Nurdin Turun! Revolusi PSSI!

, , 3 comments
courtesy to Naif Al'as (@naivee)

Kekalahan selalu memberi efek melemahkan bagi pihak-pihak yang mengalami, salah satu nya adalah saya sebagai suporter. Segala-galanya menjadi tidak normal dan agak tidak terkendali. Salah satunya urusan tidur meski purna pertandingan tim nasional terhitung belum begitu malam masih cukup waktu untuk menghilangkan galau. Sayangnya usaha yang sia-sia, kantuk seperti enggan menghampiri dan biasanya kalau seperti ini sanggup tahan melek hingga siang kembali datang. Namun justru ada hikmah yang hadir dari situasi seperti itu. Tubuh dan pikiran yang masih terjaga meminta penyaluran. Kebetulan ada tulisan yang mangkrak yang awalnya mau dibagi dengan teman suporter. Yak dimulai.


Jumat sore itu setelah lepas dari kantuk yang biasa menyengat, datang pesan pendek yang dikirimkan oleh teman saya, Ahmad Syakib. Dia mengabarkan bahwa pertemuan dengan Zen Rahmat Sugito yang sedianya akan dilakukan malam itu ditunda dulu. Tentu saja ada sedikit perasaan kecewa karena pada dasarnya saya menginginkan pertemuan dan perkenalan dengan Zen yang oleh Syakib diceritakan mempunyai pengetahuan yang banyak tentang buku, seorang suporter tim nasional Indonesia yang banyak menulis. Beberapa tulisannya sudah saya baca, baik yang ada di blognya atau tersebar di berbagai situs lainnya. Sungguh tulisan-tulisan yang apik, sungguh orang yang ingin saya temui. Namun kemudian muncul perasaan prihatin demi mendapati kabar lanjutan bahwa sebab tertundanya pertemuan ini karena Zen mesti mendampingi temannya, Iqbal Prakara, ke kantor polisi. Menurut informasi Syakib dan Arista Budiyono, Iqbal dianiaya satgas PSSI setelah memprotes sistem penjualan tiket. Ironisnya, selain dianiaya dia juga diteriaki calo oleh para preman Nurdin tersebut.

Kenyataan yang tak bisa dibantah bahwa sistem penjualan tiket untuk final leg kedua memang kisruh, sangat amburadul. Metode baru yang diterapkan LOC gagal membawa perbaikan. Alih-alih calon pembeli nyaman dan mudah yang kemudian terjadi adalah semakin ribet dan menyiksa. Antrean semakin mengular memanjang, namun animo besar masyarakat ini pada akhirnya lebih banyak berujung pada kekecewaan dan kemarahan. Akibat bebal permanen, PSSI tak menggubris saran Polda Metro Jaya agar penjualan tiket final disebar di beberapa wilayah. Ini dimaksudkan untuk mengurangi potensi kerusuhan dibanding jika penjualan dilakukan di satu titik. Puluhan ribu tiket yang masih berwujud kupon tersebut lenyap begitu cepat sebelum separuh antrean terlayani. Pengumuman panitia juga tidak menjangkau mayoritas pengantri karena ketiadaan pengeras suara. Wajar para pengantri tiket lalu marah dan mulai merusak. Mereka berada dalam situasi kerumunan (crowd) dan dikecewakan.

Meminjam sebuah teori dari Gustave Le Bon, filsuf Prancis, ketika seseorang berada di tengah kerumunan maka nalar dan akal sehatnya akan berada di bawah rata-rata kondisi normal. Ini artinya, ketika berada di tengah kerumunan orang banyak, seseorang mengalami deindividuasi yaitu menyusutnya kesadaran diri yang selanjutnya mengurangi kendali-diri (self-restraint) seseorang sehingga akan sangat mudah untuk dipengaruhi dan terpancing untuk bertindak di luar kemauannya sendiri alias spontan. Dalam kondisi seperti ini, mobilisasi dan komando dari seseorang dalam situasi kerumunan akan sangat mudah diikuti massa. Para anggota dewan yang katanya terhormat saja bisa chaos kalau sedang berkerumun. Nah, apalagi para pengantri tiket ini yang dalam keadaan lelah, lapar dan frustasi. Hal-hal bodoh seperti merobek bendera Merah-putih, dan merusak fasilitas stadion menjadi seakan benar dalam pandangan mereka.

