan nasional tetapi juga merugikan kepentingan masyarakat umum. Aksi anarkis mereka menimbulkan kerugian materiil dan tak jarang menagih korban hingga meninggalkan jejak trauma bagi masyarakat. Suporter &lt;i&gt;bonek&lt;/i&gt; menebar kecemasan pada hampir setiap jelang dan usai laga Persebaya. Para pelaku kegiatan ekonomi seperti pemilik toko dan pedagang kaki lima berinisiatif tutup dagangan lebih awal sebagai upaya preventif menghindari pemalakan dan penjarahan oleh suporter &lt;i&gt;bonek&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampel berikut, sebagian besar bersumber dari &lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt;, menunjukkan beberapa ulah anarkis yang pernah dilakukan suporter &lt;i&gt;bonek&lt;/i&gt; Persebaya. Tahun 1995, bonek Persebaya terlibat kericuhan yang menewaskan seorang penonton pada laga melawan tuan rumah PSIM Yogyakarta. Pada 5 Mei 2004 Pertandingan antara Persela Lamongan dan Persebaya Surabaya di Stadion Surajaya, Lamongan, juga berakhir rusuh. Kemudian 8 Juni 2006, pendukung Persebaya membuat ulah menjelang laga lawan Mojokerto Putra. Ulah tak simpatik suporter Persebaya juga ditunjukkan saat final Divisi Satu 2006 di Stadion Brawijaya, Kediri, dengan memenuhi &lt;i&gt;sentelban&lt;/i&gt; dan bentrok dengan Pasoepati, suporter Persis Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan rekam jejak yang begitu buruk, suporter Persebaya kerap mendapat resistensi diberbagai tempat khususnya dari Panitia Penyelenggara (Panpel) pertandingan tandang Persebaya yang cemas pada potensi keributan yang bakal timbul. Tak hanya Panpel yang alergi dengan kehadiran suporter Persebaya tetapi juga berbagai elemen masyarakat lainnya. Hajatan 8 besar Liga Indonesia 2004-2005 di Jakarta menjadi bukti terang, ketika beberapa ormas di ibukota memaklumatkan ancaman serius sebagai bentuk penolakan pada keberadaan dan perilaku suporter &lt;i&gt;bonek&lt;/i&gt; Persebaya. Hal ini berbuntut ditariknya seluruh suporter Persebaya dari Jakarta dan diikuti instruksi mundur tim Persebaya dari 8 besar oleh Ketua Umumnya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bambang DH&lt;/span&gt; dengan dalih keamanan dan keselamatan terancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya kesabaran akan aksi negatif para bonek itu sampai pada batas. Kerusuhan ’Asu Emper’ (Amuk Suporter Empat September), yaitu amuk &lt;i&gt;bonek&lt;/i&gt; yang mengakibatkan Stadion Gelora 10 November Tambaksari beserta kompleks sekitarnya membara. Membuat Persebaya beserta elemen suporternya menuai sanksi berat  dari Komisi Disiplin PSSI. Hukuman tersebut berupa pencekalan selama setahun untuk menggelar pertandingan di seluruh wilayah Jawa Timur bagi Persebaya dan tidak diperkenankan untuk terlihat di stadion mana pun di Indonesia selama tiga tahun bagi &lt;i&gt;bonek&lt;/i&gt; dan penonton yang memakai atau membawa atribut berbau Persebaya, apakah dalam bentuk logo, spanduk, atau atribut lainnya. Meski dikemudian hari keputusan ini dipangkas habis-habisan oleh Komisi Banding dan hak &lt;i&gt;prerogative&lt;/i&gt; Ketua Umum PSSI. Sanksi ini berdampak mampatnya kesempatan bagi suporter Persebaya sejati untuk mengaktualisasikan hasrat mendukung tim kesayangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan dan pencekalan pada suporter &lt;i&gt;bonek&lt;/i&gt;, dalam wujud sanksi moral dan sanksi hukum, bisa dicerna sebagai simbol habisnya kesabaran dan terbitnya harapan bahwa perilaku &lt;i&gt;bonek&lt;/i&gt; yang anarkis alias &lt;i&gt;bonekisme&lt;/i&gt; tidak relevan terutama di era suporter sportif kreatif dan seharusnya tidak lagi diberi ruang. Meski demikian upaya rehabilitasi &lt;i&gt;bonekisme&lt;/i&gt; diarahkan pada cara yang elegan dan memberdayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="font-style: italic;"&gt;Bondho Luwih Iniciatives&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Upaya-upaya pun diusahakan untuk merehabilitasi masalah ini. Melihat kecenderungan terus berulangnya kasus kekerasan oleh suporter &lt;i&gt;bonek&lt;/i&gt; maupun kelompok suporter lain. Maka tak cukup hanya dengan represi dari aparat saat pertandingan atau pemberian sanksi yang keras untuk pelanggaran tersebut. Apalagi dengan mekanisme penjatuhan sanksi yang kerap tidak jelas dasarnya, tidak tepat sasaran dan tidak memenuhi rasa keadilan. Alih-alih mendidik dan membuat jera yang terjadi justru kelompok-kelompok suporter makin antipati pada PSSI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka diperlukan juga upaya yang lebih menyentuh pada akar permasalahan (&lt;i&gt;core of the problem&lt;/i&gt;). Sejatinya munculnya kekerasan dan keributan tidak melulu akibat situasi pertandingan yang abnormal. Seperti wasit yang berat sebelah, pemain yang tidak bermain bersih, suporter tamu yang provokatif, dan aparat keamanan yang &lt;i&gt;over-active&lt;/i&gt;. Semua hal tersebut bisa kita definisikan sebagai faktor pemicu. Sedangkan akar masalah seringkali bisa kita dapatkan sebagai faktor diluar pertandingan. Penonton dan suporter yang mudah meledak hanyalah mereka yang menanggung beban hidup yang berat dalam keseharian, kemudian mencari jalan dan media untuk pelampiasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kampanye suporter anti-anarkis yang terus digulirkan oleh kelompok-kelompok suporter sportif kreatif. Pemberdayaan ekonomi dan kebijakkan pembangunan yang adil bagi masyarakat urban, sebagai pembentuk struktur suporter &lt;i&gt;bonek&lt;/i&gt;, dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait menjadi solusi yang tidak bisa ditawar untuk memupus rantai kekerasan. Hal ini merujuk pada tesis yang diapungkan oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muhammad Yunus&lt;/span&gt;, peraih Nobel Perdamaian 2006, bahwa akar kekerasan dan terorisme bersumber pada kemiskinan dalam masyarakat. Khususnya kemiskinan yang mereka alami akibat ulah segelintir orang yang merampok kekayaan negara. Radikalisme yang meledak adalah akumulasi akibat kungkungan kemiskinan dan sakit hati yang terus menerus. Jadi segala upaya untuk menghapus &lt;i&gt;bonekisme&lt;/i&gt; dalam sepakbola tidak akan berjalan tuntas apabila tidak menolong para pelaku rusuh itu memperbaiki kehidupan dan berlaku adil pada mereka. Kenyataannya para &lt;i&gt;bonek&lt;/i&gt; tersebut rata-rata berangkat dari kelas dalam masyarakat yang secara pendidikan rendah, pengangguran dan termarginalkan secara sosial ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/Rn6_uoKUwnI/AAAAAAAAAFs/94NrEjtGT28/s1600-h/portrait_hr2.