Honour

Oleh: Aji Wibowo


Liga-liga sepak bola terkemuka di benua biru Eropa telah mengakhiri kompetisinya. Ketatnya kompetisi English Premiere League telah menghasilkan Manchester United sebagai Champion, FC Barcelona pun menjadi el campeone La Liga BBVA Primera Division Spanyol, sedangkan pemilik terkini titel Deutscher Meister Bundesliga Jerman adalah Vfl Wolfsburg. Internazionale menjadi campioni d’Italia sekaligus meraih scudetto-nya yang ke-17 di Serie A Lega Calcio, dan Bordeaux ditahbiskan sebagai champion du France setelah memenangi laga terakhir Ligue 1. Ada pesta, ada selebrasi atas keberhasilan meraih gelar kejayaan, ada tangis kesedihan dan keluh frustasi bagi klub-klub yang terdegradasi.

Namun di penghujung kompetisi kita juga disajikan pemandangan yang menggetarkan hati. Sosok-sosok sohor di sepak bola melalui hari-hari terakhirnya di lapangan hijau atau mengakhiri kebersamaan dengan klubnya lewat laga-laga perpisahan. Paolo Maldini, Sami Hyypia, Luis Figo, Pavel Nedved, Frank Baumann dan banyak pemain lainnya pun berada pada senjakala karir sepak bolanya. Seluruh elemen klub AC Milan, Liverpool, Internazionale, Juventus, dan Werder Bremen beserta para suporternya berkenan memberikan penghormatan terakhir pada para pemainnya tersebut. Membalas cinta dan pengabdian para pemainnya. Ada peluk hangat dari rekan-rekan setim, jajaran staf pelatih dan bahkan dari para pemain lawan. Standing ovation dari para penonton di stadion. Testimoni-testimoni dan sanjung puji dari tokoh-tokoh berbagai kalangan. Seremoni ini merupakan manifestasi rasa hormat antara klub dengan pemainnya.

Sedikit kontroversi terjadi pada momen spesial Maldini, yaitu saat pertandingan kandang terakhir AC Milan melawan AS Roma. Segelintir Ultras yang berada di Curva Sud mengirim pesan penghinaan dalam beberapa wujud. Bentangan spanduk yang bersandingan dengan kaos raksasa bernomor punggung 6 (merujuk pada libero legendaris dan simbol abadi Milan, Franco Baresi) dan teriakan kurang empatik "There's only one captain, captain Baresi". Suatu perilaku yang disesalkan oleh Baresi sendiri.

Panggung perpisahan atau pertandingan terakhir memang tidak selalu indah. Zinedine Zidane dan Final Piala Dunia 2006 adalah fakta gamblangnya. Namun, insiden tandukan ke dada Marco Materazzi yang berbuah kartu merah dan kalahnya Prancis dari Italia tak pernah sedikit pun mengurangi kebesaran nama Zidane. Pun dengan Paolo Maldini, kekalahan dari AS Roma dan hinaan Ultras sama sekali tidak menciderai ketokohannya sebagai salah satu bintang paling bersinar yang pernah dimiliki Milan. Maldini tak hanya legenda bagi Milan atau Gli Azzurri tapi juga legenda bagi sepak bola itu sendiri.

Loyal dan Kontributif. Sederet bintang kawakan yang harus surut, rata-rata menjalani masa edar yang lama pada klub yang memberikan mereka seremoni perpisahan, kecuali Figo yang hanya memiliki masa bakti 4 tahun di Internazionale. Yang paling lama adalah Paolo Maldini yang mengabdi selama 24 tahun (1985-2009) di Milan. Pengabdian hampir seperempat abad ini, 13 tahun diantaranya dengan menjabat sebagai kapten Milan dan telah menghasilkan setidaknya 26 trophy bergengsi. Bersama Milan dan Gli Azzurri, Maldini telah menjalani lebih dari seribu pertandingan. Rinciannya adalah 901 untuk Milan di berbagai ajang dan 126 bagi Gli Azzurri. Bukti akan loyalitas dan kontribusi teknik maupun non-teknik yang sulit untuk dibantah. Arrivederci Paolo Cesare Maldini.

