Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang teman yang baru saja menyelesaikan aktivitas pengumpulan data baik primer maupun sekunder untuk kepentingan tugas akhirnya di klub Union Makes Strength (UMS) 80 Jakarta. UMS 80 atau yang lebih sering disebut UMS saja adalah perkumpulan olahraga tertua di Indonesia. Klub yang awalnya bernama Tiong Hoa Hwee Koan Scholar's Football Club ini berdiri pada tahun 1905 dan berganti nama Union Makes Strength pada tahun 1914.

*Ini adalah bagian pertama dari dua tulisan.

Akhir bulan Maret ini hawa panas berhembus dari Stadion Anfield. Di stadion berkapasitas 43.074 penonton tersebut mementaskan pertandingan sepakbola yang sohor dengan titel derby Merseyside antara The Reds Liverpool FC vs. The Toffees Everton. Derby Merseyside edisi yang ke-178 di liga dan ke-207 secara keseluruhan itu bukanlah sekadar pertandingan liga biasa, hiruk pikuknya sudah terasa jauh hari sebelum laga dihelat dan efek pertandingannya tak mudah hilang dalam tempo cepat. Media massa baik lokal maupun global ikut meramaikan dengan publisitas porsi berita dan ulasan yang massif. Selama pertandingan, dua tim bertarung dengan hasrat akan kemenangan dan ketegangan emosi yang lebih dari biasanya. Sedangkan para pendukung, selain dukungan menggebu untuk tim kesayangannya, pun berlaku seakan hendak mengirimkan teror neraka dengan agitasi dan cemoohannya pada para pemain lawan.
Oleh: Aji Wibowo

Liverpool Hustle, Inter Unbolted (19 Februari 2008)
Liverpool 2 (Kuyt 85, Gerard 90), Internazionale 0


Anfield menjadi salah satu stadion terbaik di dunia bukan disebabkan tampilan fisik bangunannya yang modern dan berkapasitas besar layaknya Allianz Munchen, ArenA Amsterdam, dan lainnya. Namun lebih karena tim yang bermain di sana, Liverpool, dan suporternya yang sanggup menyuguhkan atmosfer hebat di dalamnya. Konfirmasi sahih pun tersaji pada saat Liverpool bertemu Internazionale Milan di leg pertama Liga Champion Eropa.

Liverpool alias The Reds a.k.a The Kop, menatap pertandingan dengan bekal situasi yang kurang baik. Pada pertandingan terakhir menjelang melawan juara Serie A ini, Liverpool kalah 1 – 2 dari Barnsley, tim Divisi I, yang membuat mereka tersingkir dari ajang FA Cup 2007 yang tragisnya terjadi di Stadion Anfield, kandang mereka. Disisi lain, La Beneamata Inter justru belum tersentuh kekalahan dan semakin kokoh di puncak kompetisi domestik.

Fakta di atas lapangan ternyata berkata lain. The Reds sepertinya memanfaatkan penuh pengalaman para pemainnya di kancah Liga Champion (juara 2004/2005 & finalis 2006/2007) dan tentunya pendukung serta aura Stadion Anfield. Liverpool adalah salah satu “baron” Liga Champion dan sepertinya tak pernah merasa kikuk untuk bermain gemilang di ajang tertinggi antar klub di benua biru itu. Inter sendiri gagal menyeberangkan dominasi dan kematangan permainannya di daratan Italia melintasi Selat Channel.

Selama dua kali 45 menit, Liverpool benar-benar menunjukkan hasrat untuk menangnya. Stevie G dkk bermain dengan tempo cepat dan memainkan bola lebih sering dibanding Javier Zanetti cs. Dominasi itu semakin kentara setelah dikeluarkannya Marco “Matrix” Materazzi oleh wasit Jerman, Frank De Bleckere, yang membuat prosentase penguasaan bola Inter terus merosot, 36% di akhir babak pertama, 34% di awal babak kedua dan akhirnya keseluruhan Inter hanya memiliki 32% atau 17 menit 22 detik! Meski demikian tak mudah untuk membuka pintu pertahanan gerendel Inter yang seakan tertutup rapat.