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5079708237496107634" src="http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/Rn6_uoKUwnI/AAAAAAAAAFs/94NrEjtGT28/s400/portrait_hr2.jpg" style="cursor: pointer; display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 85%; font-style: italic;"&gt;"I believe putting  resources into improving the lives of poor people is a better strategy than  spending it on guns."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Inisiatif-inisiatif tersebut juga dapat berlaku untuk perkara-perkara keributan oleh kelompok suporter lainnya. Berkaca pada fakta bahwa kekerasan oleh suporter lebih didominasi oleh kelompok suporter dari kota-kota besar yang notabene memiliki problem sosial yang lebih pelik berupa banyaknya warga miskin, angka pengangguran yang tinggi, kenakalan remaja dan tingginya tingkat kriminalitas. Kehidupan yang serba tidak enak dan dipinggirkan membentuk karakter yang keras dan tidak peduli dalam masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya pemberdayaan suporter tidak akan berjalan ideal apabila hanya melibatkan insan-insan dalam lingkup sepak bola semata. Kita perlu untuk menuntut keterlibatan secara intensif dan komprehensif dari pihak-pihak yang bersinggungan dengan kepentingan pengentasan kemiskinan, kondusifnya situasi keamanan, dan lancarnya pembangunan. Harus ada perubahan cara pandang, bahwa penanganan kekerasan suporter masuk dalam bingkai besar pembangunan masyarakat yang lebih manusiawi. Tidak lagi menelurkan kebijakkan yang memojokkan masyarakat dengan berpihak pada para pemilik modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah pemberdayaan juga tidak serta merta menempatkan &lt;i&gt;bonek&lt;/i&gt; sebagai obyek melainkan memberi kesempatan pada mereka untuk ikut memberdayakan diri dan diberi harapan untuk memperbaiki namanya. Dengan kerjasama yang kompak antara insan sepak bola dan pemerintah diharapkan dapat sedikit demi sedikit mengangkat status suporter &lt;i&gt;bonek&lt;/i&gt; menjadi suporter &lt;i&gt;bondho luwih&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan &lt;i&gt;bondho luwih&lt;/i&gt; atau kelebihan modal, penonton dan suporter diasumsikan memiliki kehidupan bermasyarakat yang setidaknya minim persoalan. Sehingga datang ke stadion sebagai kegiatan rekreatif dan aktualisasi kecintaan pada klub yang didukung. Untuk mewujudkan suporter &lt;i&gt;bondho luwih&lt;/i&gt; haruslah mengajak berbagai pihak yang senantiasa memelihara harapan, kecintaan dan kepeduliannya pada sepak bola tanah air yang lebih baik. Untuk berbagi ide dan sumbangsih pemikiran untuk selanjutnya dieksekusi oleh tangan-tangan dingin nan bersih dalam wujud yang nyata. Diharapkan ada banyak alternatif cara pemberdayaan yang dapat direkomendasikan oleh pemikir-pemikir dedikatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk selanjutnya pesan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bruce Lee&lt;/span&gt; yang mengutip dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Johann Wolfgang von Goethe&lt;/span&gt; ini pantas untuk dijadikan renungan. “&lt;i&gt;Knowing is not enough, we must apply. Willing is not enough, we must do.&lt;/i&gt;”&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-285898149231173144?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/285898149231173144/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=285898149231173144&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/285898149231173144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/285898149231173144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2007/05/from-bondho-nekat-to-bondho-luwih.html' title='From Bondho Nekat to Bondho Luwih'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMU9Av_nII/AAAAAAAAAMY/oL8vvw7tgCM/s72-c/Bill+Shankly.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-140087338964497357</id><published>2007-04-25T00:34:00.001+07:00</published><updated>2008-11-13T12:06:59.174+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suporter'/><title type='text'>Belajar Pada Suporter</title><content type='html'>Oleh : Aji Wibowo&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sabtu sore, 21 April 2007, kompetisi Liga Indonesia mempertemukan PSS Sleman dengan Persija Jakarta, sekaligus juga mempertemukan dua kelompok suporter kreatif atraktif Slemania dan Jakmania di stadion Maguwoharjo Sleman. Hadir sebagai tamu, Jakmania datang dalam jumlah yang besar dan hampir memenuhi tribun selatan. Dalam siraman air hujan yang deras, kedua kelompok suporter tersebut menunaikan tugasnya menyulut semangat bertanding masing-masing tim yang didukung. Pertandingan memang berakhir dengan skor 2–1 untuk kemenangan PSS Sleman namun kesan baik telah ditampilkan dan ditinggalkan oleh kedua kelompok suporter tersebut. Suasana pertandingan yang cukup panas tak ikut menyulut api permusuhan pada masing-masing pendukungnya. Yang menang berhak bergembira, yang kalah boleh kecewa tetapi sama sekali tak menghalangi kedua kelompok suporter itu merayakan pesta kemenangan semangat sportifitas dan persahabatan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari sebelumnya, 19 April adalah peringatan hari lahir PSSI yang 77 tahun yang lalu didirikan oleh perwakilan 7 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bond&lt;/span&gt; di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. Tak ada perayaan dan kado spesial berupa pencapaian prestasi hebat yang bisa diberikan oleh pengurus PSSI era Nurdin Halid dalam moment istimewa itu. Masing-masing sibuk dengan agenda Munas yang agendanya lebih pada mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan PSSI maupun sepak bola nasional itu