Kemudian pengabdian panjang lainnya juga dilakukan oleh Sami Hyypia di Liverpool, dan Frank Baumann di Werder Bremen. Keduanya melakoni waktu pengabdian 10 tahun dengan berbagai hal yang identik yaitu sama-sama memulainya dari tahun 1999 untuk kemudian mengakhirinya pada tahun 2009. Yang kemudian berbeda adalah, Hyypia meneruskan karir sepak bolanya di Bayer Leverkusen sedangkan Baumann memilih pensiun untuk kemudian mengisi staf kepelatihan sebagai asisten manajer di klubnya. Keduanya juga menjadi kapten bagi klubnya masing-masing. Mereka juga ikut andil pada gelar-gelar yang diperoleh klubnya, Hyypia menyumbang 10 trophy dan Baumann menghasilkan 4 trophy. Hyypia dengan segala kontribusinya kemudian termasuk dalam daftar 100 Players Who Shook The Kop, yaitu kumpulan pemain yang dipilih suporter Liverpool dari seluruh dunia karena dianggap memberi pengaruh besar pada prestasi Liverpool sejak 1892. Seperti laiknya Maldini, mereka tak sekadar tempelan melainkan bagian integral dalam pasang surut prestasi klub yang mereka bela. Kiitos Sami, Danke Baumann.

Kisah tentang kesetiaan juga terjadi pada Pavel Nedved yang menghabiskan 8 tahun karirnya di kota Torino. Rentang waktu dari tahun 2001 hingga 2009, Nedved meraih berbagai kesuksesan pun mengecap pahitnya terdegradasi ke Serie B bersama Juventus. Di saat banyak rekan satu timnya pindah klub karena tak sudi bermain di Serie B, Nedved justru mengabaikan berbagai tawaran menggiurkan dari klub lain dan memilih untuk ikut berjuang dengan klub yang terjerat skandal calciopoli itu. Selain mengangkat kembali ke Serie A dengan menjuarai Serie B, tercatat 2 scudetti dan 2 Supercoppa Italiana menjadi bukti sumbangsihnya yang lain. Bahkan gelar personal prestisius Ballon d’Or (2003) diraih saat menjadi bagian skuad The Old Lady. Dan tak tak ada keraguan lagi bahwa Nedved adalah salah satu pilar penting Juventus era post-Zidane. Setara namun sedikit berbeda di durasi waktu, terjadi pada kiprah Figo di Inter. Meski terhitung pendek hanya empat tahun (2005-2009), namun kehadirannya telah menambah kualitas teknik dan menyuntikkan mental juara pada skuad Nerrazzurri. Sejak kedatangannya, Internazionale empat tahun beruntun menyabet scudetto ditambah satu Coppa Italia dan tiga Supercoppa Italiana. Nedved dan Figo mungkin berkarir layaknya bohemian, pengelana yang selalu berpindah tempat. Namun dalam setiap persinggahannya adalah dedikasi dan pengabdian sepenuh hati.

Elaborasi atau uraian yang panjang lebar di atas mengerucut pada kesimpulan tentang adanya gabungan beberapa faktor yang menyebabkan sosok-sosok tersebut layak mendapatkan standing ovation, kesempatan melakukan lap of honour dan berbagai penghormatan lainnya. Profesionalisme yang kental berpadu dengan ketrampilan olah bola yang mumpuni untuk mendongkrak kualitas teknik tim yang berjuang meraih kemenangan demi kemenangan di lapangan. Kemudian loyalitas yang kukuh dengan kecakapan untuk menjadi pemimpin di dalam dan di luar lapangan untuk membangun situasi yang kondusif dalam klub. Dan kemampuan untuk menjalin relasi yang hangat dengan para fansnya melengkapi karakter seorang bintang yang layak dihormati. Singkatnya, kapasitas legenda mencuat ketika seorang pemain mampu menjalin hubungan yang sinergis dengan elemen Holy Trinity lainnya (manager dan suporter).