Pengalaman Rafa, Pelajaran Mancio
Pertandingan sepertinya akan berakhir imbang dan ketabahan para pemain Inter akan terbayar. Namun, Rafael “Rafa” Benitez punya misi untuk menyeimbangkan kursi manajernya yang sedang goyah. Dia membutuhkan kemenangan dengan berupaya menambah intensitas serangan dengan menukar Lucas Leiva dengan Peter Crouch. Kemudian menarik Ryan Babbel untuk digantikan dengan Jermain Pennant. Kenapa bukan Dirk Kuyt yang diganti?

Pada akhirnya penonton mendapatkan jawabannya, Liverpool saat itu butuh pemain sayap dengan crossing bagus dari sisi kiri Inter dimana Maxwell sudah sangat terkuras staminanya. Namun juga masih tetap membutuhkan pemain depan yang rajin mengganggu pertahanan lawan dan kualitas seorang finisher, disini Kuyt memenuhi kebutuhan tersebut. Dan keinginan Rafa pun terwujud. Kuyt membuktikan fungsinya dan Pennant menjawab dengan dua assistnya. Kejelian Rafa adalah de javu Istanbul 2005. Hasrat menang The Reds-lah yang membuka pertahanan kokoh Inter.

Rafa sukses, bagaimana dengan Mancio? Secara keseluruhan tidak ada blunder dari taktiknya. Kekalahan Inter hasil dari kombinasi dua faktor yaitu penampilan pemain Nerazzuri yang tidak biasanya, dan aksi gemilang permainan menyerang Liverpool. Pelajaran penting justru diperoleh Mancio, Inter ternyata belum mendapat cobaan yang sebenarnya di dalam negeri. Tak pernah kalah bahkan dengan sepuluh pemain sekalipun tidak bisa disamakan di ajang Liga Champion. Mancini harus segera menemukan tonik untuk membangkitkan kembali semangat anak asuhnya. Apabila dibiarkan bisa berdampak pada penampilan di liga domestik. (Pada kenyataannya prediksi ini terbukti, Inter sulit menang bahkan mengalami kekalahan pertamanya di Serie A dari Napoli)'

Kado Pahit Centenary (12 Maret 2008)
Internazionale 0, Liverpool 1 (Torres 64)


9 Maret 2008 genap seabad eksistensi Internazionale Milan sebagai sebuah klub sepak bola. Perayaan centoanni ini bukan momentum remeh yang bisa disetarakan dengan peringatan milad (hari lahir) tahun-tahun sebelumnya. Moment langka yang mesti dirayakan dengan megah dan pastinya meminta kado yang lebih dari biasanya.

Inter jelas tidak ingin seperti yang dialami Real Madrid dalam moment seratus tahunnya. El Real merayakannya tanpa kado yang manis berupa torehan prestasi gemilang dari para pemainnya. Saat itu Los Blancos gagal mendapatkan satu gelar pun dari semua ajang yang diikutinya. Berkaca dari pengalaman Madrid, demi kado yang indah, Inter pun hendak mencoba mengamankan jalur gelar termasuk di ajang Liga Champion.

Menjelang leg kedua ini, situasi internal kedua klub itu terbalik. Inter dirundung krisis pemain belakang dan hanya bisa sekali menang dalam beberapa pertandingan terakhirnya. Di sisi lain, Liverpool justru sedang dalam jalur kemenangannya. Semenjak kalah dari Barnsley di FA Cup, Gerrad cs berturut-turut mengalahkan Inter (H) 2-0, Middlesbrough (H) 3-2, Bolton Wanderers (A) 3-1, West Ham United (H) 4-0, Newcastle United (H) 3-0. Modal lain Liverpool adalah penampilan Fernando “El Nino” Torres yang sedang on fire.

Tak banyak perubahan line up dari kedua tim. Mancio mengganti Ivan Cordoba, Marco Materazzi, dan Maxwell dengan Nelson Rivas, Nicolas Burdisso, dan Patrick Vieira. Sedangkan Rafa hanya mengganti Steve Finnan dengan Jamie Carragher yang berbuah penampilan keseratus vice-captain itu di ajang antar klub Eropa.