sendiri. Seperti yang diprediksi banyak orang bahwa Munas akan menjadi ajang untuk memuluskan Nurdin Halid terpilih untuk kali yang kedua, terbukti sudah. Tak ada pesta demokrasi dalam moment tersebut dan tak ada pula konflik dan semangat kompetisi yang melatari proses pemilihan itu. Hal yang aneh sekali apalagi bagi otoritas sepakbola yang permainannya kerap menciptakan drama berkat konflik dan kompetisi didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/RjClktJOeiI/AAAAAAAAACI/EW2TNsk5-gM/s1600-h/nivu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/RjClktJOeiI/AAAAAAAAACI/EW2TNsk5-gM/s400/nivu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5057724431549233698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nederland Indische Voetbal Unie (NIVU)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;di World Cup 1938&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;, &lt;/span&gt;Prestasi tertinggi anak bangsa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sepakbola adalah Konflik dan Kompetisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Permainan sepakbola bersifat timbal balik, dengan sifatnya tersebut sepak bola jelas tidak bisa untuk dimainkan sendirian. Dalam praktiknya, sepakbola merupakan interaksi dua pihak yang saling melawan satu sama lain dalam suatu permainan untuk memperebutkan hadiah tertinggi yaitu kemenangan. Seperti sebuah dialektika, sintesa yang berupa kesempurnaan dan keindahan permainan sepak bola lahir dari pertentangan dua tim yang bertanding yang berbuah hasil yang kontras yaitu kemenangan di satu pihak dan kekalahan di pihak yang lain. Dalam sepakbola senantiasa menampilkan dua wajah yang kontradiktif sebagai suatu keniscayaan yang tak bisa dipungkiri. Suatu fenomena yang di dalamnya termuat elemen menang dan kalah, sportifitas dan culas, kegembiraan dan kekecewaan, sanjung puji dan caci maki, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sepakbola adalah bentuk konflik dan kompetisi sekaligus. Sebagai bentuk konflik karena pada dasarnya sepakbola merupakan olahraga yang didalamnya terdapat upaya saling mengalahkan untuk memperoleh kemenangan. Sedangkan spirit kompetisi diwujudkan dengan adanya aturan-aturan permainan, yang dibuat oleh otoritas yang berwenang, guna menjamin keadilan dalam lapangan. Secara umum konflik merupakan aktualisasi dari suatu perbedaan dan pertentangan antara dua pihak atau lebih. Sehingga wujud konflik dan kompetisi direpresentasikan tidak hanya oleh dua puluh dua orang di lapangan yang terbagi dalam dua tim yang berbeda tetapi melibatkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;official&lt;/span&gt; dan seluruh komponen tim serta pendukung atau suporter masing-masing.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Suporter sebagai bagian yang terlibat langsung dengan tim yang bertanding ikut terseret dalam situasi konflik tersebut. Suporter hadir di arena pertandingan dengan tujuan mendukung untuk menaikkan mental dan moral tim yang didukung sekaligus meneror mental tim lawan. Ketika dua kelompok suporter bertemu di arena pertandingan dengan tujuan yang sama namun berbeda tim yang didukung maka yang terjadi adalah pertentangan, perang yel-yel, saling ejek dan lain-lain. Konflik yang terjadi antar kelompok suporter jelas tidak bisa dipisahkan dari konflik dan kompetisi yang terjadi pada klub yang mereka dukung. Sebab suporter senantiasa mengidentifikasikan dirinya dengan tim yang mereka dukung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Konflik antar suporter sebagai suatu keniscayaan, terjadi ketika mereka bertemu di arena dan mungkin saja masih berlanjut setelah pertandingan usai. Meski terdapat konflik tidak berarti hal tersebut bernilai negatif karena pada dasarnya konflik berbeda dengan kekerasan. Konflik tidak selalu dapat dilihat dengan kasat mata. Menurut &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dr. A. Munir Mulkhan,&lt;/span&gt; dkk, dalam bukunya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Kekerasan dan Konflik: Tantangan Bagi Demokrasi”&lt;/span&gt; (Forum LSM DIY, 2001) menjelaskan bahwa konflik bukan sekedar peristiwa atau “fakta” seperti tawuran, perang, revolusi sosial, demontrasi, aksi massa, dan lain-lain tetapi juga dimengerti sebagai sudut pandang, perspektif dalam melihat atau memandang peristiwa-peristiwa sosial.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/RjtPCdJOelI/AAAAAAAAACg/MXnYJnRwzBg/s1600-h/coser.jpe"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 152px; height: 168px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/RjtPCdJOelI/AAAAAAAAACg/MXnYJnRwzBg/s400/coser.jpe" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5060725509882542674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lewis &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alfred &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Coser&lt;/span&gt; (1913-2003), Presiden ke-66 American Sociological Association sekaligus penulis buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Functions of Social Conflict&lt;/span&gt;, menerangkan bahwa konflik merujuk pada suatu keadaan pertentangan antar dua atau lebih kelompok dengan identitas yang jelas. Pertentangan tersebut dapat berupa pertentangan kepentingan atas sumber daya, pengakuan atau gengsi dan tidak selalu disertai dengan kekerasan. Pada akhirnya semua mesti bisa memaklumi bahwa konflik merupakan suatu hal yang lumrah apalagi dalam dunia suporter sepakbola namun tidak perlu pemakluman alias toleransi untuk kekerasan. Meski faktanya kekerasan kerap kali singgah dalam hingar bingar dunia sepak bola namun secara filosofis, kekerasan tidak sejalan dengan semangat sportifitas sepak bola sebagai suatu bidang olahraga. Kekerasan menjadi musuh utama bagi pecinta dan suporter sejati sepak bola.