Ajang perpisahan dan penghormatan tak selalu dalam wujud pertandingan resmi. Pertandingan perpisahan bagi person yang dihormati tersebut kerap direncanakan dengan matang dan diorganisir secara rapi. Jauh sebelumnya pernah kita dengar Aldair Day. Pertandingan yang bersifat kasual dengan mengumpulkan berbagai bintang lawas (umumnya mantan rekan setim) dengan pemain klub terkini lainnya, dan didedikasikan untuk Aldair Nascimento dos Santos yang telah mendarmabaktikan segenap kemampuannya pada AS Roma selama kurun waktu 13 tahun (1990-2003). Dan juga laga-laga testimonial serupa lainnya sebagai tanda perpisahan dan penghormatan, seperti Sinisa Farewell dan lain-lain. Menggantung atau mengistirahatkan nomor punggung menjadi bentuk lain penghargaan itu. Diantaranya yaitu no. 6 untuk Bobby Moore (West Ham), Franco Baresi (AC Milan) dan Aldair (AS Roma), lalu no. 10 untuk Diego Armando Maradona (Napoli), Roberto Baggio (Brescia), dan Pele (New York Cosmos), juga no. 3 untuk Giacinto Facchetti (Internazionale), sedangkan Ajax mengistirahatkan no. 14 untuk legendanya, Johan Crujff.

Ingatan Pendek. Pengetahuan bahwa kehormatan dan penghormatan tidak pernah diraih dengan cara yang mudah harusnya mengilhami seluruh elemen sepak bola nasional, khususnya para pemain. Menjadi seorang professional tulen yang senantiasa mengusung totalitas pada setiap kinerja, komitmen pada loyalitas, dan cinta pada seluruh unsur klub dari manajemen, suporter hingga pengurus bagian yang terkesan remeh temeh. Semua nilai ideal ini muncul dalam wujud keberanian menampik lambaian uang yang lebih banyak dari klub lain dan memilih tetap setia dengan klubnya. Fokus pada tercapainya stabilitas permainan saat memperkuat klubnya hingga menuai banyak prestasi yang membanggakan. Kemampuan untuk berempati dan menghargai sepenuh hati dukungan suporternya yang militan dpun dengan kinerja official yang berperan dibalik layar.

Mungkinkah suatu waktu nanti, pemain-pemain kita seperti Bambang Pamungkas (Persija), Eduard Ivakdalam (Persipura), Eka Ramdhani (Persib), Boaz Solossa (Persipura), Syamsul Chaerudin (PSM), Evaldo Silva (Persijap) dan pemain-pemain yang menjadi simbol klub karena kesetiaan dan dedikasinya pada klub juga mendapatkan seremoni perpisahan dari klub-klubnya sebagai simbol penghargaan? Kesetiaan dan dedikasi dari pemain di satu sisi saja tidak cukup dan hanya akan bertepuk sebelah tangan apabila tidak dibarengi kemauan dan kemampuan dari klub dan suporter di sisi yang lain untuk menghargai balik jasa-jasa besar para pemainnya. Rasa hormat dan terima kasih itu mensyaratkan sifat resiprok.

Merupakan keniscayaan bahwa prestasi tinggi dan kebesaran klub pun dihidupi dari peluh keringat pemain-pemainnya dan loyalitas dukungan suporternya. Namun banyak klub yang tidak peduli akan kenyataaan ini. Menurut seorang pejabat di negeri ini, sebagian besar kita dihinggapi ingatan pendek (short memory loss), lupa pada suatu kejadian penting yang belum lama berlalu, segera lupa pada kesalahan yang diperbuatnya, dan lupa pada jasa kawan seiring dan partner kerja. Ingatan pendek ini pada akhirnya melahirkan (dan atau dilahirkan) sikap lalai dan abai serta kegagalan mengambil hikmah dari setiap pelajaran.