Dengan modal kemenangan yang diraihnya saat di kandang, Liverpool bermain lebih lepas, cenderung aman dan mengandalkan serangan balik. Inter yang terjepit, mengambil inisiatif penyerangan dan menguasai permainan dengan beberapa peluang melalui Julio Cruz. Meski prosentase penguasaan bola di tangan Inter namun jelas terlihat bahwa pemain-pemain Liverpool-lah yang banyak berlari dan menutup setiap potensi bahaya dari Inter.

Kartu kuning kedua yang diterima Nicolas Burdisso dan hilangnya kewaspadaan akibat keinginan menggebu menjebol gawang lawan, berbuah pahit bagi Inter. Serangan balik via sayap kiri Fabio Aurelio diakhiri eksekusi elegan dari Fernando “El Nino” Torres. Satu gol yang sangat mematikan sebab mengharuskan Inter menjebol gawang Liverpool sedikitnya empat gol dan tanpa kebobolan lagi. Setelah gol Torres, permainan menjadi hambar dan lebih mirip dengan pertandingan saat sesi latihan. Para pemain Inter sepertinya sudah putus asa dan kehilangan motivasi bahkan untuk sekadar menyelamatkan muka dari kekalahan di depan para tifosinya.

Laju Liverpool ke perempat final UCL, seakan menegaskan kualitas kompetisi English Premiere League. Empat wakilnya tetap utuh dan menjadi yang terbanyak di fase perempat final. Sedangkan empat kontestan lainnya masing-masing mewakili empat negara yang berbeda. Keberhasilan tersebut tentunya bukan produk instan tetapi buah dari upaya serius administratur sepak bola Inggris dalam membangun kompetisi yang hebat.
Oleh: Aji Wibowo

Tutup usianya HM Soeharto, presiden ke-2 RI, Minggu, 27 Januari 2008 pada pukul 13.10 WIB mendapat perhatian yang amat besar dari masyarakat. Dengan campur tangan media, sakit dan meninggalnya Soeharto menjadi peristiwa besar yang mampu meminggirkan berita-berita lainya tentang berbagai problem dan kesulitan yang sedang dialami masyarakat dan bangsa ini. Kematian Soeharto, disaat segala proses hukumnya belum tuntas, ini telah memicu beragamnya pandangan masyarakat terhadap status dan bagaimana menyikapi serta memperlakukan Soeharto. Begitu beragamnya pandangan masyarakat bahkan sudah menjurus pada kecenderungan untuk membelah bangsa ini pada dua kutub, baik yang pro dan kontra Soeharto.

Kedua belah pihak baik yang pro maupun yang kontra memiliki alasan dan motif yang menurut mereka baik. Namun, akan lebih bijak apabila masing-masing pihak tidak memaksakan pandangannya dan membekali pikiran mereka dengan alternatif perspektif yang lebih banyak. Pro kontra itu termasuk persoalan perlunya memaafkan atau tidak memaafkan Soeharto. Seperti yang kita ketahui, keluarga besar Soeharto melalui putri tertuanya, Siti Hardiyanti Rukmana, meminta maaf pada rakyat Indonesia seandainya beliau dalam memerintah dan semasa hidupnya telah berbuat salah.

Setiap agama mengajarkan bahwa meminta maaf adalah pertanda kerendahan hati sedangkan memberi maaf adalah cermin kebesaran jiwa. Ketika Soeharto diwakili keluarga berkenan meminta maaf pada masyarakat sudah semestinya kita yang merupakan bagian dari masyarakat alangkah baiknya memiliki kelapangan hati untuk memaafkan. Kredit khusus pada korban-korban politiknya yang telah bersedia membukakan pintu maaf. Yang harus disesali dalam hal ini adalah tidak dituntaskannya proses hukum Soeharto saat masih hidup.