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suporter (sedang) Belajar, Belajar (pada) Suporter&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak persoalan yang dihadapi bangsa ini, terutama masih banyaknya fenomena kekerasan baik oleh massa atau individu. Namun dalam menyikapi berbagai persoalan itu kita bisa banyak belajar dari kelompok-kelompok suporter sepakbola di Indonesia. Ada memang beberapa kejadian kerusuhan yang melibatkan kelompok suporter sebagai bentuk kekerasan massa. Bahwa keributan dan kerusuhan itu membawa konsekuensi kerugian bagi masyarakat banyak masih sering terjadi namun dari waktu ke waktu frekuensi dan skala kerusuhan yang melibatkan suporter makin berkurang dan mengecil. Sepanjang waktu kelompok suporter berinteraksi dengan kelompok suporter yang lain, terdapat dinamika, dan mereka memetik pengalaman serta belajar menjadi lebih dewasa dalam segala hal. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Disaat terdapat fenomena institusi pendidikan yang diharapkan nantinya menghasilkan aparat pengayom masyarakat tetapi yang terjadi adalah pendidikan penuh kekerasan dan arogansi senior atas yuniornya yang mengakibatkan jatuh korban jiwa. Disisi yang lain kelompok suporter terus giat berbenah diri, berlaku tertib didalam dan diluar lapangan, terus menerus memupus kekerasan dan mengkampanyekan persahabatan antar kelompok suporter dan sikap menghormati sesama suporter. Ketika para pejabat, birokrat, dan wakil rakyat yang terhormat gagal mengemban amanat namun putus urat malunya hingga tetap bertahan bahkan ”bermain sirkus” dengan aksi tipu-tipu pada rakyat. Dilain pihak suporter masih bisa merasa malu ketika diteriaki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;”ndeso”&lt;/span&gt; atau kampungan apabila perilaku mereka mengganggu pertandingan seperti melempar benda ke lapangan atau menerabas masuk stadion tanpa tiket. Bagi mereka, masuk dan menonton haruslah dengan membayar. Sehingga tak aneh apabila mereka kemudian bekerja keras dan berpikir kreatif untuk mendapatkan uang demi membeli tiket pertandingan. Melancong menemani timnya bertanding dikandang lawan hanya dengan transportasi dan akomodasi sekedarnya pun sanggup mereka jalani. Bukankah itu jauh lebih baik daripada mereka yang meminta berbagai fasilitas yang serba wah untuk kepentingan pribadi namun dengan memakai uang rakyat?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Disaat suhu pertandingan memanas mereka tetap berusaha berpikir jernih dan bertindak proporsional. Saat perekonomian mereka tak cukup baik menopang kehidupan sehari-hari mereka tetap menyalakan harapan dengan tetap berusaha membeli tiket pada setiap ritual menonton mereka. Kala perhatian otoritas tertinggi pada mereka jauh dari harapan, yang lebih sibuk dengan urusan memberi hukuman dan sanksi yang kerap salah sasaran dan tak benar-benar mendidik untuk lebih baik, para suporter itu tetap giat memperbaiki diri, memperkukuh semangat dan menjadi jauh lebih beradab pada setiap sikap hidupnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/RjtMjdJOekI/AAAAAAAAACY/6fX9_uSwXD8/s1600-h/kahlil_gibran2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 132px; height: 185px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/RjtMjdJOekI/AAAAAAAAACY/6fX9_uSwXD8/s400/kahlil_gibran2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5060722778283342402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Semestinya kita tak perlu berkecil hati dan terus memupuk optimisme meski prestasi sepak bola nasional tak kunjung mekar, akibat salah urus dari pengurus yang berwatak oportunis, karena kita masih memiliki banyak sekali orang yang begitu mencintai sepakbola dan kehidupannya dalam wujud sebagai suporter. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kahlil Gibran&lt;/span&gt; (1883 - 1931), mewariskan kalimat indah&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Segala kerja adalah hampa kecuali ada cinta”&lt;/span&gt;. Cinta adalah kekuatan terbesar yang menjadi modal yang berharga untuk membawa kehidupan sepakbola  nasional juga kehidupan negeri ini menjadi lebih baik. Semangat dan cinta dari suporter selayaknya dijadikan obligasi moral bagi kita semua yang peduli pada persoalan sepakbola nasional yang macet maupun persoalan kehidupan berbangsa yang masih suram.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Penting untuk selalu mempertahankan sikap peduli, kerelaan dan kebersihan hati untuk memberi koreksi pada setiap bentuk penyimpangan dan kekeliruan disekitar kita. Peduli dan kritis adalah bentuk keimanan paling kuat yang harusnya dimiliki oleh tiap jiwa manusia. Mari terus belajar...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-140087338964497357?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/140087338964497357/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=140087338964497357&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/140087338964497357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/140087338964497357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2007/04/belajar-pada-suporter.html' title='Belajar Pada Suporter'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/RjClktJOeiI/AAAAAAAAACI/EW2TNsk5-gM/s72-c/nivu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-3030880309126227409</id><published>2007-03-25T00:41:00.006+07:00</published><updated>2011-10-21T20:00:32.687+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kajian Sosial'/><title type='text'>Sepakbola: Olahraga, Kekuatan Pertunjukan dan Ritus Sosial</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-HNFQ0zX3YXs/TqFq6n_I1ZI/AAAAAAAAAb8/zs3VRLx_1C8/s1600/AGRacingClubsFansHosedx.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-HNFQ0zX3YXs/TqFq6n_I1ZI/AAAAAAAAAb8/zs3VRLx_1C8/s1600/AGRacingClubsFansHosedx.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%; font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Football devotee&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;: Tak mudah untuk dipahami (&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Photograph©2002 Andrew Kaufman&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa salah satu dari “kegairahan besar” (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;the great passion&lt;/span&gt;) di abad dua puluh ini adalah dunia olahraga. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Umberto Eco&lt;/span&gt;, author buku fenomenal &lt;a href="http://it.wikipedia.org/wiki/Il_nome_della_rosa_%28romanzo%29" style="font-style: italic;" title="Il nome della rosa (romanzo)"&gt;Il nome della rosa&lt;/a&gt;, dalam bukunya yang bertitel &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tamasya dalam Hiperealitas&lt;/span&gt;, (&lt;st1:place&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;: Jalasutra, 2004) berpandangan bahwa olahraga mengalami peristiwa diamplifikasi, tatkala olahraga yang mulanya sebuah permainan yang dimainkan oleh satu orang menjelma semacam diskuisisi dalam permainan. Olahraga berubah sebagai sebuah permainan yang dimainkan untuk ditonton orang lain.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;Dari tesis Eco itu, olahraga pada awalnya merupakan agenda dan kegiatan individu yang diantaranya bertujuan untuk menjaga dan atau meningkatkan kebugaran, atau sekedar kegiatan rekreatif serta bersenang-senang untuk pelakunya semata. Kemudian berubah seiring dengan adanya perubahan kebijakan yang bentuknya bisa berupa upaya untuk mengadu kualitas dan kecakapan seseorang atau beberapa orang dalam olahraga atau permainan tersebut dalam suatu perlombaan atau pertandingan yang diadakan oleh otoritas tertentu yang biasanya adalah pihak penguasa. Sedang kehadiran penonton awalnya berperan sebagai saksi munculnya pemenang atau yang terbaik dalam perlombaan dan pertandingan tersebut. Olimpiade dan Gladiator adalah beberapa contoh olahraga atau permainan yang dimainkan untuk dinikmati massa penonton. Upaya penguasa untuk mendapatkan hiburan dan kesenangan dari pertunjukan olahraga dan permainan tersebut menulari rakyatnya. Olahraga dan permainan yang relatif rutin diselenggarakan dan dihadiri banyak orang sebagai penonton tersebut telah menjadi sebuah ritus sosial.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/Rn7BsYKUwpI/AAAAAAAAAF8/EZY8iFuuGbg/s1600-h/Borghese_gladiator_1_mosaic_dn_r2_c2.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5079710397864657554" src="http://2.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/Rn7BsYKUwpI/AAAAAAAAAF8/EZY8iFuuGbg/s1600/Borghese_gladiator_1_mosaic_dn_r2_c2.jpg" style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-size: 85%; font-weight: bold;"&gt;Gladiator: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia; font-size: 85%;"&gt;Ritus Sosial masa lalu   &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;Di era globalisasi ini kemudian dikenal adanya istilah sportainment yang mengonfirmasikan fakta bahwa olahraga tak lagi sekedar olah tubuh tetapi juga sebuah industri hiburan dan bisnis pertunjukan yang mengundang ribuan penonton dan jutaan pemirsa. Sepakbola, globalisasi paling sukses di planet bumi, dengan banyaknya event dan kompetisi yang rutin merupakan cabang olahraga yang paling kerap menghadirkan adanya fenomena ritus sosial. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sir Aldous Huxley&lt;/span&gt;, pemikir Inggris, pernah meramalkan bahwa yang menindas masyarakat dunia bukan para penguasa lalim melainkan hasrat terhadap hiburan, orang modern terpenjara dan tenggelam dalam hasratnya untuk menghibur diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, seiring perubahan sosial yang begitu cepat sepakbola bukan sekadar olahraga melainkan juga sebuah bentuk pertunjukan sebagai wahana untuk melayani hasrat yang terus bertambah tanpa batas dan untuk memenuhi rasa haus terhadap ritus sosial yaitu ritus kepuasan yang tidak dapat dilakukan sendirian. Seperti yang terjadi di negara-negara di benua Eropa terdapat fenomena setiap akhir pekan yang dikenal dengan &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;“The Special Saturday Ritual”&lt;/span&gt; yaitu saat suatu keluarga menghabiskan waktu bersama, berbagi emosi dan kenangan yang unik dengan mendatangi stadion-stadion untuk menonton dan kemudian menjadi suporter dengan mendukung tim sepakbola kesayangannya bertanding.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cinta Buta Suporter Sepakbola&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Football clubs offer a collective and symbolic focus for a sense of belongin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;g and pride in a local community. Some people have even described following football clubs as a neo-religious form of devotion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Apakah kalimat yang diambil dari salah satu artikel &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sir Norman Chester Centre for Football Research&lt;/span&gt; yang berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fact Sheet 3: Why Support Football?&lt;/span&gt; ini sudah mencerminkan realitas yang ada? Faktanya itulah yang terjadi, penonton dan suporter, khususnya di Benua Eropa, datang ke stadion tidak sekedar untuk menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola semata tetapi datang untuk mengalami &lt;span style="font-style: italic;"&gt;event&lt;/span&gt;; untuk ikut ambil bagian dalam sebuah kejadian kolektif. Awalnya yang lebih kental adalah karakter penonton daripada karakter suporter. Tatkala orang hadir di stadion untuk menikmati pertandingan dalam rangka memuaskan hasrat akan hiburan. Kemudian mulai bergeser ketika harapan dan kecintaan penonton pada tim yang didukung semakin besar. Maka yang terjadi adalah muncul sikap fanatik dimana suporter mengidentifikasikan secara berlebihan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;over-identify&lt;/span&gt;) atau, senada dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;quote&lt;/span&gt; diatas, sebagai bentuk religiusitas baru atas dasar cinta yang dalam pada klub yang mereka dukung.