Selama beberapa hari kita disuguhi pemandangan kisruh ini. Sedang antrian dari hari ke hari semakin panjang. Yang gagal mendapat tiket kategori sebelumnya akan ikut mengantri lagi, berjuang mendapatkan tiket. Korban pun akhirnya berjatuhan. Ini adalah dampak dari aktivitas mengantri yang berjam-jam lamanya dalam kondisi lapar haus, kehujanan, kepanasan, desak-desakkan dan tawuran. Belum lagi yang datang dari luar kota. Seorang teman bahkan memulai antrian untuk tiket kategori 3 hari minggu sejak hari sabtu sore alias kurang lebih 20 jam mengantri!

Tak usah heran dengan fenomena seperti ini. Pemikir Inggris yang masyhur bernama Sir Aldous Huxley, pernah meramalkan bahwa yang menindas masyarakat dunia bukan para penguasa lalim melainkan hasrat terhadap hiburan, orang modern terpenjara dan tenggelam dalam hasratnya untuk menghibur diri. Kini, seiring perubahan sosial yang begitu cepat sepak bola adalah sebuah bentuk pertunjukan sebagai wahana untuk melayani hasrat yang terus bertambah tanpa batas tersebut dan untuk memenuhi rasa haus terhadap ritus sosial yaitu ritus kepuasan yang tidak dapat dilakukan sendirian. Sepak bola adalah agama, a neo-religious form of devotion.

Banyak penonton datang ke stadion tidak sekadar untuk menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola semata tetapi datang untuk mengalami event; untuk ambil bagian dalam sebuah kejadian kolektif. Ketika suporter hadir mengikuti jalannya pertandingan tidak hanya untuk melihat bola bergulir dari kaki ke kaki, tetapi mereka melihat wujud kompetisi dan konflik antara dua tim dengan hasrat yang besar akan kemenangan dan kehormatan. Pada dasarnya mereka melihat sebuah perjuangan, sebuah kejadian layaknya drama yang kadang heroik, tragis sekaligus dramatis. Akhir pertandingan tidak hanya berisi derai tawa tetapi juga cucuran air mata dari penonton dan suporternya.

Sekarang, kita sudah dibuat menderita untuk sekadar bisa ambil bagian dalam ritus akbar. Sedang selama ini kita pun sudah dibuat tak leluasa menikmati saat mendapatkan kesempatan itu. Hak-hak kita berekspresi dan memberikan dukungan dalam wujud spanduk dan poster dilarang. Selama penyelenggaraan, sejumlah orang telah direkrut dengan tugas menyapu segala spanduk dan poster milik para penonton apapun isinya. PSSI dan panitia tak hanya gagal memfasilitasi dengan baik sebuah ritus akbar para pemuja sepak bola tetapi juga merusak acaranya. Ini adalah kegagalan yang semakin menyempurnakan kesalahan dan ketidakbecusan PSSI rezim Nurdin. Niccolò Machiavelli pernah berujar bahwa tiada hal yang lebih sulit dilaksanakan, lebih sukar dijamin keberhasilannya, lebih berbahaya untuk ditangani ketimbang memulai tatanan baru. Menurunkan Nurdin dan merevolusi PSSI memang terbukti sebuah jalan terjal tapi bukannya tidak bisa dilalui. Sudah banyak yang merintis dan membuka jalan. Pun sangat banyak yang konsisten meniti jalan ini. Sekarang semua berpulang pada kita, layaknya di sebuah ajang pertandingan, hendak menjadi penonton belaka atau menjadi suporter?

Ah sial! Ternyata hari sudah siang, sore malah. Tidur yang panjang dan mimpi pula. Namun Nurdin turun dan revolusi PSSI yakinlah bukan sekadar mimpi. Saya kicaukan kembali mantra dari Napoleon Hill, "You can do it if you believe you can!"

3 comments:

jojo mengatakan...

supporter harus bersatu mereformasi sepakbola Indonesia. Salah satu jalannya, revolusi via dunia maya..

Aji Wibowo mengatakan...

Setuju, mulai dari kita dulu. Saling mengingatkan untuk lebih tertib, sportif dan terus memelihara sikap kritis pada segala penyelewengan.

Anonim mengatakan...

kok tidak ada tulisan mas aji tentang LPI?
saya ingin tau tanggapan mas aji, setuju atau tidak dengan adanya LPI?
lalu menurut mas aji bagaimana dengan kepengurusan PSSI sekarang? pantaskah mereka direformasi?

hope someday we can chit chat again ya..

anonim