Soeharto & Sepak bola Nasional
Dalam masa kekuasaannya yang begitu panjang, 32 tahun, mestinya banyak sekali jejak yang ditinggalkan, salah satunya amat mungkin adalah di medium sepak bola nasional. Sayangnya dalam kapasitasnya sebagai presiden tidak banyak catatan yang menunjukkan kontribusi signifikan dari jenderal bintang lima itu bagi perkembangan sepak bola nasional.

Tak banyak referensi yang menautkan Soeharto dengan olahraga rakyat ini. Beberapa sumber hanya menceritakan bahwa Soeharto kecil begitu gemar bermain bola. Dalam penilaian teman-teman masa kecilnya, yang tentunya berbeda dengan penilaian jeli seorang pelatih, Soeharto dianggap handal dalam memainkan si kulit bundar. Terutama dalam melakoni peran sebagai pemain belakang. Karakter “lugas”nya sebagai pemimpin, baik politik maupun militer, bisa jadi tumbuh dari perannya sebagai pemain belakang yang biasanya dikenal tanpa kompromi.

Di masa lalu PSSI pernah menyelenggarakan turnamen sepak bola dengan tajuk Piala Soeharto selama tiga penyelenggaraan pada tahun 1972, 1974, dan 1976. Bermula dari krisis keuangan dan kewibawaan yang parah di tubuh PSSI era Kosasih Poerwanegara SH pada akhir tahun 1972. Saat itu, PSSI menderita defisit keuangan Rp33 juta, tagihan-tagihan yang mendesak terus mengalir, kas kosong, sedangkan usaha-usaha mendapatkan pinjaman dari bank yang dilakukan sementara anggota pengurus tidak membawa hasil. Semua krisis tersebut mendorong Bardosono (yang saat itu menjabat sebagai komisaris umum PSSI) untuk meminta perhatian pemerintah.

Sembari melaporkan berbagai kesulitan yang membelit di organisasi PSSI, Bardosono juga menawarkan gagasan penyelenggaraan turnamen sepak bola dengan mengambil nama Presiden RI kedua itu sebagai nama pialanya. Setelah dilapori, Soeharto yang sudah menjabat selama enam tahun memberi pinjaman Rp12 juta (6-8 bulan tanpa bunga) sebagai modal kerja, dan kemudian mengusulkan 4 tim terkuat dari 8 Besar Kejurnas PSSI 1971 untuk diikutkan dalam Piala Soeharto I/1972. Usul tersebut disetujui oleh rapat pengurus PSSI saat itu. Maka, digelarlah Piala Soeharto I/1972 pada 11-18 Desember 1972.

Untuk memperkaya informasi, berikut adalah rekapitulasi Piala Soeharto:
  • Piala Soeharto I/1972 (11 - 18 Desember 1972)
Piala Soeharto edisi perdana diikuti “4 Besar” Kejurnas PSSI 1971, yaitu PSMS (Medan), Persija (Jakarta), Persebaya (Surabaya), dan PSM (Makassar).
  • Piala Soeharto II/1974 (4 - 11 November 1974)
Pesertanya tetap, yaitu “4 Besar” Kejurnas PSSI periode sebelumnya yaitu: Persija (Jakarta), PSMS (Medan), PSM (Makassar), dan Persebaya (Surabaya). Pada edisi ini PSM Makassar keluar sebagai juara.
  • Piala Soeharto III/1976 (9 - 19 April 1976)
Semula, sebagaimana biasanya, Piala Soeharto III/1976 akan diikuti oleh “4 Besar” Kejurnas PSSI periode sebelumnya. Namun, karena juara Piala Soeharto II/1974, PSM (Makassar) tidak masuk “4 Besar” Kejurnas PSSI 1975, jumlah pesertanya menjadi 5 tim dengan tetap mengikutsertakan PSM (Makassar). Sedangkan peserta lainnya adalah Persebaya (Surabaya), PSMS (Medan), Persija (Jakarta), Persipura (Jayapura). Pada penyelenggaraan yang ketiga diadakan pertandingan final yang mempertemukan peringkat pertama dengan runner-up.
Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan (Jakarta): Persipura (Jayapura) vs Persija (Jakarta) 4-3 (Nico Pattipene 11, Jacobus Mobilala 27, Pieter Attiamuna 31, Timo Kapisa 67; Risdianto 36, Iswadi 41, 90).