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: inherit; text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika penonton dan suporter hadir mengikuti jalannya pertandingan tidak hanya untuk melihat bola bergulir dari kaki ke kaki, tetapi mereka melihat wujud kompetisi dan konflik antara dua tim dengan hasrat yang besar akan kemenangan dan kehormatan. Pada dasarnya mereka melihat sebuah perjuangan, sebuah kejadian layaknya drama yang kadang heroik, tragis sekaligus dramatis. Akhir pertandingan tidak hanya berisi senyum kepuasan tetapi juga keluh kecewa serta cucuran air mata dari penonton dan suporternya. Drama dalam sepak bola senantiasa memberi kesan yang tidak biasa bagi para penggemarnya, tanpa skenario layaknya sebuah film, nyaris tak terduga penuh dengan unsur kejutan, baik dalam aksi maupun hasil pertandingan. Tak heran apabila siaran pertandingan sepak bola merupakan bisnis hiburan yang bergelimang uang yang hanya bisa disaingi oleh industri perfilman Hollywood.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Suporter memberi arti pada sebuah bisnis tontonan olahraga, khususnya sepakbola. Dalam bingkai sebuah pertunjukan, suporter saat ini mengambil dua peran sekaligus yaitu sebagai penampil (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;performer&lt;/span&gt;) dan penonton (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;audience&lt;/span&gt;). Sebagai penampil (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;performer&lt;/span&gt;) yang ikut menentukan jalannya pertandingan sepakbola, suporter kemudian menetapkan identitas yang membedakannya dengan penonton biasa. Suporter jauh lebih banyak bergerak, bersuara dan berkreasi di dalam stadion dibanding penonton yang terkadang hanya ingin menikmati suguhan permainan yang cantik dari kedua tim yang bertanding. Suporter dengan peran penyulut motivasi dan penghibur itu biasanya membentuk kerumunan dan menempati area atau tribun tertentu di dalam stadion. &lt;st1:place&gt;Para&lt;/st1:place&gt; fanatik ini menemukan kebahagiaan dengan jalan mendukung secara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;all out&lt;/span&gt; tim kesayangannya, sekaligus memenuhi kebutuhan mereka akan ritus kepuasan yang tidak dapat dilakukan sendirian. Itulah sepak bola, yang begitu cepat bermutasi dari sekedar olahraga lalu menjadi suatu bisnis pertunjukan yang menghadirkan fenomena ritus sosial.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-3030880309126227409?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/3030880309126227409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=3030880309126227409&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/3030880309126227409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/3030880309126227409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2007/03/sepak-bola-olahraga-kekuatan.html' title='Sepakbola: Olahraga, Kekuatan Pertunjukan dan Ritus Sosial'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-HNFQ0zX3YXs/TqFq6n_I1ZI/AAAAAAAAAb8/zs3VRLx_1C8/s72-c/AGRacingClubsFansHosedx.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-117111279491942418</id><published>2007-02-10T19:44:00.001+07:00</published><updated>2008-11-13T12:06:59.918+07:00</updated><title type='text'>Kembali Pada Semangat Berkarya</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Oleh : Aji Wibowo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMBsgv_m9I/AAAAAAAAALA/7K5lV5iIyAY/s1600-h/NPA027.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMBsgv_m9I/AAAAAAAAALA/7K5lV5iIyAY/s400/NPA027.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198000259132791762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Buku terakhir yang saya baca adalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kembali pada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cinta Kasihmu&lt;/span&gt; terbitan Lentera Dipantara. Sebuah novel pendek &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Count Leo Nikolaevich Tolstoy&lt;/span&gt; (1828-1910), pengarang religius dan sastrawan besar Rusia, yang dialihbahasakan oleh sastrawan besar Indonesia, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pramoedya Ananta Toer&lt;/span&gt; (1925-2006). Berkisah tentang fluktuasi hubungan cinta kasih dalam sebuah perkawinan. Pada awalnya adalah cinta yang hangat menggebu yang kemudian perlahan redup karena tergodanya sang wanita pada gemerlap dunia untuk akhirnya dia tercerahkan kembali pada cinta kasih suaminya. Bagi saya buku tersebut memiliki relevansi yang cukup dengan apa yang saya alami tetapi bukan pada kehidupan cinta kasih melainkan pada pasang surut semangat untuk menulis. Setelah lama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;vacuum&lt;/span&gt; dan sibuk dengan urusan remeh temeh yang menggoyahkan, akhirnya senang rasanya bisa mendapatkan kembali ruh semangat dan kesempatan melontarkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;uneg-uneg&lt;/span&gt; pada sebuah dunia yang telah menjadi semacam oksigen untuk bernafas, yaitu dunia sepak bola dengan segala dinamika didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;Keinginan untuk ikut ”memikirkan” kembali sepak bola, khususnya nasional beserta kehidupan suporternya, bisa disebut sebuah keajaiban. Betapa tidak, setelah menuntaskan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lelaku akademik&lt;/span&gt;, terbersit niat untuk semakin giat ikut meramaikan lalu lintas opini dan ide kreatif para pecinta &amp;amp; pemerhati sepak bola, pelaku suporter, serta masyarakat umum lainnya yang menaruh minat pada sepak bola. Polosnya pada saat itu, sekaligus beranggapan bahwa saya merupakan pihak yang serta merta ikut ”terkena” tanggung jawab untuk ikut memperbaiki  kisruhnya sepak bola nasional.  Ada sedikit kepercayaan diri akan adanya sedikit kemampuan yang bisa disumbangkan untuk setidaknya menyemangati ”si pasien” (sepak bola nasional) untuk tetap yakin sembuh dan bangkit dari penyakit yang menderanya. Faktanya yang terjadi bukannya langkah nyata memproduksi tulisan namun justru upaya menarik diri akibat patah arang demi melihat bahwa kerusakan yang dialami dunia sepak bola Indonesia itu nyaris sempurna.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya tumbuhnya kelompok-kelompok suporter yang bergairah menata diri untuk belajar tertib dan berkreasi membuat atraksi di arena pertandingan telah membersitkan adanya cahaya dari lilin harapan akan munculnya suporter tim nasional sekaliber pendukung tim Korea Selatan yang masyhur saat perhelatan &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;FIFA World Cup 2002&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;.