Begitu pula dengan kebanyakan pegiat sepak bola nasional. Berbagai keributan antar pemain di lapangan, kerusuhan antar suporter, meninggalnya pemain di lapangan dan tewasnya suporter, kekacauan pelaksanaan kompetisi, dan kegagalan demi kegagalan meraih prestasi menguap begitu saja. Sesuatu yang biasa ketika pemain cidera berat justru diputus kontraknya oleh klub alih-alih dirawat dan dibesarkan semangatnya untuk segera pulih. Pemain dan pelatih yang begitu besar kontribusinya segera saja menjadi anonim saat masa bakti mereka purna.

Teladan baik dari pihak lain tidak menjadi kontemplasi, kekurangan yang dimiliki tidak berbuah mawas diri.

Absurditas (Proposal) PSSI

Oleh: Aji Wibowo


Calon host World Cup 2018 and 2022 (bbc.co.uk)

Sungguh tak dinyana, ternyata blog Bangun Suporter ini mengalami pakum dan rumpang selama lebih dari setengah tahun. Ada banyak sebab dan alibi yang melatari terjadinya kekosongan kontribusi ini. Yang pertama, keprihatinan teramat dalam yang nyaris menuju pada sikap ignoransi seorang suporter akibat bertaburnya harum-scarum di ranah sepak bola nasional. Prestasi membanggakan belum kunjung tiba sedang permasalahan demi permasalahan justru silih berganti datang menyambangi tiada henti. Perubahan dan revolusi PSSI menjadi sekadar utopia, setiap kritik dan bahkan himbauan dari figur kuat seperti wakil presiden, menteri pemuda dan olahraga, ketua umum KONI pun hanya menjadi angin lalu. Perubahan telah menjadi sebuah tulisan kosong dan hening tak terdengar seperti pada posting Revolusia PSSI. Yang kedua, bergabung dengan BIGREDS (Bold Indonesian Group of Reds Supporters), wadah resmi penggemar klub Liverpool FC di Indonesia, sebagai membernya. Selain sebagai partisipasi untuk menyumbang sesuatu yang lebih nyata, membuka lebih luas cakrawala, menggali ilmunya, mereguk pengalamannya, dan menyerap inspirasinya. Juga sebagai katup pengaman akan potensi mentoknya sumbangsih sebagai suporter sepak bola nasional.

Hingga akhirnya, di sebuah siang yang mendung, kabar sensasional Indonesia (baca PSSI) yang resmi melayangkan proposal mengikuti proses bidding untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022 ke FIFA seperti menjadi petirnya. Kabar yang dilansir di berbagai media baik cetak maupun elektronik nasional ini segera menjadi kembang berita diantara berita-berita sepak bola dan olah raga nasional lainnya. Tanggapan yang diberikan pun relatif beragam, ada yang mengapresiasi dengan baik dan mendukung namun tak sedikit yang memandang skeptis.

Melihat tim nasional kita tampil dan bertanding di ajang paling prestisius sepak bola dunia adalah mimpi yang luar biasa indah dan cita-cita terbesar bagi sebagian rakyat negeri ini. Ada dua jalur yang mungkin ditempuh oleh suatu negara untuk sampai di panggung termegah sepak bola dunia. Pertama, jalur kualifikasi yaitu sebagai salah satu tim yang lolos kualifikasi dari suatu zona tertentu. Untuk mendapatkan tiket dengan jalur kualifikasi ini diperlukan tim yang kompetitif dan berpenampilan konsisten agar sanggup meraup poin sebanyak-banyaknya baik saat kandang maupun tandang. Faktanya, Indonesia yang berada di zona kualifikasi Asia belum memiliki tim yang berkemampuan mumpuni sehingga sulit untuk bersaing dengan tim-tim negara lain di benua Asia. Kekuatan mapan seperti Korea Selatan, Arab Saudi dan Jepang yang menjadi langganan tetap Piala Dunia dari Asia ditambah dengan tim kuat lainnya macam Iran, China, Qatar, dan juara Piala Asia termutakhir, Irak, sudah susah untuk dilawan. Dan masih disesaki dengan bermunculannya kekuatan-kekuatan baru nan hebat akibat pecahnya Uni Sovyet seperti Uzbekistan dan mergernya tim dari zona kualifikasi Oceania, Australia. Bahkan di kawasan Asia Tenggara, tim nasional kita lebih sering tercecer dibelakang kompetitor lainnya yaitu Thailand, Singapura dan Vietnam. Sehingga (setidaknya sampai jelang Piala Dunia 2010) data yang terpapar adalah deretan kegagalan tim nasional kita di ajang Pra-Piala Dunia (PPD).