Budak Kekuasaan dan Menjamurnya Kroniisme
Dalam kesulitan menemukan benang merah yang pas antara Soeharto dengan sepak bola nasional. Pikiran ini justru nyasar pada kemungkinan benang merah yang lebih cocok yaitu kondisi yang relatif sama adalah bahwa PSSI Nurdin Halid seperti Orde Baru dibawah Soeharto dengan arogansi kekuasaan luar biasa yang sulit untuk dilakukan perubahan. Kekuasaan menjerat mereka untuk selalu tunduk dan menjadi budak kekuasaan itu sendiri.

Relevansi lainnya tentunya adalah kecenderungan untuk melakukan korupsi. Buktinya teramat banyak, untuk NH sendiri diantaranya yaitu "mengkonsumsi" gula terlalu banyak, dan yang terbaru minyak goreng.Selain itu, gejala kroniisme berlaku di PSSI. Lihat bagaimana para pengurus PSSI mati-matian membela ketua umumnya meski dituntut oleh berbagai pihak untuk mundur. Dengan banyak dalih, mereka membentuk "pagar betis" melindungi NH dari hujan kritik dan tuntutan mundur. Bisa jadi loyalitas buta itu terkait kesejahteraan dan kepentingan yang terancam seandainya NH turun.

Kemiripan lainnya diantaranya yakni demokrasi semu sebagai selubung kepemimpinan yang cenderung otoriter, alergi (atau anti?) perubahan, dan pro-kemapanan. Demokrasi yang santer didengung-dengungkan mentok sebatas jargon. Kepemimpinan yang terlalu kuat telah meminggirkan asas demokrasi. Aspirasi, yang dianggap tidak sesuai dengan kebijakkan negara atau organisasi (untuk PSSI), diabaikan bahkan beberapa diantaranya dibungkam. Baik Soeharto maupun NH dalam praktek kepemimpinannya menjalankan kebijakkan one man show. Khusus NH, bahkan saat di penjara pun masih sempat menelurkan keputusan-keputusan strategis.

Mengenai kuatnya pengaruh Soeharto saat Orde Baru di puncak kekuasaan. Sosiolog Arief Budiman, kakak kandung (alm.) Soe Hok Gie, mengungkapkan pendapat bahwa perubahan Indonesia ke arah demokratisasi hanya mungkin terjadi dari dua sumber. Pertama adalah inisiatif Soeharto sendiri untuk mengubah kepemimpinannya menjadi lebih demokratis, dan kedua, yang terjadi karena desakan massa. Sejarah kemudian membuktikan, Soeharto lengser dan suasana politik Indonesia berubah disebabkan oleh kekuatan massa yang dipandegani mahasiswa yang sohor dengan sebutan gerakan reformasi 1998.

Bagaimana dengan PSSI Orde NH? Sulit untuk berharap NH bisa legowo mandheg pandhita ratu. Jadi, berharaplah dari sumber yang kedua. Masalahnya suporter sebagai jelmaan mahasiswa belum begitu solid, masing-masing kelompok suporter terjebak dengan agendanya masing. Ironisnya, (gosipnya) ada kelompok suporter yang membela NH.

Jalan menuju sepakbola Indonesia maju masih teramat panjang. Butuh kerja keras dan semangat pantang menyerah. Suporter Indonesia, are you ready to fight, fight together?


Tulisan ini adalah yang teraneh yang pernah dipostingkan di blog ini. Meski di upload tanggal 24 Desember tapi kejadian sesudahnya masih terangkum di dalamnya. Sebabnya adalah munculnya peristiwa-peristiwa tragis sepak bola nasional yang begitu menggugah dan mengiris batin.

Warta buruk tentang dunia sepak bola nasional seakan tak pernah bosan menyambangi kita. Temanya tak pernah beranjak dari suporter anarkis, skandal internal pengurus, kompetisi dengan mutu pertandingan minimalis, sportifitas rendahan pemain dan official, kinerja perangkat pertandingan yang amburadul, dan tentunya mampatnya prestasi tim nasional dikancah internasional.