&lt;/span&gt; Namun pada akhirnya gelombang pesimisme datang jauh lebih dahsyat, ternganga dan malu oleh kumuhnya ”bangunan organisasi” &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia)&lt;/span&gt; yang dipenuhi tikus-tikus oportunis, dan kepala kantornya bertindak nista, bersandiwara dengan infus palsunya di ranjang rumah sakit meski akhirnya menjalani diskon hukumannya. Perselingkuhan birokrasi kleptomania (meminjam istilah dari sahabat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Didik Darmanto&lt;/span&gt;) antara pengurus klub yang (hampir) semuanya pejabat Eksekutif dengan para pejabat Legislatif dalam menyusun anggaran untuk berkompetisi. Hampir semua lancar, nyaris tanpa polemik semua sepakat pada ajuan anggaran bagi klub untuk berkompetisi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Momen klimaksnya pada meledaknya kerusuhan ”Asu Semper” (Amuk Suporter 5 September 2006) saat bonek (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bondo nekat&lt;/span&gt;), massa suporter dengan atribut hijau sebagai identitas pendukung Persebaya Surabaya, meradang dan membuat Stadion Gelora 10 November Tambaksari beserta kompleks sekitarnya berkobar, ulah mereka meninggalkan hitung-hitungan kerugian yang tidak sedikit. Tak ada lagi kemampuan untuk menjawab pertanyaan dari teman-teman tentang masa depan suporter yang pernah saya bangga-banggakan di depan mereka sebelumnya. Lilin harapan itu seketika leleh lebih cepat lagi, mendapati kenyataan bahwa Bapak Ketua Umum, dari ”kantornya” saat itu di Cipinang, sepertinya putus asa dengan mengumbar kebijakkan yang instan dan serampangan seputar tim U-23 dan rencana mendatangkan beberapa pemain muda Brasil untuk kemudian dinaturalisasi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Inspirasi Gli Azzurri dan Titik Balik Semangat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, kita hidup di negara yang makmur dengan tayangan sepak bola dunia. Kemakmuran yang muncul berkat kecanggihan tehnologi dan gelombang industrialisasi. Hal ini mengingatkan pada isi skripsi saya yang mengutip pemikiran &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Arjun Appadurai&lt;/span&gt; dalam &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Mo&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;dernity at Large: Cultural Dimension of Globalization,&lt;/span&gt; tentang adanya lima arus global yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ethnoscapes, technoscapes, financescapes, mediascapes,&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ideoscapes&lt;/span&gt;. Dalam hal ini saya mengalami dua arus global Sajian tayangan langsung sepak bola dari belahan dunia lain ini merupakan arus global dalam bidang media (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mediascapes&lt;/span&gt;). Saya kemudian mengalami arus global yang lain ketika saya, yang di Indonesia, ikut larut dalam selebrasi transnasional untuk keberhasilan tim favorit saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gli Azzurri&lt;/span&gt; Italia menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Campioni del Mondo&lt;/span&gt; dengan menggondol &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;FIFA World Cup 2006&lt;/span&gt; di Olympia-stadion Berlin. Jadi tidak hanya dirayakan di Berlin (Jerman) dan seluruh Italia, tetapi juga di belahan dunia lainnya (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ideoscapes&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/Repe5TJek3I/AAAAAAAAAA4/31zzIGadD_c/s1600-h/09_photo_g.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/Repe5TJek3I/AAAAAAAAAA4/31zzIGadD_c/s400/09_photo_g.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5037943471652901746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-size:78%;" &gt;Saya mengamini tesis Arjun Appadurai, mengalami selebrasi sekaligus inspirasi transnasional kegemilangan Fabio Cannavaro dkk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-size:78%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kemenangan Italia, ditentukan oleh sepakan penalti pemain bernomor punggung tiga bernama &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fabio Grosso&lt;/span&gt;, selain menghibur juga menyadarkan akan semangat baru. Kenyataan menyebutkan bahwa kegemilangan anak-anak negerinya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Leonardo da Vinci&lt;/span&gt; hadir disaat sepak bola dalam negeri mereka tersudut akibat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Calciopoli&lt;/span&gt;, skandal pengaturan skor di Liga Serie A. Sebuah skandal yang memaksa &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Franco Carraro&lt;/span&gt; sebagai presiden &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FIGC (Federazione Italiana Giuoco Calcio)&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lengser keprabon&lt;/span&gt; dan memicu penyelidikan serius yang melibatkan unsur-unsur penting yang dimiliki oleh negara tersebut. Hal yang pastinya akan berbeda jika terjadi di Indonesia, si pucuk pimpinan mustahil &lt;span style="font-style: italic;"&gt;legowo&lt;/span&gt; untuk mundur dan para pemainnya belum tentu punya tanggung jawab moral untuk membantu memulihkan nama baik negaranya dengan prestasinya. Dan kasusnya pun dijamin akan menguap layaknya kasus-kasus lain dalam masyarakat. Italia memang negara besar yang punya sumber daya dan pengalaman lebih dari cukup untuk bangkit dan merangkai prestasi. Namun dari hajatan di Jerman kita ditunjukkan kenyataan bahwa, yang sedang dirundung konflik seperti Pantai Gading atau negara miskin macam Togo pun bisa melangkah jauh mengukir prestasi. Selagi berandai-andai, optimisme itu pulang ke rumah pikiran mengajak untuk lebih baik bekerja dan berpikir keras menyingkirkan hambatan-hambatan yang mengganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;You’ll Never Walk Alone: Persahabatan Dunia Maya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Come back&lt;/span&gt; atau