Sedangkan jalur kedua adalah dengan menjadi tuan rumah alias penyelenggara. Dengan menjadi tuan rumah selain stadion-stadionnya dijadikan venue pertandingan maka privilege lainnya berupa lolos otomatis bagi tim nasionalnya. Sedangkan proses yang harus ditempuh untuk menjadi host kurang lebih berupa tahapan-tahapan seperti ini: pengajuan proposal ke FIFA, lolos verifikasi, kampanye dan bersaing meyakinkan anggota-anggota FIFA dengan negara-negara kandidat lain dan pengumuman.

Bisa jadi bagi sebagian orang, untuk konteks Indonesia, jalur menjadi tuan rumah tampak terlihat lebih masuk akal dari pada mengadu tim nasional kita di jalur kualifikasi. Namun hakekatnya justru terdapat lebih banyak kerumitan dan membutuhkan dana yang lebih besar. Kerumitannya bisa berupa dukungan yang tidak bulat dari seluruh masyarakat sepak bola nasional. Tidak sedikit masyarakat sepak bola nasional yang merasa bahwa ide menjadi tuan rumah Piala Dunia ini kurang tulus dan penuh kepentingan. Kerumitan lainnya berupa alur birokrasi yang bakal berliku untuk mendapat restu dan dukungan dari pemerintah. Mulai dari jenjang Keputusan Menteri Pemuda dan Olahraga, berlanjut pada pembahasan proposal di sidang kabinet, kemudian Keputusan Presiden dan masih harus di paparkan lagi di DPR. Dengan syarat infrastruktur yang harus memenuhi standar penyelenggaraan pertandingan tingkat dunia maka proyek ini memerlukan dana yang sangat besar mencermati belum dipunyainya stadion yang layak. Belum lagi sarana dan prasarana pendukung lainnya yang masih minim.

Namun terlepas dari segala kompleksitas jalan menjadi penyelenggara Piala Dunia, negara ini pun sebenarnya tidak memiliki “skuad” federasi sepak bola yang kompeten. Tak aneh apabila banyak yang menganggap langkah PSSI ini sebagai sesuatu yang absurdus. Sungguh tak terlintas dalam bayangan bahwa tuan rumah Piala Dunia 2022 akan diorganisasi oleh federasi sepak bola yang tidak konsisten dengan aturan yang diputuskannya sendiri, yang gagal menyelenggarakan liga domestiknya sesuai jadwalnya, yang gemar tawar-menawar sanksi, yang mengabaikan pembinaan usia dini, dan yang ketua umumnya tidak diakui oleh FIFA karena pasal kriminal.

Dan seandainya benar bahwa niat bersaing untuk menjadi penyelenggara itu di pilih atas pertimbangan agar tim nasional kita mendapat gratis tampil di Piala Dunia maka akan semakin mengkonfirmasi dan mengafirmasi budaya instan insan sepak bola kita. Sebagai wujud dari pikiran sempit pentolan PSSI Alih-alih menjadi magnum opus alias sebuah karya puncak atau prestasi terbesar yang dicapai seorang Nurdin Halid dan pengurus PSSI lainnya malah menjadi sebuah absurditas.

Alangkah lebih baiknya apabila PSSI (baca: pengurusnya) terlebih dahulu meluruskan kembali niat dan komitmennya untuk memajukan sepak bola nasional, memberesi organisasinya dan sistemnya, memikirkan klub-klub yang hendak bangkrut akibat memaksakan ikut liga berbiaya tinggi itu. Memberi perhatian dan penghargaan yang layak bagi kelompok-kelompok suporter yang setia mengkampanyekan suporter yang tertib, kreatif dan simpatik serta membina dengan sanksi yang mendidik bagi suporter yang masih gemar berbuat onar.