Fakta terkini tersaji pada babak delapan besar Liga Djarum Indonesia 2007 saat pertandingan Arema Malang melawan Persiwa Wamena. Serangkaian keputusan kontroversial wasit dan perangkatnya memicu terjadinya pemukulan terhadap korps pengadil pertandingan dan berlanjut dengan amuk suporter yang ironisnya dilakukan oleh massa Aremania, pendukung Arema, yang dianggap sebagai guru kelompok suporter kreatif di Indonesia. Stadion Brawijaya Kediri membara dan lebur.

Sehari kemudian, menyusul insiden tak kalah memalukan lainnya di stadion Manahan Solo yaitu adu fisik beberapa pemain Persija Jakarta dan Persik Kediri. Kebobrokan sepak bola nasional seakan menjadi sempurna saat sanksi dari Komisi Disiplin diabaikan oleh para pemain terhukum. Kepercayaan pada PSSI sebagai administrator alias pengelola sepak bola nasional tercampak ke titik nadir karena diskriminatif dan tidak konsisten dengan aturan yang diputuskannya sendiri.

Rentetan masalah itu seperti fenomena gunung es, kejadian-kejadian tersebut hanyalah puncak dari sekian banyak kisah gelap sepak bola nasional. Kasus Kediri dan Solo itu bukanlah kejadian yang berdiri sendiri dan bukannya tanpa sebab yang jelas. Meledaknya segala kekacauan pada pelaksanaan babak delapan besar adalah akumulasi dari ketidakberesan organisasi PSSI dan penyelenggaraan kompetisi sepak bola di Indonesia.

High Cost Competition
Pada pelaksanaannya, kompetisi Liga dan Copa Indonesia telah menyedot begitu banyak ongkos. Setiap tahun tak kurang ratusan milyar rupiah dihamburkan baik oleh sponsor, klub, dan tentunya masyarakat pecinta sepak bola. Klub peserta rata-rata menganggarkan belasan milyar rupiah demi mengarungi roda kompetisi.

Namun semua biaya besar itu tidak melulu habis untuk kebutuhan wajar suatu kompetisi tapi terdapat juga biaya siluman (non-football cost). Sudah menjadi rahasia umum bahwa dana tersebut digunakan diantaranya untuk "menjamu dan menyejahterakan” wasit, paket "promosi dan degradasi", tawar menawar sanksi, serta memperlancar legalisasi dan akreditisasi pemain.

Anggaran klub yang sudah sedemikian terbebani oleh menggelembungnya harga kontrak dan gaji pemain asing serta lokal, akan semakin berat dengan adanya “biaya rupa-rupa” tersebut. Pahitnya hampir semua ongkos transaksi hitam itu dibiayai dari APBD alias uang rakyat. Belum lagi lamanya durasi kompetisi karena PSSI melalui BLI terlalu lentur (baca: inkonsisten) dengan rancangan jadwal yang dibuatnya mengakibatkan pembengkakan biaya.

In finem omnia: Kredo Salah Tafsir
Kemenangan adalah segalanya, nyata-nyata masih menjadi kredo bagi pegiat sepakbola di Indonesia. Dengan filosofi tersebut, yang terjadi adalah ketidakdewasaan sikap dan budaya anti-sportifitas. Setiap hasil selain menang apalagi kalah akan berujung pada kemarahan. Hal inilah yang menyeret official klub untuk menempuh segala cara termasuk melalui “jalur gelap” demi sebuah kemenangan. Akhirnya kemenangan tidak melulu ditentukan di atas lapangan hijau tetapi juga ditentukan oleh kekuatan tawar menawar di luar lapangan.

Filosofi ini bukan hanya monopoli pihak klub dengan kekuatan uangnya tetapi juga merasuk di setiap jiwa pendukungnya. Fanatisme dan militansi yang diwujudkan dengan gaya dukungan penuh semangat termasuk bermodal nekad mendampingi kemana pun tim kesayangannya bertanding adalah manifestasi dari hasrat untuk menjadi saksi kemenangan tim kesayangannya.