lebih tepatnya anugerah semangat yang tak dinyana-nyana ini nyatanya bukan hasil kontemplasi dan introspeksi diri semata akan tetapi baik langsung ataupun tidak berkat inspirasi dari peristiwa dan beberapa person. Beberapa peristiwa yang berjasa mengapungkan semangat itu telah coba dikisahkan diatas. Nah, untuk selanjutnya adalah cerita tentang beberapa sosok yang berjasa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba untuk kilas balik sejenak membawa pada masa yang sudah terlewati dalam perjalanan hidup ini. Kisah pun bermula saat menelusuri jagat maya mencari bahan untuk skripsi saya ”tersesat” di sebuah blog yang khusus bertema sepak bola dan suporter. Entah dorongan apa yang membuat saya nekat berkirim e-mail pada pengelola blog itu untuk meminta bantuan pemikiran untuk calon skripsi saya. Di kemudian hari saya berhutang budi pada mas &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bambang Haryanto&lt;/span&gt;, pengelola blog Suporter Indonesia, yang menyambut permintaan bantuan tersebut dengan sangat baik. Bahkan tak hanya memberi masukan gagasan dan referensi tapi juga dorongan semangat. Ada satu SMS yang sampai sekarang masih tersimpan di inbox handphone saya tertanggal 27/05/05 14:01 isinya sebagai berikut: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;”You’ll Never Walk Alone”(Oscar Hm).Di glory night itu sy jg pilih L’pool,wl fave sy Juve &amp;amp; FC Hollywood.Slamat,Aji tak jln sendiri jg saat buat skripsi :-)&lt;/span&gt;. Wah, bagi saya sebuah kehormatan besar karena bantuan dan sokongan semangat tersebut dari tokoh yang amat kompeten di bidangnya dan tercatat sebagai pencetus &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hari Suporter Nasional 12 Juli (2000)&lt;/span&gt;. Menjadi tugas saya untuk menapaktilasi jejak beliau, membuat kontribusi yang konkret bagi perkembangan sepak bola nasional dalam wujud konsistensi untuk bersikap kritis dan senantiasa mengapungkan setiap ide serta gagasan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dunia maya menghadirkan lagi hal ajaib dalam kehidupan saya, memberi teman baru yang baik. Buat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ditalia 'dEeTa'&lt;/span&gt; yang menyuguhkan bukti bahwa di dunia ini selalu tersedia banyak orang ramah, nyaris tanpa prasangka, dan bersedia membantu serta berbagi pengalaman dengan cara yang paling sederhana. Juga pada satu peristiwa purnanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;budhe&lt;/span&gt; (kakak perempuan ibu) dari tugas di dunia dan pulang untuk memeluk bumi. Semoga mendapat tempat yang sebaik-baiknya disisi-Nya. Mewariskan berupa teladan untuk bekerja dan bekerja tanpa perlu risau tentang hasil yang akan hadir.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tentang semua inspirasi itu, kita hanya perlu kerja keras, solidaritas dan kesederhanaan. Maka sepak bola dan suporter Indonesia berkenan berubah...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-117111279491942418?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/117111279491942418/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=117111279491942418&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/117111279491942418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/117111279491942418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2007/02/kembali-pada-semangat-berkarya.html' title='Kembali Pada Semangat Berkarya'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0PhqLgoRrc0/SCMBsgv_m9I/AAAAAAAAALA/7K5lV5iIyAY/s72-c/NPA027.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33314568.post-115839409821806982</id><published>2006-09-16T14:57:00.002+07:00</published><updated>2008-05-08T20:52:04.336+07:00</updated><title type='text'>Perjuangan &amp; Mata Kenangan</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;Oleh : Aji Wibowo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dibuatnya blog ini sederhana adanya. Warta buruk tentang dunia sepakbola nasional begitu rajinnya menyambangi kita. Sungguh pekerjaan yang sulit untuk mengungkap berbagai problematika yang membelit dunia sepakbola. Ada banyak faktor penyebab, yang seringkali bukan dari permainan sepakbola, mampatnya prestasi dan industri sepakbola nasional. Betapa para oknum pembesar negeri dan pejabat yang mengurusi sepakbola terlalu sering membuat masyarakat pecinta sepakbola "patah hati" dengan kekerdilan jiwanya. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun seyogyanya kita menginsyafinya sebagai titik pijak sebuah perjuangan menembus lorong-lorong gelap sepakbola nasional. Dengan bekal kekuatan hati bahwa tidak ada yang tidak dapat dirubah di dunia ini. Blog ini diharapkan sebagai hilir bagi upaya pencarian yang lebih serius dalam memahami permasalahan yang ada di sepakbola nasional, khususnya perilaku suporter yang marah. Sebagai media untuk bertukar ide dan menelurkan solusi yang sehat. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika blog ini tidak juga menginspirasikan apapun, meminjam istilahnya &lt;strong&gt;Pramoedya Ananta Toer&lt;/strong&gt;, setidaknya menjadi mata kenangan bagi pecinta sepakbola, pegiat &amp;amp; pemerhati suporter. Dan berharap kita selalu dalam sikap peduli dan tetap kritis pada setiap permasalahan disekitar kita.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33314568-115839409821806982?l=bangunsuporter.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/feeds/115839409821806982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33314568&amp;postID=115839409821806982&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/115839409821806982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33314568/posts/default/115839409821806982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bangunsuporter.blogspot.com/2006/09/dengan-ini.html' title='Perjuangan &amp; Mata Kenangan'/><author><name>Aji Wibowo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12064674723593682858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_0PhqLgoRrc0/SCQznuuPkTI/AAAAAAAAANE/9ycmJWDXkDQ/S220/avatar3.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