Hasrat tersebut bahkan seringkali berujung dengan pengorbanan nyawa dari suporter. Seperti yang terjadi pada Malik Fadli Fadilah, The Jakmania, yang tewas dalam perjalanan ke Stadion Lebak Bulus menjelang pertandingan ke-34 Liga Djarum Indonesia antara Persija melawan Semen Padang. Fadilah menyusul suporter sepakbola Indonesia lainnya yang terlebih dahulu martir pada kompetisi-kompetisi sebelumnya sebagai fanaticus anonymous seperti Suherman (suporter Persebaya), Beri Mardias (pendukung PSP Padang), Abdul Rochiem dan Mat Togel (Aremania).

Hal itu bermakna bahwa kompetisi sepak bola di negeri kita tak hanya mahal secara hitungan ekonomis namun juga dari segi yang lain. Berbagai kerusuhan dan keributan yang sempat mengemuka secara tidak langsung telah menambah kerugian yang ditimbulkan dari penyelenggaraan kompetisi. Polah anarkis penonton dan suporter semakin mencoreng citra sepak bola, mengganggu kepentingan umum, mengorbankan nyawa dan meninggalkan trauma pada masyarakat.

Dengan berbagai anomali tersebut, pada akhirnya kompetisi kehilangan idealisme, tujuan dan ruh kompetisi. Kompetisi yang dijalankan adalah pseudo kompetisi alias kompetisi palsu. Dimana setiap pertandingannya menjadi sekedar dagelan dengan skenario.

Moratorium Kompetisi & Pembenahan Organisasi
Uang, harga diri bahkan nyawa telah dikorbankan sementara kompetisi berjalan sedemikian kacaunya. Semua yang dikorbankan akan sia-sia apabila insan sepak bola nasional tak sadar diri dan kembali gagal mengambil hikmah dari pengalaman. Puncak kekacauan ini harusnya dijadikan momentum strategis untuk melakukan pembenahan dan perubahan. Dan dengan prioritas perubahan adalah para pengurus PSSI sebagai regulator dan pihak dengan saham dosa terbesar.

Langkah konkret pembenahan dan perubahan dapat dimulai dengan moratorium atau penghentian sementara kompetisi untuk memberi kesempatan PSSI menata ulang organisasi dan sistemnya. Hal mendesak yang harus segera dilakukan oleh pengurus PSSI yaitu mengakomodasi permintaan FIFA untuk merevisi pedoman dasar melalui mekanisme Munaslub. Keseriusan pengurus untuk merevisi pedoman dasar sesuai dengan statuta FIFA akan menjadi modal awal mendapatkan kembali kepercayaan dari masyarakat sepak bola nasional.

Upaya vital lainnya adalah segera mengganti ketua umum PSSI yang cacat hukum dengan pemimpin baru yang bersih dan berkomitmen memajukan sepak bola nasional. Sebab hanya dengan memiliki pemimpin yang berwibawa juga organisasi yang bersih dan berani menegakkan aturanlah sepak bola Indonesia bisa dibangunkan kembali. Untuk menjamin pengurus tidak main-main dalam membersihkan organisasinya maka stakeholder yang lain seperti suporter dan pecinta sepak bola nasional harus selalu mengawasi proses revisi dan pembenahan itu dengan kritis.

Sepakbola Italia alias calcio (sekali lagi) berkalang duka, nyawa manusia tertagih selagi event Lega Serie-A hendak dilangsungkan. Menjelang pertandingan di giornata 12, Gabriele “Gabbo” Sandri, Laziale (tifosi klub Societa Sportiva (SS) Lazio) berumur 26 tahun yang juga seorang disc jockey tenar di Roma, menjadi korban kesekiankali dari ganasnya kompetisi calcio. Sandri terkulai di dalam mobilnya di jalan bebas hambatan Badia al Pino Arezzo setelah peluru dari pistol Beretta 92 caliber 9 mm milik seorang polizia bernama Luigi Spaccararotella “nyasar” menembus lehernya.